Dendam Sang Aquarius

Dendam Sang Aquarius
Bab 35. Segala hal tentang Ririn untuk Birawa


__ADS_3

Sepertinya Birawa bukan jenis laki-laki yang gampang menyerah. Dia selalu menunggu kelas Calandra selesai dan berdiri di depan pintu kelas.


Senyuman selalu diperlihatkan oleh Birawa setiap kali dia bertemu dengan Calandra, selayaknya anak kecil yang mendapatkan mainannya.


“Kantin yuk!“ ajak Birawa.


“Setengah jam lagi gue ada kelas.“


“Kita ke kantin lho, bukan mau ke mall.“


“Ya udah, tapi lo traktir gue ya.“


“Beli apa aja, gue yang bayarin asal—”


“Asal gue ceritain semua hal tentang Ririn,” sela Calandra.


Birawa semakin melebarkan senyumannya dan berkata, “Pantes lo bisa masuk sini, ternyata lo pinter.“


“Iya dong. Gue mah pinter, masuk sini juga beasiswa,” Calandra membanggakan dirinya.


“Serius? Lo masuk sini jalur beasiswa?“ Birawa cukup kaget.


“Serius dong. Emang muka gue ngga mendukung ya buat sebuah pengakuan kalau gue pinter?“


“Ya bukan begitu juga. Tapi gue kagum aja kalau ada orang bisa masuk sini karena beasiswa.“


“Beasiswa full lagi,” tambah Calandra diselimuti rasa bangga pada dirinya sendiri.


Birawa sempat terdiam sebentar saking kaget dan kagumnya pada Calandra.


“Berarti kapan-kapan lo bisa bantu gue dong ya di beberapa mata kuliah?!“


“Gila, banyak banget mau lo, Bir. Udah nanya-nanya soal Ririn mulu, sekarang minta bantuin mata kuliah pula. Ngga bimbingan aja sekalian sama gue,” Calandra terbahak.


Birawa pun ikut terbahak mendengar ucapan Calandra itu.


“Gue udah ngga punya cerita soal Ririn nih,” ujar Calandra saat minuman pesanannya sudah diantarkan.


“Ah masa sih?“


“Udah hampir tiga minggu lo nanya soal Ririn, tiap hari pula bir. Mana gue ngga deket-deket amat sama si Ririn. Habislah stok info gue,” gerutu Calandra.

__ADS_1


“Yah… berarti ini pertemuan terakhir kita dong,” ujar Birawa dengan wajah kecewa.


“Apaan sih lo!? Udah kayak mau pergi perang aja lo,” ledek Calandra.


“Tiga minggu ini asyik banget, Cal. Tiap hari kayak seneng aja gue kalau ketemu sama lo.“


“Gimana ngga seneng, tiap hari lo dapet info soal Ririn, cewe yang emang udah lo taksir dari jaman SMP dari gue ini. Jelas senenglah kalau lo ketemu sama gue, info gue mahal itu Bir,” canda Calandra.


“Sekarang aja gue lagi bingung nih malah.“


“Apa lagi yang lo bingunging coba Birawa? Alamat Ririn udah gue kasih, nomer hp dia juga udah. Kampus dan jurusan dia di Malang, tanggal lahir, makanan minuman kesukaan dia, warna, film, jenis musik, pokonya semua yang jadi kesukaan dia. Ya ampun udah semua kayaknya gue bocorin yang bue tahu soal Ririn ke lo. Lo tuh tinggal samperin si Ririn terus tembak dia deh,” ujar Calandra.


“Bener juga sih. Tapi bukan itu yang gue bingungin,” balas Birawa.


“Terus apa dong? Kalau gue lihat-lihat lo itu ganteng, badan tinggi berisi dan kayaknya ada otot-otot menonjol di balik lengan baju lo walau ngga gede-gede amat tapi cukuplah bikin lo kelihatan tambah gagah, kulit lo juga sawo mateng khas cowo indonesia. Plus lo pinter pula, gue rasa Ririn susah buat nolak lo,” Calandra berusaha memberi pandangan.


“Menurut lo apa gue tipe cowo yang ngga bakal di tolak cowo?“ tanya Birawa.


“Menurut gue sih gitu ya. Lo punya senyum manis yang bisa bikin jantung cewe degdegan, gue juga denger lo punya banyak fans di angkatan kita.“


“Denger dari siapa lo?“


“Bukan gue kayaknya yang mereka maksud,” Birawa berusaha mengelak.


“Kasih tahu gue, berapa banyak Birawa di jurusan Teknik dan Manajemen Lingkungan di angkatan kita?“ desak Calandra dan Birawa hanya bisa terdiam berpura-pura berpikir dan menghitung.


“Berapa?“ tanya Calandra lagi.


Birawa mengangkat tanganya serta jari telunjuknya, “Cuma satu.“


“Nah apa gue bilang. Mereka tuh pada ngomongin lo.“


“Cantik-cantik ngga yangngomongin gue?“


Calandra mendekatkan wajahnya ke arah Birawa dan berbisik, “Lo tahu Febby? Bunganya kampus kita di angkatan kita?“


“Febby? Anak Fisika bukan nih maksud lo, Cal?“ Birawa berusaha memastikan.


“Nah lo tahu itu. Siapa sih ya yang ngga kenal si Febby itu. Kayaknya satu angkatan di atas kita juga ngga ada yang setara cantiknya sama dia,” ujar Calandra mengagumi.


“Kenapa emangnya sama si Febby itu?“ sisi penasaran Birawa terusik juga.

__ADS_1


“Nah, dia itu salah satu penggemar lo.“ Kali ini suara Calandra kembali mengecil, membuat seolah ucapannya adalah sebuah rahasia yang tak ada orang lain yang boleh mengetahui hak tersebut.


“Ah masa? Ngaco lo ah,” balas Birawa seakan tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Calandra.


“Ya itu terserah lo aja sih mau percaya apa ngga percaya sama ucapan gue tadi. Yapi menurut gue ini juga bisa jadi sekalian bahan pertimbangan buat lo, masih mau ngejar Ririn yang jauh di Malang atau ama Febby aja yang jelas-jelas ada di sini, deket.“


“Kalau menurut lo gimana, Cal?“ Birawa menanyakan pendapat Calandra dengan serius.


“Gimana apanya? Ririn atau Febby?“


“Iya.“


“Tergantung selera lo. Tapi menurut gue mereka apple to apple sih. Sama-sama cantik, sama-sama lemah lembut, sama-sama popular, sama-sama pinter juga. Cuma beda di jarak aja.“


“Wah kacau kalau gitu?“


Calandra mengerutkan dahinya dan bertanya, “Apanya yang kacau?“


“Gue jadi makin bingung milihnya.“


“Ririn itu jauh dan lo sendiri belum tahu apa dia mau atau ngga sama lo tapi kalau Febby udah jelas suka sama lo, deket pula.“


“Iya yah… “


“Jadi siapa yang bakal lo pilih nih Bir?“ suara Calandra kembali mengecil, membuat hal ini terasa sangat misterius.


“Lho kok, lo jadi kepo sih Cal,” ucap Birawa lalu terbahak dengan puas.


“Ish rese banget lo, Bir. Lagian cuma ngasih tahu aja pelit amat,” gerutu Calandra sambil memakan nasi goreng yang dia pesan bersamaan dengan minuman yang sudah terlebih dahulu samapi di mejanya.


“Eh tahu ngga?! Tapi mereka pada takut deketin lo, bir.“


Kali ini Birawa yang mengerutkan dahinya dan bertanya, “Kok takut? Kenapa emangnya?“


“Sebagian besar dari mereka pikir kalau lo udah punya pacar di sini, di kampus ini. Ish, mereka ngga tahu aja kalau lo aja lagi mati-matian ngejar cewe yang berada jauh di Malang sana. Boro-boro lo punya pacar. Iya kan?!“


Birawa tersenyum lebar mendengar mendengar perkataan Calandra itu dan menganggukam kepalanya tanda setuju dengan pernyataan Calandra tersebut.


“Eh tapi bener kan ya, lo belum punya pacar kan ya Bir?“ Calandra menghentikan makannya dan berusaha memvalidasi info itu.


Birawa menyeruput es kopi susunya lalu tersenyum ke arah Calandra dan melemparkan sebuah pertanyaan, “Kalau menurut lo, gimana?“

__ADS_1


__ADS_2