Dendam Sang Aquarius

Dendam Sang Aquarius
Bab 43. Keputusan Calandra


__ADS_3

Hujan deras di luar kamar Calandra membuat pikirannya menjadi sedikit lebih tenang, dibantu alunan merdu alam.


Hatinya mendadak bimbang, memikirkan jawaban untuk pertanyaan san pernyataan dari Birawa.


Harusnya pertanyaan itu mudah untuk dijawab oleh Calandra, namun entah kenapa saat ini dia justru tak bisa memberi jawaban “Tidak” pada Birawa seolah calandra merasa rugi jika kehilangan Birawa dalam hidupnya.


Birawa, sosok laki-laki pintar yang mampu membuatnya merasa kembali hidup. Bersama Birawa, Calandra jadi lebih sering tertawa dan merasakan kembali detakan jantungnya dengan rasa yang nyaman dan menyenangkan.


Secara Fisik pun Birawa mampu memukau mata Calandra. Kulit sawo matang dan tinggi badan seratus delapan puluh centimeter serta dada yang bidang membuatnya terlihat begitu gagah. Hidungnya yang mancung tak berlebihan, mata bulat yang begitu tajam serta alisnya yang tebal membuatnya terlihat tampan di mata Calandra.


Belum lagi dandanannya yang begitu trendy serta tatanan rambut yang rapih juga menambah nilai plus pada Birawa. Di tambah wangi khas tubuhnya yang begitu melekat di hidung dan ingatan Calandra.


Rasanya akan sulit bagi Calandra untuk melepaskan kesempatannya bisa bersama dengan laki-laki yang juga cukup tersohor seantero kampus mereka.


Namun di sisi lain, Calandra sadar betul dia masih menjalin sebuah hubungan yang sudah lebih dari tiga tahun bersama Draco, laki-laki yang sudah membersamainya sejak awal Sekolah Menenagah Atas.


Hingga Calandra teringat pengkhianatan yang dilakukan oleh Draco beberapa waktu lalu. Bagaimana Draco dulu membuat hari-harinya penuh dengan kesengsaraan dan penantian yang amat panjang.


Calandra masih ingat betul bagaimana Draco dulu mengabaikannya walau pun dia sudah mengusahakan segala yang baik untuk Draco. Dan hanya karena dia masih penasaran dengan kisah masa lalunya dia tak memperdulikan persaan Calandra.


Mendadak bara dendam di dalam dadanya kembali memercikan api kemarahan dan kesakit hatian yang membuat dadanya terasa sesak.


“Bagaimana mungkin gue masih mempertimbangkan perasaan Draco sementara dulu dia pernah hampir menghancurkan cita-citaku,” ujar Calandra dalam hati.


Berbarengan dengan perkataan dalam hatinya itu, sebuah kilat terlihat dan petir menggelegar membuat dirinya sendiri kaget.


Sebuah pesan kemudian masuk ke dalam ponselnya, pesan dari laki-laki yang sedang dia pikirkan.

__ADS_1


“Kamu bener ngga akan pernah balas dendam sama aku kan Cal?“


Bagaimana mungkin, tiap kali Calandra mulai memikirkan perselingkuhannya dengan Birawa, Draco selalu mengiriminya pesan teks yang sama.


Calandra sempat bingung dan berpikir, apakah mungkin Draco sebenarnya mengetahui kedekatannya dengan Birawa selama ini atau hanya intuisi dari Draco yang sedang tajam.


Atau mungkim rasa bersalahnya dan rasa takutnya yang membuatnya selalu berusaha memastikan bahwa Calandra tidak akan pernah melakukan hal yang sama pada dirinya.


Namun karena itu pula, Calandra justru semakin membulatkan tekadnya kali ini.


Calandra mengambil ponselnya yang baru saja dia letakan di sambing tubuhnya dan mulai menulis sebuah pesan, “Kamu lagi apa?“


“Aku lagi di rumah. Main gitar aja,” jawab suara di sebrang telepon.


“O… “


“Ini… aku mau ngomong sama kamu,” ujar Calandra terbata.


“Mau ngomong? Ngomongin apa?“


Calandra kembali berpikir, apakah ini keputusannya yahg paling tepat atau jutru akan membuatnya merasa bersalah selamanya.


Namun ditengah Calandra berpikir, ponsel di tangannya berdering. Sebuah panggilan masuk mengaggetkannya.


Namun setelah Calandra sudah bisa menguasai diri dan menelan ludahnya dengan susah payah, akhirnya Calandra menjawab panggilan itu.


“Mau ngomong apa?“

__ADS_1


“Kenapa telepon?“ tanya Calandra.


“Habisnya kamu lama banget jawabnya, makanya aku telepon aja. Ada apa?“


Mendadak jantung Calandra berdetak kencang. Isi kepala Calandra kembali bercabang membuatnya terdiam.


“Cal…? Calandra?“


“Ih iya.“


“Lagi ngapain?“


“Ngga ngapa-ngapain.“


“Nah tadi aku tanya malah ngga jawab.“


“Eh iya, maaf.“


“Jadi kamu mau ngomong apa?“


“Oke. Aku setuju.“


“Setuju? Kamu setuju buat jadi pacar aku?“


“Iya,” jawab Calandra.


Lalu Birawa berteriak kegirangan dan Calandra bisa mendengarnya dengan jelas melalui sambungan telepon diantara mereka berdua.

__ADS_1


__ADS_2