Dendam Sang Aquarius

Dendam Sang Aquarius
Bab 8 Draco yang bikin gregetan


__ADS_3

Sekarang hampir setiap hari, Draco tak pernah menunggu Calandra untuk turun dari kelas untuk menuju ke kantin sekolah mereka.


Kini setiap kali bel istirahat telah berbunyi, dengan sigap Draco menyeret Hakim naik ke lantai empat gedung sekolah mereka untuk menemui Calandra dan Raline di balkon depan kelas keduanya. Lalu kemudian mereka berempat akan jalan secara bersamaan turun kenuju kantin sekolah. Begitu pun dengan hari ini, mereka melakukan hal itu layaknya sebuah rutinitas yang sudah terjadi di bawah alam sadar mereka berempat.


“Jadi, si Draco udah nembak si Calandra belum lin?“ tanya Hakim sambil berbisik saat keduanya menuruni anak tangga gedung.


“Beberapa hari lalu gue udah nanya ke si Calandra sih, tapi dia bilang Draco belum ngomong apa-apa ke dia,” jawab Raline setengah berbisik juga.


“Itu anak, biasanya sat set sat set banget. Kenapa sekarang jadi lamban banget pergerakannya. Tumben banget,” tukas Hakim.


“Nah, iya kan. Gue juga bingung sama si Draco sekarang. Lama banget bergetaknya, ngga kayak dia yang biasanya.” Raline ikut gregetan.


“Iya. Biasanya dia selalu ngga mikir panjang dan ngga mau tuh kalah atau sampe dia keduluan sama orang lain,” ujar Hakim yang tahu betul sifat sahabatnya itu.


“Apa mungkin karena dia merasa kalo si Calandra udah suka sama dia jadi santai aja dia?“ Raline mulai berasumsi.


“Nah, kalau emang dia udah tahu si Calandra suka sama dia kenapa malah nunda?“ Hakim kebingungan.


“Bener juga sih lo kim,” timpal Raline sambil berusaha menemukan jawaban.


“Coba deh lo ngomong sama si Calandra, lin. Suruh dia yang desek si Draco buat nyatain perasaannya. Sumpah geretan nih gue lama-lama.“


“Wah lo ngaco banget sih kim. Masa di Calandra yang harus bergerak agresif?!“


“Lah emang kenapa? Kita hidup di era modern. Lo tahu kan emansipasi wanita,” tukas Hakim.


“Emansipasi, emansipasi mata lo. Jangan ngaco deh lo kim, kalo soal kayak gini emansipasi ngga bisa dipake,” balas Raline kesal.

__ADS_1


“Terus gimana dong? Gue udah gregetan banget ama mereka sumpah,” ujar Hakim.


“Lo dong! Coba lo yang desek tuh temen lo biar buru-buru ngomong ke si Calandra. Jangan ngga gentle gitu. Masa nungguin cewe yang ambil inisiatif duluan,” Raline mulai menggerutu.


“Kan si Draco bukan cuma temen gue tapi juga temen lo. Emang lupa lo lin?” balas Hakim sengit.


Ketika kedua sahabat itu sedang sengit beradu argumen, Draco dan Calandra justru tengah menikmati debaran di dada mereka masing-masing. Saling melepar tatapan dan senyuman. Senyuman yang sedari tadi menghiasi wajah keduanya sejak bertemu di pagi hari hingga harus dipisahkan bunyi bel pertama kali.


Mungkin senyuman memang menjadi salah satu tanda paling terlihat dari mereka yang sedang mengalami serangan jatuh cinta. Bahkan senyuman itu seolah tak bisa mereka tahan sama sekali, terbentuk begitu saja di wajah mereka.


Dalam pandangan mereka berdua, saat ini dunia memiliki warna yang berbeda. Semua nampak jadi jauh begitu lebih berwarna tanpa warna-warna suram melekat.


Namun entah apa yang selama ditunggu oleh Draco hingga dia tak langsung menyatakan perasaan sukanya kepada Calandra. Namun juga bagi Calandra sangat sulit memilih jadi orang pertama yang menyatakan perasaannya atau bahkan hanya sekedar menanyakan perasaan Draco terhadapnya, karena baginya perempuan adalah mahluk yang harus memiliki harga diri yang cukup tinggi sebagai seseorang yang diminta, bukan meminta.


Ketika jam istirahat telah usai, mereka kembali menanjak anak tangga gedung sekolah untuk kembali ke kelas masing-masing. Formasi mereka masih tetap sama, Draco dan Calandra berjalan di depan sementara Hakim dan Raline jalan berdua mengekor di belakang Draco dan Calandra.


“Gue ke kelas lo dulu ajah lah,” jawab Draco dengan santai.


“Eh ngga usah. Bel masuk udah bunyi co. Nanti lo telat masuk kelas,” tukas Calandra setengah khawatir walau setengah lagi memang ingin juga ditemani Draco sampai ke kelasnya di lantai empat.


“Iya co. Ribet banget lo, naik dulu ke lantai empat terus lo nanti kudu turun lagi ke sini,” timpal Raline.


“Ngga apa-apa lin. Gue sama Hakim ngga masalah kok. Iya khan kim?” Draco melirik sahabatnya.


“Lo mungkin ngga masalah co, tapi kalau gue sih masalah. Lo lupa kalau abis ini yang masuk ibu Kartika,” celetuk Hakim yang khawatir jika salah satu guru killer itu sudah duduk di kursi guru saat ini.


“Ya elah kim. Lo takut banget sih sama bu Kartika!" Draco dengan nada meremehkan guru yang satu itu.

__ADS_1


serta meremehkan kekhawatiran sahabatnya itu.


“Emangnya kamu berani dengan saya Draco?“ pertanyan itu membuat Draco mematung untuk beberapa detik. Bahkan Hakim, Raline dan Calandra ikut berdetup kencang jantungnya.


Ibu Kartika, guru bidang study Kimia berdiri tepat di belakang Draco yang menutupi sebagian akses tangga menuju lantai satu.


Draco membalik badannya sedikit dan langsung berhadapan muka dengan bu Kartika yang sedang menenteng buku paket Kimia yang cukup tebal dan berat.


“Eh ibu kartika,” ujar Draco dengan wajah pucat dan suara yang sedikit bergetar namun tetap berusaha untuk menguasai dirinya. Apalagi di sana ada Calandra, Draco harus terlihat hebat.


“Iya, saya. Kenapa?“ balas ibu Kartika dingin.


Baik Hakim, Raline dan Calandra yang melihat kehadiran ibu Kartika memilih untuk mengambil langkah seribu menuju kelas mereka masing-masing.


“Si Draco ngga apa-apa ditinggal gitu?“ tanya Calandra khawatir sambil setengah berlari menaiki anak tangga menuju ke lantai kelasnya.


“Kalo lo mau temenin dia diomelin bu Kartika, silahkan aja Cal. Tapi kalau gue mah ngga mau, takut gue sama bu Kartika,” jawab Raline setelah mereka berdua telah sampai di lantai empat gedung sekolah mereka.


“Tapi kasihan lin. Sendirian dia di sana ngadepin bu Kartika.“


"Salah si Draco sih. Sok-sokan ngomong gitu soal bu Kartika."


"Kalau dia tahu ada bu Kartika, nga mungkin dia berani ngomong kayak gitu sih lin, pasti."


“Lo kan juga tahu kalau bu kartika seremnya kayak apa. Lagian kita juga masih ada pelajaran habis ini, masa kita diomelin dua guru sekaligus. Udah sih sekarang cari aman sendiri-sendiri aja dulu,” balas Raline sambil tertawa kecil.


Walau sebenarnya Calandra juga takut dengan bu Kartika namun tak bisa dipungkiri dia merasa khawatir dan kasihan pada Draco yang kemungkinan besar akan dimarahi oleh bu Kartika habis-habisan.

__ADS_1


__ADS_2