Dendam Sang Aquarius

Dendam Sang Aquarius
Bab 22. Draco yang tiba-tiba menghilang


__ADS_3

Keesokan harinya, saat Calandra masuk ke dalam kelas dia tak melihat ada tas milik Draco di atas meja milik Draco.


Begitu pun hingga saat jam masuk sudah berbunyi, belum ada tanda-tanda kedatangan Draco di dalam kelas mereka itu.


“Draco kemana ya Cal?“ tanya bu Devi saat mengabsen kehadiran siswa dan menyadari bahwa Draco tidak ada di dalam kelas.


“Maaf bu. Saya tidak tahu,” jawab Calandra karena memang dia tak mengetahui alasan mengapa Draco tak muncul di sekolah hari ini.


Jam pelajaran terasa amat lambat berjalan bagi Calandra hari ini, membuat hati Calandra semakin dipenuhi rasa gundah.


Pada akhirnya bel istirahat pertama pun telah berbunyi. Dengan tidak sabar Calandra pergi keluar kelas dan langsung menuju ke kelas Hakim.


“Hey, kok lo ke sini Cal?“ tanya Hakim yang kaget. Karena tentu ini bukan kebiasaan bagi Calandra untuk keluar dan meninggalkan kelasnya.


Karena kebiasaan mereka adalah, berkumpul di kelas 3 IPS 1, kelas Calandra dan Draco.


“Si Draco kemana ya? Dia sakit, bukan?“ Calandra memberondong Hakim dengan pertanyaan yang membuat Hakim kelagapan juga untuk menjawab.


“Eh, emang Draco ngga masuk sekolah?“ Hakim sendiri juga kaget mendengar kabar dari Calandra.


“Dia ngga kasih tahu ke lo emangnya?“ tanya Calandra.


Hakim menggelengkan kepala dan berkata, “Ngga. Dia ngga bilang apa-apa ke gue kalau hari ini dia ngga akan masuk sekolah.“


“Ternyata lo di sini Cal. Tadi gue dari kelas lo tapi ngga ada siapa-siapa. Si Draco mana?“ tanya Raline saat akhirnya masuk ke dalam kelas Hakim.


“Dia juga ngga bilang sama lo, lin kalau hari ini ngga bakal masuk sekolah?“ Hakim kaget untuk kedua kalinya.


“Si Draco ngga masuk sekolah? Masa sih?“


“Apa mungkin dia sakit ya lin,” ujar Calandra.


“Kayaknya sih ngga deh Cal. Kalau pun misalnya aja dia sakit atau izin ada keperluan pasti mamanya Draco pasti minta tolong gue buat sampein ke pihak sekolah,” jawab Raline.


“Terus dia kemana dong?“ Calandra mulai cemas. Takut terjadi apa-apa pada Draco dalam perjalanannya menuju ke sekolah tadi pagi.


“Udah… udah… coba lo tenang dulu,” ujar Hakim.


“Gimana gue bisa tenang kim. Gue takut dia kenapa-kenapa di jalan.“


“Udah ah. Pikirin yang baik-baik aja Cal,” Raline berusaha menenangkan Calandra sekaligus menenangkan dirinya sendiri.


“Tapi ini bukan kebiasaan dia kan begini,” ujar Calandra yang hatinya masih berselimut kekahawatiran.


“Tenang aja. Gue bakal coba cari tahu soal Draco nanti pas balik sekolah ya, Cal. Lo tenang aja dulu,” Hakim juga berusaha menenangkan hati Calandra.

__ADS_1


Mendengar ucapan dan janji Hakim itu, Calandra berusaha untuk tetap tenang dan menyerahkan urusan Draco kepada Hakim.


*****


Ketika jam sekolah sudah selesai, dengan cepat Hakim meninggalkan sekolah dengan motor yang dikendarai oleh dirinya. Dia berusaha bisa segera menemui Draco demi memenuhi janjinya kepada Calandra.


Hanya kurang dari satu jam, Hakim sudah sampai di depan rumah Draco dan segera menemui mamanya Draco yang sedang duduk menikmati teh hangat sambil membaca koran harian.


“Mah, Draco sakit?“ tanya Hakim begitu dia sampai ke teras rumah Draco.


“Waalaikumsalam Hakim. Ucapain salam dulu ganteng. Sakit apa maksudnya?“


“Oh, aku pikir Draco lagi sakit.“


“Kok tiba-tiba nanya begitu? Emang Draco ngga masuk sekolah hari ini?“ mama Draco mulai khawatir juga mendengar pertanyaan Hakim.


Kikuk juga Hakim menjawab pertanyaan dari mama Draco itu, “ehm…..“


TETTTT… TEETTT…


Suara klakson Draco memudarkan kekikukan Hakim dari menjawab pertanyaan dari mama Draco.


“Kok lo nyampe duluan sih kim?“ tanya Draco saat dia menuruni motor miliknya.


“Sakit? Oh iya mh, tadi aku emang sempet pusing di sekolah mah. Tapi sekarang udah baikan kok,” jawab Draco mengelak.


“Bener kamu udah ngga apa-apa nak?“ mama Draco tentu masih saja merasa sangat khawatir.


“Iya mah, bener kok. Aku ke kamar dulu ya mah sama Hakim,” dengan terburu-buru Draco menarik Hakim masuk ke dalam kamarnya.


“Ngapain sih lo pake ke sini kim?“ gerutu Draco.


“Kenapa lo ngga sekolah hari ini co?“


“Urusan gue ngga sih itu?“


“Iya sih, emang itu urusan lo tapi kasian tuh si Calandra nyariin lo tadi di sekolah. kayaknya dia khawatir banget sama lo, dia selalu kepikiran sama lo, takut lo kenapa-kenapa,” timpal Hakim.


“Biar aja sih,” jawab Draco singkat.


“Eh, kenapa begitu?“ tanya Hakim yang kebingungan dengan sikap sahabatnya itu. Bukan sebuah kebiasaan bagi Draco mengabaikan Calandra.


“Ngga apa-apa,” jawab Draco singkat sambil merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur.


“Bener lo ngga kenap-kenapa ini?“

__ADS_1


“Ngga apa-apa, bener.“


“Terus nanti, gue ngomong sama Calandra apa nih kalau dia tanya keadaan lo?“


“Ya udah sih bilang aja gue sakit hari ini, jadi ngga bisa masuk sekolah.“


“Tapi emangnya lo tadi dari mana?“


“Pergi.“


“Iya pasti lo pergi. Buktinya tadi lo ngga ada di sekolah,” desak Hakim.


“Tadi gue ke SMA Bintang Gemilang,” suara Draco terdengar mengecil.


Hakim kaget mendengar jawaban dari Draco itu, “Ngapain lo ke sana?“


“Bukan urusan lo.“


“Jangan bilang lo ke SMA Bintang Gemilang karena mau nemuin si Irma?“


Draco terdiam tak langsung menjawab pertanyaan dari Hakim itu namun sepertinya Hakim sudah mengetahui jawaban dari pertanyaanya itu.


“Jadi bener co, lo ke SMA Bintang Gemilang buat ketemu sama si Irma?“ Hakim mendesak lagi.


“Sumpah, bawel banget sih lo kim. Balik aja gih sana lo puyeng gue denger lo,” usir Draco.


Hakim tak sempet mengatakan apa pun lagi saat akhirnya Draco mendorongnya keluar dari kamar dan menutup pintu kamarnya.


“Kenapa kim?' tanya mama Draco saat keluar dari dapur sambil membawa minuman dan kudapan.


“Ngga apa-apa mah. Hakim pulang dulu ya.“


“Ini mama udah beliin cemilan lho.“


“Aku baru inget tadi diminta mama beli galon. Sebentar lagi mama pulang jadi aku harus buru-buru pulang.“


“Oh gitu. Ya sudah kalau begitu, kamu hati-hati di jalan ya kim.“


“Iya mah.“


Setelah mencium punggung tangan mama Draco, Hakim pun segera keluar dari rumah Draco dan mengendarai motornya dengan rasa kesal yang teramat.


Hakim berpikir, bagaimana mungkin Draco memperlalukannya seperti itu, padahal mereka sudah bersahabat baik bahkan sebelum Draco mengenal Irma dan Calandra. Dia merasa dikhianati oleh sahabatnya sendiri karena Draco tak jujur padanya hingga mengusirnya tanpa menjelaskan tentang keadaan yang sebenarnya.


“Awas lo Draco, gue kasih tahu Irma dan Calandra biar ribut sekalian,” gumam Hakim dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2