Dendam Sang Aquarius

Dendam Sang Aquarius
bab 41. KAMU??


__ADS_3

“Ada kelas lagi ngga habis ini?“ tanya Birawa pada Calandra.


“Ngga, udah beres. Cuma dua kelas.“


“Ya udah kalau gitu kita pulang yuk?!“ ajak Birawa.


Karena Draco akan menjemputnya, makan Calandra berusaha menolak ajakan dari Birawa itu.


“Duluan aja gih.“


“Kenapa emangnya kalau sekarang ? Sekarang aja sih yuk,” Birawa mendesak.


“Em…”


“Hayu sekarang aja. Aku anter sampe rumah kamu.“


Calandra terkejut mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Birawa. Seolah tak memeprcayai telinganya sendiri.


“Kok malah bengong? Ayo aku anter pulang.“


Masih setengah tak percaya, Calandra justru membiarkan Birawa menarik tangannya dan membawanya ke motor milik Birawa.


“Ayo naik,” perintah Birawa.


“Bener ini, lo mau anter gue pulang?“ tanya Calandra.


“Iya, bener. AKU mau anter KAMU pulang,” Birawa menekan nada di beberapa kata.


Calandra semakin kaget dan mulai bertanya pada dirinya sendiri kenapa seolah Birawa ingin dia menyadari kata-kata itu.


“Jangan bengong terus. Ayo cepet naik.“


Calandra pun mengikuti instruksi Birawa dan segera naik ke atas motor. Setelah memastikan Calandra sudah menggunakan helm yang diberikannya, Birawa langsung menarik gas motornya dan berjalan menuju rumah Calandra.


Kali ini Calandra benar-benar tak kuasa menahan getar di dadanya. Di sepanjang perjalanan matanya sering kali terpejam, menikmati debaran di dadanya.


Namun kemudian dia terihgat bahwa dia belum menghubungi Draco dan dengan segera dia merogoh tas, nerusaha mencari ponselnya.


Segera dia mengirimi Draco pesan singkat.


“Kamu nanti ngga usah jemput aku di kampus ya. Aku udah pulang duluan, soalnya pwrut aku sakit.“


Setelah memastikan pesan itu sudah terkirim, Calandra memasukan kembali ponselnya ke dalam tas.


“Ngapain Cal?“ tanya Birawa.


“Apa? Oh, tadi temen aku kirim chat.“


“Oh aku pikir ngapain grasak grusuk.“


Calandra memyadari sedang berbohong pada dua orang sekaligus namun kali ini dia merasa tak perduli. Dia sadar bahwa dia melakukan kesalahan tapi dia kesampingkan rasa bersalahnya dan memilih menjadi orang jahat dalam versinya sendiri.


“Mau temenin aku makan dulu?“ tiba-tiba Birawa menawarkan.


“Emang mau makan apa?“


“Kamu mau makan apa?“ tanya Birawa.


“Makan bakso mau?“


“Ngga. Aku ngga suka,” jelas sekali Birawa adalah jenis manusia tegas yang jika tak suka dia akan terus terang mengatakannya.


“Terus makan apa dong?“ tiba-tiba tanpa sungkan Calandra merengek.


“Kita makan masakan padanga aja, gimana?“ Birawa mengusulkan.


“Berat amat menu makannya,” protes Calandra.


“Lho. Ini udah siang lho, emang udah jamnya makan siang. Masa ngga makan berat.“

__ADS_1


“Iya sih, tapi ngga nasi padang juga.“


“Kenapa ngga?“


“Porsinya lho. Ngeri…”


Birawa terbahak, “Nggalah. Kalau makan di tempat, porsinya ngga sebanyak kalau dibungkus.“


“Masa?“


“Ketahuan nih, kamu ngga pernah makan nasi padang langsung di tempatnya,” Birawa kembali terbahak.


Tentu aja perkataan Birawa itu membuat Calandra malu. Tapi benar juga apa kata Birawa, selama ini memang Calandra tak pernah makan masakan padang di tempat. Dia selalu membeli dan memakannya di rumah bersama keluarganya.


“Gimana, mau apa ngga?“ tanya Birawa.


“Tapi lo yang traktir ya?“


“Iya dong. AKU yang ngajakin pasti AKU yang traktir kamu makan,” balas Birawa.


Setelah mencapai sepakat, akhirnya Birawa membelokkan motornya dan berhenti di sebuan tumah makan padang yang cukup terkenal.


“Kita makan di sini?“ tanya Calandra.


“Iya,” jawab Birawa sambil menuntun Calandra masuk ke dalam rumah makan itu.


Pintu otomatis terbuka saat mereka masuk ke dalam. Ruangan rumah makan ini pun berhawa dingin karena memakain pendingin udara.


Mereka memilih meja yang berada di dekat jendela yang memperlihatkan taman belakang rumah makan itu.


Tak lama berselang, dua orang pelayan datang membawa berbagai macam lauk yang disajikan dalam piring-piring kecil yang mereka bawa bersusun.


“Kita kan belum pesan apa-apa,” bisik Calandra pada Birawa.


“Emang belum.“


“Kok mereka udah bawain? Mana banyak banget lagi, ngga habis-habis,” ujar Calandra yang kebingungan melihat pelayan itu kembali datang membawa lauk yang lain.


“Silahkan menikmati,” ujar pelayan itu.


“Tenang. Makan aja apa yang mau kamu makan,” ujar Birawa.


“Nah terus ini makanan sebanyak ini, ngapain ditaruh di sini?“


“Biar kita bisa milih. Mau makan yang mana tinggal ambil.“


“Kita harus bayar semua?“


“Kan tadi aku bilang, kita bisa pilih mau makan yang mana. Nah yang kita bayar yang kita makan.“


“Oh begitu. Di tempat aku biasa beli nasi padang ngga kayak gini,” ujar Calandra.


“Emang beda-beda sih pelayanannya.“


“Oh… “


“Ya udah ayo kita makan. Aku udah lapar.“


Calandra mulai melihat-lihat setiap lauk yang ada di dalam piring-piring kecil yang tersusun di atas meja makan itu.


“Ini apa Bir?“ tanya Calandra sambil menunjuk sebuah piring kecil dekat Birawa.


“Itu? Gulai otak.“


“Ihh… otak apa?“


“Otak monyet.“


Mendengar jawaban Birawa itu, raut wajah Calandra berubah menjadi raut wajah jijik dan takut. Ekspresi yang ditunjukan Calandra membuat Birawa terbahak.

__ADS_1


“Bohong Cal. Itu otak sapi,” ujar Birawa.


“Wah ngaco banget sih. Gue pikir bener otak monyet.“


“KAMU mau?“


“Ngga. Terima kasih,” jawab Calandra sambil menggerakan tangannya.


“Ambil yang kamu mau ya. Jangan colek-colek yang lain.“


“Emang kenapa?“


“Setiap yahg kita colek harus kita bayar, walau ngga kita makan.“


“Walau kuta ngga makan?“ Calandra berusaha megakinkan pendengarannya.


“Iya.“


“Emang mereka tahu kalau kita colek makanannya?“


“Ya tahu lah.“


“Gimana caranya mereka bisa tahu?“


“Em… aku juga ga tahu sih. Tapi aku udah pernah coba sama temen aku, eh ternyata mereka tahu kalau makanannya udah dicolek.“


“Waahhh.. keren banget mereka,” ujar Calandra sambil melirik ke arah para pelayan.


“Kamu mau coba juga?“


“Ngga ah.“


“Ya udah kalau gitu kamu makan.“


Calandra pun kembali melirik deretan lauk yahg ada di depannya. Lalu akhirnya polihannya jatuh pada paru goreng yang berada tak jauh dari kursinya.


“Bir, kalau makan di sini emang ngga ada kuahnya ya?“


“Kuah? Maksudnya bumbu-bumbuan itu?“


“Iya. Kayak kuah rendang sama gulai itu.“


Birawa lalu memanggil pelayan dan meminta kuah-kuahan yang diminta Calandra. Dehgan cepat pelayan itu menbawakan untuk mereka.


“Nah, udah tuh. Makan deh.“


Calandra pun akhirnya mulai menyantap hidanga yang berada di hadapannya. Dengan lahap dia menghabiskan semua komponen makanan yang berada di dalan piringnya.


“Mau nambah?“ tanya Birawa saat dia melihat piring Calandra sudah kosong.


“Ngga. Makasih banyak. Udah kenyang,” jawab Calandra.


Setelah selesai urusan pembayaran, mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka untuk pulang.


“Makasih ya Bir buat makan siang dan pengalaman barunya,” ujar Calandra saat mereka sudah sampai di depan rumah Calandra.


“Sama-sama. Kaoan-kapan lagi yuk,” balas Birawa.


“Oke!“


“Kalau gitu, aku pulang ya. Kamu istirahat deh ya.“


“Bye!“ ucap Calandra melepas kepergian Birawa.


Calandra berjalan memasuki gerbang rumahnya saat ponselnya berbunyi. Dia merogoh tas dan memeriksa ponsel itu.


“Kamu ngga akan pernah balas dendam ke aku kan?“ sebuah pesan dari Draco membuat Calandra terkejut.


Secepatnya dia kembali keluar rumah, memeriksa apakah Draco ada di sekitar rumahnya. Namun berkali-kali Calandra memeriksa, dia tak menemukan adanya Draco di sana.

__ADS_1


Calandra akhirnya memutuskan untuk kembali ke dalam rumah dengan dada yang berdebar kencang.


__ADS_2