Dendam Sang Aquarius

Dendam Sang Aquarius
bab 18. Calandra dan Draco sekelas


__ADS_3

Saat Calandra memasuki kelas barunya sesuai jurusan yang dia inginkan, seisi kelas itu riuh bergemuruh membuat tak hanya Calandra, namun bu Devi dan bu Lilis juga ikut kaget.


Saat itu Calandra mengangkat sedikit kepalanya dan akhirnya dia menyadari apa yang menjadi alasan kelas itu ramai seketika. Di bagian belakang kelas itu tenyata duduk Draco sambil menatap tajam ke arah Calandra yang masih berdiri di depan kelas diantara bu Devi dan bu Lilis. Tatapan yang tak pernah Calandar lihat selama hampir dua tahun berhubungan dengan kaki-laki itu.


“Oh kamu jadi pindah jurusan Cal?“ tanya bu Devi yang kegiatan mengajarnya terhenti karena kedatangan bu Lilis dan Calandra.


Calandra menjawab pertanyaan bu Devi dengan anggukan kepala.


“Baru pagi ini di approve sama kepala sekolah, bu. 'Kan bu Devi juga tahu kalau sebenarnya banyak guru yang menentang keputusan perpindahan jurusan Calandra ini,” ujar bu Lilis.


“Tapi memang kita ngga bisa sih ya bu memaksa keputusan anak,” balas bu Devi.


“Tapi saya harus jujur kalau saya sebenarnya tim yang menolak keputusan ini,” tergambar kekecewaan bu Lilis melalalui nada bicaranya.


“Saya mengerti perasaan bu Lilis. Walau kita sama-sama guru di jurusan IPS tapi tentu kita ingin anak-anak menemukan jurusan yang paling cocok dengan dirinya sendiri,” walau sebenarnya du Devi merasa kecewa juga tapi dia tak ingin mematahkan semangat belajar Calandra.


“Kalau begitu saya pamit bu Devi. Saya serahkan Calandra kelas ini,” ucap bu Lilis lalu kemudian keluar kelas.


“Calandra. Silahkan kamu cari tempat duduk kosong ya. Kita akan mulai pelajarannya lagi,” ucap bu Devi.


Kelas 3 IPS 1 kembali riuh. Semua siswa menganggap kedatangan Calandra ke kelas mereka adalah karena ingin berdekatan terus dengan Draco walau Calandra sendiri tak menyangka akan sekelas dengan kekasihnya itu.


Namun sebagian siswa yang lain menganggap kepindahan Calandra ke kelas mereka adalah sebuah berkah tersendiri. Tanpa mereka bayangkan sebelumnya, akhirnya mereka bisa sekelas dengan siswa telandan di sekolah ini. Mereka yakin bahwa kelas mereka akan terangkat namanya karena keberadaan Calandra di situ.


Seorang temannya yang duduk di kursi paling belakang bangkit dan menduduki kursi kosong di depannya. Dengan begitu, mau tidak mau Calandra duduk bersebelahan meja dengan Draco.

__ADS_1


Namun di sana, Calandra melihat ketidak nyamanan dari gerakan tubuh Draco. Namun dia pura-pura tak melihatnya dan sebisa mungkin tak berkomunikasi dengan Draco selama jam pelajaran sekolah.


Setelah Calandra duduk, kelas itu kembali riuh membuat kegaduhan khas. Melihat itu bu Devi memerintahkan semua siswa untuk kembali tenang dan kembali belajar seperti sebelumnya.


Mata pelajaran ke dua telah usai juga hari ini. Bel panjang menandakan waktu istriahat sudah tiba. Kelas baru Calandra dan Draco tak kalah berisiknya saat berhamburan keluar kelas.


“Si Calandra kenapa ngga ada di kelasnya?“ tanya Raline yang sebagian tubuhnya masih di luar kelas.


“Ini si Calandra udah ada di kelasnya si Draco,” Hakim memberikan informasi.


“Eh, kok udah di sini aja lo, Cal. Gimana tadi pelajaran pak Tri?“ tanya Raline dan duduk di sebelah Calandra.


“Eh tunggu. Kenapa tas lo ada di sini Cal?“ Raline mengenali tas Calandra yang berada si atas meja dihadapnnya.


Nia yang sedari tadi menahan diri tiba-tiba saja masuk ke kelas 3 IPS 1 dan berkata dengan marah, “Kenapa lo harus pindah jurusan? Apa lo ngga tahu, gue aja harus mati-matian supaya bisa masuk jurusan IPA. Lo yang masuk jurusan IPA sambil merem malah menyia-nyiakan kesempatan.“


“Lo kenapa Nia?“ tanya Raline yang kebingungan.


“Gue lagi marah sama si Calandra,” teriaknya.


“Kenapa lo karah sama si Calandra? Itu keputusan dia, kenapa jadi lo yang ngga bisa terima?“ balas Hakim.


“Lo pasri bakal nyesel Cal, karena udah lebih mentingin cinta lo sama Draco dan menyia-nyiakan kesempatan buat jadi orang sukses,” ucap Nia sambil berlalu.


“Dih apaan sih maksud lo. Emang lo pikir anak-anak IPS ngga bakal sukses. Niaaa….“ Raline berteriak-teriak merasa tak senang dengan ucapan Nia. Namun Draco dan Hakim dapat menahannya.

__ADS_1


“Udah, ngga usah lo denegrin apa yang dibilang si Nia,” ujar Draco begitu Raline sudah bisa menguasai dirinya.


“Apaan sih tuh si Nia. Mulutnyanya suka ngga bisa dikontrol. Sok paling pinter, kayak yakin banget bakal sukses nantinya dia,” Raline masih dikuasai amarahnya namun Calandra masih terus mengipasinya berharap amarahnya segera reda.


“Lo bener pindah ke sini, Cal?“ Hakim berusaha memastikan.


Calandra mengangguk pelan tanda membenarkan apa yang dipikirkan oleh Hakim.


“Kenapa?“ tanya Raline.


“Ya biar bisa terus deket sama Draco lah. Masa gitu aja kalian ngga ngerti,” celetuk salah satu sisa di kelas itu.


“Ngga. Ngga kayak gitu, sumpah. Gue emang minta nyokap buat pindahin jurusan gue sama guru-guru tapi gue ngga berharap sekelas sama Draco,” buru-buru Calandra meluruskan keadaan dan situasi.


“Terus apa alasan kamu pindah jurusan?“ tanya Draco ikut penasaran.


Calandra menundukan kepalanya dan berkata, “Kalian bertiga tahu bener, apa yang menjadi alasannya.“


“Padahal 'kan gue sama Raline bisa bantu lo Cal,” ujar Hakim.


“Pak Tri aja ngga bisa bantu gue, bagaimana kalian bisa bantu gue?!” Calandra mengucapkan kata-kata itu sambil menangis, tak kuat menahan rasa kecewa pada dirinya sendiri.


Mendengar perkataan Calandra itu, Raline pun mendekat ke Calandra lalu memeluknya, “Ngga apa-apa Cal. Semua akan baik-baik aja.“


Hakim dan Draco pun ikut memeluk Calandra yang kini tangisnya semakin keras.

__ADS_1


__ADS_2