
Hari ini, setelah tiga hari lamanya Draco absen dari sekolah akhirnya dia kembali masuk dengan lesu dan tak bergairah, tak seperti seperti biasanya.
Calandra yang awalnya begitu bahagia melihat Draco, kekasihnya yang akhirnya kembali masuk ke sekolah berubah ikut menjadi lesu setelah melihat Draco dari jarak dekat. Dia masih belum mengerti kenapa Draco sebegitu tak bersemangat hari ini.
“Kamu dari mana aja? Kok ngga masuk-masuk, co?“ Calandra masih berusaha untuk tampak riang saat itu.
“Emangnya si Hakim ngga kasih tau?“ tanya Draco ketus.
“Oh itu. Kata Hakim, kamu sakit, pas dia ke rumah kamu tempo hari.“
“Nah itu kamu udah tahu. Ngapain pake tanya lagi sih,” lagi-lagi Draco menjawab dengan ketus membuat Calandra makin kebingungan dan jadi tak bersemangat untuk bertanya lagi.
Jam pelajaran pun di mulai. Draco yang semula duduk di meja sebelah Calandra kini menggeser posisi duduknya menjadi sedikit menjauh dari kekasihnya itu.
Calandra memang merasa aneh dan juga sedih namun dia tak mungkin mendebat Draco dalam waktu yang bersamaan dengan kegiatan belajar mengajar saat ini. Calandra sadar bahwa akan terjadi kehebohan tak berarti bila dia tak berusaha menahan dirinya.
Hingga akhirnya jam istirahat yang sudah sangat ditunggu-tunggu Calandra akhirnya tiba juga. Calandra yang baru saja akan menghampiri Draco justru dibuat terkejut karena mendapati Draco yang bangkit dari duduknya dan meninggalkan kelas tanpa pemberitahuan apa pun pada Calandra.
Calandra kaget juga melihat perlakuan dari Draco itu namun dia tak bisa menahan langkah kaki kekasihnya itu. Dengan lemas Calandra kembali ke tempat duduknya dan meletakan tubuhnya dengan malas.
Tak lama kemudian Hakim dan Raline datang ke dalam kelas 3 IPS 1 dan langsung duduk di dekat Calandra yang masih duduk termenung.
“Si Draco ngga masuk lagi hari ini, Cal?“ tanya Hakim sembari melihat ke arah meja Draco.
“Dia masuk hari ini,” jawab Calandra lesu.
“Terus dia dimana sekarang?“ kini Raline yang bertanya.
“Ngga tahu gue juga. Mungkin ke kantin,” jawab Calandra dengan wajah yang dinaungi awan gelap.
Raline dan Hakim saling melempar pandangan. Mereka berdua tentu merasa kaget dengan sikap Draco kali ini. Sudah menjadi sebuah kebiasaan bagi Draco jika Dia memiliki masalah, mereka berdua adalah tempat paling awal untuk pelarian bagi Draco. Namun kali ini Draco justru secara terang-terangan menarik diri dari mereka berdua.
“Lin… apa lebih baik gue putus aja ya dari Draco?“ tiba-tiba saja Calandra melontarkan pertanyaan yang membuat Raline dan Hakim kaget.
__ADS_1
“Lhi, emang kenapa Cal?“ tanya Hakim.
“Masa begitu aja lo mau putus, Cal?! Namanya juga anak cowok, mungkin lagi dateng sikap nakalnya jadi pengen cobain rasanya bolos“ timpal Raline, walau dia sendiri tahu bahwa itu bukan sebuah kebiasaan bagi Draco yang walau pun bukan tergolong siswa briliant tapi Draco bukan orang yang tertarik dengan bolos dari sekolah.
“Bukan soal yang ini aja lin,” balas Calandra.
Walau Hakim dan Raline sudah tahu masalah apa yang sedang terjadi diantara Calandra dan Draco, namun mereka lebih memilih berpura-pura tak mengetahuinya. Mereka masih percaya bahwa Draco betul-betul mencintai Calandra, satu-satunya perempuan yang bisa membuat Draco akhirnya merasakan jatuh cinta lagi setelah memilih seorang diri selama beberapa waktu.
“Kim… Draco sering pergi ke SMA Bintang Gemilang… “ suara Calandra semakin mengecil tapi Raline dan Hakim masih takut untuk bersikap.
“Draco balikan sama Irma.“
Raline dan Hakim benar-benar kaget mendengar penjelas dari Calandra itu, karena walau pun mereka tahu bahwa Draco akhir-akhir ini sedang dekat dengan Irma, namun mereka tak mengira kalau Draco dan Irma kembali menjalin hubungan romantis.
“Lo yakin Cal?“ tanya Raline.
“Dia sendiri yang bilang ke gue,” suara Calandra masih lemah.
“Dia bilang gimana?“ tanya Hakim.
“Terus… “ Raline menagih cerita selanjutnya dari Calandra.
“Gue tanya kebenaran beritanya pada Draco dan Draco seakan membenarkan keadaannya itu,” jawab Calandra.
“Dia jawab 'iya' atau masih samar?“ tanya Hakim.
“Dia memang tak menjawab dengan gamblang tapi aku tahu dia memang sedang berselingkuh dari gue. Terlebih lagi hari ini, denga terang-terangan Draco menghindar dari gue,” keceriaam telah hilang cari wajah Calandra.
“Cal… “ ujar Raline.
“Gue mencintai dia. Dan rasanya sakit banget pas dia begini,” ujar Calandra.
Hakim bangkitbdari duduknya berusaha untuk mencari Draco. Namun belim sempat Hakim keluar dari kelas, Draco sudah kembali dengan wajah yang begitu tegang.
__ADS_1
“Lo kenapa co?“ tanya Hakim dengan nada tinggi.
“Gue? Gue ngga apa-apa,” balas Draco enteng dan melewati Hakim begitu saja.
“Lo jangan ginilah co. Udah cukup gue kasih lo waktu buat mikir. Gue tunggu malah ngga ada sadarnya lo.“
Hakim menarik tangan Draco dengan kasar hingga membuat Draco hampir saja terjungkal.
“Apa-apaan sih lo kim,” bentak Draco seraya mearik tangannya dari Hakim.
Calandra dan Raline kaget mendengar suara Draco yang meninggi, bahkan itu membuat Calandra bergidik.
“Malah lo yang tanya, pake teriak pula. Bikin gue kaget aja,” protes Hakim.
“Lagian sih lo ngurusin gue?“ tanya Draco.
“Lo tuh udah berhari-hari ngga masuk sekolah. Sekarang lo juga bukan cuma menghindari Calandra tapi juga menghindari gue dan Raline,” balas Hakim.
“Gue ngga menghindari siapa pun,” Draco mengelak.
“Ngga menghindar gimana? Hari ini lo baru masuk sekolah, bahkan lo keluar kelas tanpa ngomong apa-apa sama Calandra. Dan biasanya lo pasti nemuin gue atau Hakim tapi ngga hari ini,” timpal Raline.
“Gue lagi males,” jawab Draco dengan nada tak perduli dan duduk di kursinya.
“Kamu kenapa sih co?“ tanya Calandra dengan nada sedih.
“Kamu tahu kalau aku ngga kenapa-kenapa. Kenapa pake tanya,” balas Draco.
“Apa ini semua karena Irma?“ Calandra mengangkat kepalanya dan bertanya kepada Draco.
Pertanyaan dari Calandra itu mengagetkan banyak orang termasuk Draco dan membuat perdebatan diantara keempatnya terhenti. Semua diam dan membisu.
Bel masuk kelas kembali berbunyi. Semua harus kembali ke kelasnya masing-masing, begitu pula dengan Raline dan Hakim. Mau tak mau mereka keluar dari kelas 3 IPS 1 itu dengan pertanyaan yang belum terjawab dan menyisakan rasa penasaran yang teramat di hati mereka.
__ADS_1
Calandra pun yang memang berada dalam kelas yang sama dengan Draco juga tak bisa memaksa Darco untuk menjawab pertanyaannya barusan karena guru mata pelajaran mereka sudah datang dan dengan cepat memulai pelajaran.