Dendam Sang Aquarius

Dendam Sang Aquarius
bab 27. Sebuah Plottwis


__ADS_3

Kata-kata Calandra kepada Raline beberapa hari lalu, “Apa pun yang akan terjadi di ujung persoalan gue dan Draco ini, lo dan Hakim akan selalu jadi sahabat terbaik gue,” begitu membekas di hati Raline bahkan tanpa dia sadari kata-kata itu selalu terngiang di telinganya.


“Jadi gimana lin?“ tanya Hakim yang baru saja duduk di kursi kosong yahg ditinggal penghuninya jajan ke kantin, yang berada di depan meja Raline.


“Gue udah mutusin buat tetep bantu Calandra. Kasihan dia kim.“


“Terus kapan lo mau ke tempat Rere, udah lo putusin?“


“Gue udah dateng ke tempat si Rere, kok.“


“Hah? Kapan lo ke sana? Waktu itu katanya lo minta anterin sama gue.“


“Dua hari lalu. Kebetulan abang gue lagi ada di rumah. Nah, pas gue minta anter ke rumah Rere, eh dia mau.“


“Jangan-jangan abang lo suka sama si Rere tuh.“


“Gila, gila, gila. Kok lo bisa tahu sih, kim. Gimana caranya?“ Raline terpesona sekaligus kaget juga mendengar ucapan Hakim yang tepat.


“Padahal gue juga cuma asal ngucap sih itu,” balas Hakim yang ternyata panik karena menebak dengan tepat kali ini.


Raline yang melihat wajah panik sahabatnya itu, tertawa terbahak.


BRAK!!


“NGAPAIN LO NGIKUTIN GUE?“ teriak Draco sambil menggebrak meja yang berada di antara Hakim dan Raline.


Melihat hal itu, bukan hanya Raline dan Hakim yang kaget tapi juga seisi kelas.


“Lo lagi ngomong sama siapa co?“ tanya Hakim berusaha tetap tenang.


“Ngga usah pura-pura bego lo kim,” Draco masih meninggikan suaranya.


“Co, tenang dulu co,” Raline berusaha meredakan amarah Draco.


“Tenang, tenang. Temen lo nih lin. Sok-sokan main detektif-detektifan dan ngikutin gue.“


“Ngikutin lo? Ngikutin kemana maksudnya?“ Hakim rupanya masih bisa mengendalikan diri.

__ADS_1


“Lo ngikutin gue sampe ke SMA Bintang Gemilang kan?! Lo mau ngapain?“


“Kata siapa gue ke sana? Si Rere?“


“Si Rere tahu lo ke sana tempo hari?“ Draco malah balik bertanya.


“Mungkin aja dia tahu. Dia kan kenal gue karena kita pernah satu SMP.“


Mendengar jawaban Hakim itu, mendadak Draco berhenti berbicara dan seolah sedang memikirkan sesuatu.


“Draco, kamu ngapain di sini?“ Calandra menerobos barisan siswa yang ingin tahu apa yang sedang terjadi di kelas 3 IPA 2 itu.


Draco menatap tajam ke arah Calandra lalu melemparkan tatapan tajam itu ke Hakim sambil berkata lagi, “Lo tahu semua kekacauan ini karena siapa?“


Hakim yang mendapatkan pertanyaan zemacam itu dari Draco tentu saja jadi bingung dan tak bisa menemukan jawaba dari pertanyaan itu.


“Siapa?“ tanya Raline yang penasaran.


“Sofi.“


“Sofi? Kenapa lo bawa-bawa Sofi ke urusan lo dan Calandra?“ tanya Hakim makin bingung.


“Sofi, pacar lo itu yang udah bilang ke Calandra soal pertemuan gue, dia dan Irma. Padahal waktu kita berdua ketemu, lo tebak dia sama siapa…”


Hakim yang mendengar ucapan Draco itu terdiam, menundukan kepalanya tak berani menatap mata Draco.


“Pacar lo yang sok-soakan membongkar perselingkuhan gue, lagi jalan sama selingkuhannya.“


Hakim membulatkan mata sambil masih menundukan kepalanya.


“Kalau emang kamu yang selingkuh, ya udah akh ngga apa-apa. Tapi jangan jadi nuduh semua orang kayak kamu co,” ujar Calandra.


“Kok nuduh sih. Kalian coba aja tanya sama Sofinya, bener ngga hari itu dia jalan sama selingkuhannya.“


“Draco lo tahu dari mana kalau itu selingkuhannya Sofi? Bisa aja itu saudaranya.“ Raline yang melihat kepalan tangan yang dibuat oleh Hakim berusaha mencarikan alasan yang bisa membuat Hakim meredakan emosinya.


Draco tiba-tiba terbahak dan berkata lagi. “jelas bue tahu, soalnya Sofi sendiri yang bilang sama gue. Gue juga yang akhirnya nyaranin buat bikin kesepakatan supaya gue dan dia bisa saling jaga rahasia ini. Eh tahunya dia bocorin ini dan bikin semua berantakan.“

__ADS_1


“Bukan! Bukan Sofi yang bikin hubungan kita berantakan. Semua ini kamu yang bikin berantakan,” balas Calandra.


“Kamu ngga ngerti Cal,” jawab Draco.


Hakim yang sedari tadi hanya diam sambil menundukan kepala, kini dengan langkah penuh amarah beranjak menuju kelas 3 IPS 3.


Pergerakan Hakim membuat gerombolan siswa yang tadi berkumpul di kelas 3 IPA 2 kini ikut bergerak mengikuti langkah kaki Hakim.


Calandra dan Raline yang tahu bakal ada keributan berikutnya juga langsung mengikuti gerombolan itu. Yang benar saja berhenti di kelas 3 IPS 3, kelas dimana Sofi berada. Dengan ausah payah Calandra dan Raline menerobos para siswa untuk bisa menenangkan Hakim.


“Bener apa yang dibilang Draco?“


“Apaan sih beb? Kok dateng-dateng marah gitu?!“


Sofi begitu kaget melihat Hakim yang marah, ditambah dengan segerombolan siswa yang memadati pintu masuk kelas sambil memang ke arahnya.


“Draco bilang kamu selingkuh dari aku, bener?“


“Ih, kok Draco ngomong gitu!? Bohong beb,” Sofi menjawab.


Raline dan Calandra yang mendengar jawaban dari Sofi itu cukup kaget tapi juga merasa bahagia, karena ternyata tuduhan itu tidak benar.


“Masa? Coba sini ngomongnya di depan gue.“


Mendengar kapimat itu terucap dari Draco, Sofi terlihat amat kikuk membuat Hakim semakin lecaya dengan perkataan Draco.


Yang awalnya Raline dan Calandra sudah merasa tenang kini kembali ikut merasa khawatir.


“Aku bisa jelasin beb. Ini tuh salah paham,” Sofi masih berusaha meyakinkan Hakim yang sudah tak ingin lagi mendengar penjelasan apa pun lagi.


“Ngga usah jelasin apa pun. Mulai saat ini juga, kamu sama aku udah selesai. Kita putus!“


Berkali-kali Hakim mengibarkan tangannya, berusaha untuk tak tersentuh oleh Sofi. Perempuan yang begitu dikaguminya selama ini. Yang dia pilih sebagai kekasih bukan hanya karena parasnya yang memang cantik tapi juga cara bersikapnya yang lemah lembut dan tak pernah meributkan serta melarang jika Hakim menghabiskan waktu bersama ketiga sahabatnya.


Namun hari ini, Sofi membuat hatinya hancur. Mungkin sama hancurnya dengan hati Calandra selama beberapa hari belakangan ini. Namun bukan hanya hati Hakim yang dibuat hancur oleh Sofi tapi juga harga diri dan egonya ikut porak poranda.


Dua kejadian yang menghebohkan di angkatan mereka ini pada akhirnya diketahui oleh guru dan pihak sekolah. Calandra, Draco, Hakim, Raline dan Sofi dipanggil ke ruang pembinaan untuk diwawancarai dan akhirnya masing-masing mereka mendapatkan skors dan dilarang masuk sekolah selama tiga hari.

__ADS_1


Entah bagaima dengan keempat ornag yang lain, namun untuk Calandra skors selama tiga hari adalah hal yang sangat menakutkan. Tiga hari yang seharusnya bisa dia habiskan dengan menambah ilmu selama pengayaan akan dia habiskan tanpa mendapatkan ilmu yang serarusnya bisa dia gunakan untuk menambal sulam ilmu untuk dia mengejar universitas impiannya.


__ADS_2