Dendam Sang Aquarius

Dendam Sang Aquarius
Bab 32. Hasil Ujian Akhir Sekolah


__ADS_3

Semakin hari sikap Draco semakin kembali hampir seperti saat dia Calandran dulu. Tentu saja hal ini membuat Calandra menjadi amat senang. Dan Draco juga mulai untuk belajar, dibantu oleh Calandra.


Kini Calandra bisa dengan tenang berusaha menggapai impianannya untuk masuk salah satu universitas terfavorite di negeri ini.


Berlahan namun pasti, nilai Calandra kembali membaik membuat tak hanya dirinya sendiri namun juga para tenaga pengajar merasa tenang dan senang.


“Kalau ibu lihat, kamu sudah mampu menyelesaikan masalah kamu Cal,” ujar bu Devi ketika membagikan hasil uji coba ujian hari ini.


“Maksudnya bagaimana bu?“ tanya Calandra.


“Ibu tidak tahu, kemarin itu kamu menghadapi masalah apa sampai nilai kamu merosot. Bahkan bu Lilis bilang ke Ibu kalau kamu terancam keluar dari daftar siswa yang akan menerima beasiswa jika nilai kamu terus merosot,” ujar bu Devi.


Calandra mendengar itu hanya bisa tertunduk dan mengangguk pelan tanda mengerti maksud dari bu Devi, guru yang sedang duduk dihadapannya.


“Awalnya ibu juga khawatir Cal. Ibu akan menyesali dan menyalahkan diri ibu kalau kamu sampai keluar dari daftar siswa penerima beasiswa dan tidak bisa masuk ke universitas idaman kamu,” bu Devi melanjutkan.


“Maaf ya bu… “ ujar Calandra penuh rasa bersalah.


“Tapi hari ini ibu lega dan hampir hilang rasa khawatir karena semakin hari ibu perhatikan nilai-nilai kamu semakin membaik. Sepertinya kamu sudah bisa menyingkirkan hal yang selama ini mungkin membuat kamu hampir terperosok,” sambung bu Devi.


“Berkat bantuan dari ibu dan guru-guru yang lain, alhamdulillah saya bisa kembali fokus dalam mewujudkan cita-cita saya bu.“


“Syukur kalau begitu Cal. Besok atau lusa atau kapan pun nantinya, kalau kamu ada masalah atau perlu konsuling, ibu dan guru yang lain selalu ada buat kamu Cal.“


“Terima kasih banyak bu.“


Sebagai salah satu bentuk dukungan Draco pada cita-cita Calandra, kini setiap kali ada jadwal pengayaan, Draco selalu hadir tanpa absen satu kali pun.


Tentu ini membuat Calandra semakin tenang dan pada akhirnya menjadi semakin fokus belajar. Namun ternyata kehadiran Draco di setiap jadwal pengayaan tidak hanya membuat Calandra senang namun juga Hakim dan Raline pun berbahagia. Begitu juga dengan para guru yang menjadi jauh lebih tenang, setidaknya mereka bisa membantu Draco menuju hasil kelulusan yang memuaskan.


Hari-hari kini dilewati oleh Calandra dan Draco dengan penuh cinta dan kasih sayang seperti dulu lagi. Dan hasilnya, bukan hanya nilai Calandra yang naik berlahan namun juga nilai Draco yang berlahan bisa melewati nilai batas akhir nilai kelulusan di setiap uji coba ujian yang selalu diberikan oleh para tenaga pengajar setiap akhir minggu.


Hingga akhirnya seluruh siswa tingkat akhir, bertemu dengan ujian akhir sekolah yang sesungguhnya. Ujian selama tiga hari yang akan menentukan bagaimana nasib mereka ke depannya. Yang akan menentukan kelulusan mereka di tahun ini atau akan mengulang satu tahun kedepan.


“Gue grogi banget nih,” ujar Raline sambil mengenggam tangan Calandra dengan kedua tangannya.


“Tangan lo dingin banget lin,” balas Calandra saat menyadari tangan sahabatnya itu begitu dingin. Calandra menggosok tangan Raline dengan kedua tanganya berharap tangan sahabatnya itu kembali hangat.


“Gimana, udah pada siap?“ tanya Hakim.


“Ngga tahu nih. Gimana kalau ternyata gue ngga bisa?“ Raline mengutarakan kekhawatirannya.


“Bisa! Lo pasti bisa. Kita pasti bisa lin,” Hakim berusaha meyakinkan sahabatnya itu.


“Tapi kalau ngga lulus tahun ini, kita bakal ngulang satu tahun lagi,” wajah Raline terlihat menjadi semakin pucat.


“Tenang lin, tenang. Lo itu bukan orang yang bodoh, kita sama-sama tahu itu. Sekarang yang lo butuhin cuma tenang,” Calandra berusaha menenangkan Raline.

__ADS_1


Raline menghirup dalam-dalam oksigen di sekitarnya, menahannya selama tiga detik laku menghembuskannya kembali secara berlahan. Pelan-pelan tapi pasti wajah Raline kembali memerah bertanda dia sudah mulai bisa mebgendalikan dirinya.


“Ngomong-ngomong mana nih si Draco. Ujian udah mau mulai, dia belum dateng juga?!“ tanya Hakim.


“Iya. Itu anak belum kelihatan dari tadi,” sambung Raline.


“Lo ngga bareng sama dia pas berangkat?“ tanya Calandra.


“Ngga. Tapi semalam dia ke rumah gue, ambil fotocopyan modul bahasa inggris buat belajar. Apa dia kesiangan gara-gara begadang buat belajar ya!?“ Hakim berusaha mencari jawaban sendiri.


“Ini nih. Kalau belajar pake sistem kebut semalam, jadi gini,” ujar Raline.


“Gimana dong ya!? Kalau dia telat, dia bisa kehilangan nilai bahasa inggris ini. Sama aja dia bakal ngulang satu tahun kedepan,” Calandra mulai khawatir.


Bel panjang telah berbunyi, bertanda jika para siswa harus masuk ke dalam kelas dan memulai ujian akhir sekolah. Rasa khawatir Calandra semakin menjadi karena belum melihat Draco sama sekali hingga akhirnya dia melihat kekasihnya itu sedang berlari melewati lapangan sekolah dan masuk ke dalam kelas.


Ruang kelas Draco dan Calandra di ujian kali ini ternyata terpisah. Mereka menempati kelas yang berbeda membuat Calandra sedikit khawatir. Takut kalau-kalau Darco butuh bantuannya.


Namun setiap kali keluar dari kelas setelah selesai ujian, Draco selalu menunjukan wajah ceria serta puas. Bertanda dia selalu bisa menyelesaikan setiap ujian dengan baik.


Setelah menyelesaikan semua rentetan ujian yang diselengarakan oleh negara dan pihak sekolah, akhirnya mereka hanya bisa menunggu hasil dari usaha keras mereka selama beberapa bulan terakhir.


Baru kali ini, liburan selama menunggu hasik ujian terasa tidak menyenangkan bagi Calandra dan teman-temannya yang lain. Semua merasa cemas menunggu hasil ujian mereka.


Sebagian malah ada yang sudah merasa pesimis dan mempersiapkan diri untuk mengulang satu tahun lagi untuk sekolah.


“Para siswa diminta masuk ke kelas masing-masing!“ terdengar suara kepala sekolah dari pengeras suara.


Semua siswa pun mengikuti anjuran tersebut dan dengan rapi masuk ke kelas mereka masing-masing.


Sebelum sampai di kelas, Raline mengenggam tangan Calandra dan berucap, “Semoga kita lulus ya Cal.“


“Kita pasti lulus,” Calandra berusaha menenangkan dan melapangkan hati sahabatnya itu sekaligus untuk dirinya sendiri.


Draco menggenggam tangan Calandra sebelum masuk ke dalam kelas lalu keduanya duduk bersebelahan.


Tak lama kemudian bu Devi, selaku wali kelas di kelas itu pun masuk sambil membawa sejumlah amplop berwarna putih di tangannya lalu duduk dengan wajah tegang.


“Hari ini anak-anakku. Hari yang sudah kita usahakan selama beberapa bulan belakangan. Di tangan ibu ini, hasil dari kerja keras kalian,” ujar bu Devi.


Wajah bu Devi yang terlihat amat tak nyaman membuat ketegangan masih terasa di kelas itu.


Baru kali ini, kelas itu bisa sunyi tanpa suara sama sekali. Hanya detak jantung mereka sendiri yang mampu mereka dengar masing-masing.


“Hari ini, ada dua orang yang ibu sayangkan tidak lulus dari kelas kita.“


Ucapan ibu Devi membuat wajah para sisw di kekas itu pucat. Semua saling memandang, berusaha mencari tahu siapa orang yang bu Devi maksud.

__ADS_1


“Kedua orang ini kita kenal sebagai sepasang kekasih,” lanjut bu Devi.


Seisi kelas memandang ibu kepada Draco dan Calandra serta pada pasangan lain, Baihaki dan Siti yang juga menjadi sepasang kekasih di kelas itu.


Jantung Calandra terasa merosot jauh dari tempat awalnya. Dia hampir jatuh pingsan mendengar apa yang dikatakan oleh bu Devi saat itu.


Calandra merasa sudah sangat yakin dengan jawaban yang dia berikan saat ujian. Walau ada beberapa soalnya yang membuagnya sempat kewalahan namun apa mungkin akan mengantakannya pada ketidak lulusan?


Darco tak kalah paniknya. Karena bukan hanya dia tak lulus tapi juga dia membawa Calandra hancur dan menjauhkan Calandra dari cita-citanya masuk universitas impiannya.


“Sekarang ibu akan absen nama kalian. Nama yang dipanggil langsung ke depan dan ambil amplopnya. Tapi ingat, jangan dibuka dulu! Kita buka sama-sama,” ujar bu Devi.


Satu persatu nama siswa dipanggil untuk mengambil amplop yang ada di atas meja dihadapan bu Devi.


Hingga akhirnya nama Calandra dipanggil. Dengan detak jantung yang cepat dan terasa sakit, Calandra menghampiri bu Devi.


“Maafin ibu ya Cal,” ujar bu Devi dan kata-kata bu Devi ini membuat Calandra ingin menangis.


Dan setelah semua siswa sudah mendapatkan amplop dengan nama mwreka masing-masing tercetak diatasnya, bu Devi memberi aba-aba untuk para siswa untuk membuka amplop milik mereka.


Dengan rasa deg-degan yang luar biasa, Calandra membuka amplop itu ditengah sorak soarai teman-temannya yang sudah dinyatakan lulus di selembar kertas dari dalam amplop itu.


Calandra membuka amplop itu dan membuka lembaran yang terlipat rapi. Di atas kertas itu tercetak nama, nomer induk siswa dan nama sekolah. Dan akhirnya di tengah kertas itu tercetak “LULUS” membuat sorakan keluar dari mulut Cakandra tanpa dia sadari.


“AKU LULUS!!“ teriak Calandra pada Draco membuat Draco ikut senang dan langsung membuka amplop miliknya sendiri dan ternyata Draco pun dinyatakan lulus..


“Bu Devi, aku lulus,” ujar Cakandra saat menghampiri bu Devi.


Bu Devi menganggukan kepala sambil tersenyum lalu berdiri dan menepuk tangannya guna menarik perhatian seisi kelas.


“Selamat untuk kalian semua. Terima kasih atas kerja keras kalian selama ini.“


Lalu semua siswa berhampur keluar kelas guna mengekspresikan kebahagian mereka. Di lapangan sekolah, Calandra dan Draco bertemu dengan Hakim dan Raline.


“GUE LULUS! gue lulus Cal,” ujar Raline sambil melompat-lompat.


“Gue juga,” balas Calandra.


“Gue jugaaaaa….“ timpal Hakim.


“Lo gimana co?“ tanya Raline.


Hakim terdiam, tak memberi jawaban atas pertanyaan Raline. Membuat Raline dan Hakim merasa khawatir.


“Draco!! Lu lulus kan?!“ tanya Hakim.


“GUE JUGA LULUS DOOOOONNGGG!“ teriak Draco membuat sahabat-sahabatnyabyang awalnya khawatir jadi kembali berteriak berbahagia.

__ADS_1


__ADS_2