Dendam Sang Aquarius

Dendam Sang Aquarius
Bab 16. Kegundahan hati Calandra


__ADS_3

Draco pada akhirnya bisa meyakinkan Calandra untuk diantar pulang. Ya Calandra, wanita yang telah dipacari oleh Draco kurang lebih satu setengah tahun terakhir ini ke rumahnya dari sekolah karena mengeluh badannya terasa tidak enak, dengan sepeda motor yang memang selalu dia gunakan untuk pergi pulang dari rumah ke sekolah.


Bahkan Draco rela meninggalkan dua sahabat dekatnya sejak masih kecil, Raline dan Hakim demi memastikan kekasihnya ini sampai ke rumah dengan selamat.


Draco merasakan sebuah kehangatan saat Calandra merebahkan kepala dibahunya serta memeluknya selama perjalanan dari sekolah menuju rumah Calandra. Namun begitu, Draco tetap merasa khawatir tentang keadaan Calandra saat ini.


Saat ingin pulang tadi, Calandra mengeluhkan kepalanya yang sakit. Dan bukan sebuah kebiasaan bagi Calandra yang menolak ajakan ketiga temannya untuk pergi main bersama sepulang sekolah.


Akhirnya motor Draco berhenti juga di depan rumah Calandra dan setelah Calandra turun Darco pun bertanya, “Yakin kamu ngga kenapa-kenapa Cal?“


“Iya. Aku ngga kenapa-kenapa kok co, bener deh. Paling cuma butuh istirahat aja kayaknya ini mah,” Calandra menjawab, berusaha menenangkan kekasihnya.


“Ya udah kalau memang bener begitu. Kamu istirahat deh ya, Cal. Kalau misalnya besok kamu masih sakit juga, mending kamh ngga usah maksain diri buat masuk sekolah ya,” Draco sungguh ingin Calandra segera sehat.


“Iya, aku ngerti kok co. Sana kamu berangkat lagi ke mall. Kasihan itu si Hakim sama Raline nungguin kamu,” ucap Calandra mempersilahkan Draco untuk pergi.


“Oke!“ ujar Draco mengacungkan jempol tangan kanannya. Kemudian dia teringat sesuatu dan bertanya ke Calandra sebelum dia benar-benar pergi, “Eh, buku harian kita masih ada di kamu kan ya?“


“Iya ini masih ada di aku. Belum sempet aku tulis kemarin. Mau kamu ambil? ” tanya Calandra.


“Ah, ngga usah hari ini. Nanti kamu isi yang banyak ya kalau memang besok kamu belum bisa masuk sekolah, biar agak kenyang aku bacanya,” senyuman manis terukir jelas di wajah Draco.


“Oh gitu toh. Iya nanti aku tulis yang banyak pasti,” jawab Calandra berusaha tak menghapus senyuman manis di wajah Draco.


“Kalau gitu, aku berangkat sekarang ya,” Draco pamit dan Calandra jawab dengan sebuah senyuman yang sesungguhnya dipaksakan.


Sejurus kemudian, Draco dan motor yang dikendarainya sudah menghilang dari pandangan Calandra. Dengan begitu, Calandra segera masuk ke dalam rumahnya.

__ADS_1


“Kok sudah pulang nak?“ tanya bu Tahta yang sedang membaca majalah saat anak perempuannya masuk ke dalam rumah. Bu Tahta cukup kaget juga mendapati anak perempuannya sudah pulang padahal jam di dinding rumah bahkan belum mencapai pukul dua belas siang.


“Iya mah. Tadi cuma pembagian kelas aja,” jawab Calandra dengan lesu.


“Tumben langsung pulang. Biasanya kamu pergi main dulu sama Draco, Raline dan Hakim,” ujar bu tahta masih terus melihat ke majalah yang masih bu Tahta pangku.


“Jangan-jangan tadi suara motornya Draco ya yang anter kamu pulang?“ sambung bu Tahta.


“Lagi males aja mah,” Calandra masih menjawab dengan nada lesu yang sama.


“Eh, ada apa ini? Kok ngga semangat banget kamu. Kamu sakit nak?“ bu Tahta akhirnya melepaskan pandangannya dari majalah itu.


“Mah… aku mau tuker kelas aja. Boleh ya!?“ ujar Calandra dengan nada pelan


“Tuker kelas bagaimana maksud kamu? Mama ngga ngerti.“


“Wah bagus dong itu. Berarti baru kamu nih dalam keluarga kita ini yang bisa masuk jurusan IPA. Nanti kamu bisa ambil kuliah kedokteran atau… eh kok muka kamu malah makin murung gitu nak?“ ibu Tahta menyadari bahwa sepertinya anaknya itu tidak berbahagia dengan sesuatu yang dipikir olehnya adalah sebuah pencapaian.


“Aku takut mah,” ujar Calandra sambil menundukan kepala dan mengecilakan volume suara karena Calandra takut permintaannya ini akan membuat ibu dan bapaknya akan merasa kecewa.


“Takut? Apa yang sebenarnya bikin kamu takut, nak?“


“Mama udah tahu belum sih kalau syarat kelulusan tahun ini, pasa angkatan aku ini ada batas manimal untuk syarat kekulusan?“


“Oh iya? Bener emangnya begitu? Terus kenapa?“


“Mama tahu juga kan kalau aku ini paling lemah di mata pelajaran matematika!?“

__ADS_1


Ibu Tahta mengangguk pelan, tanda bahwa dia juga mengetahui satu-satunya kelemahan dari anaknya itu.


“Aku takut mah, kalau nanti di ujung perjuangan aku selama ini, aku justru gagal hanya karena si matematika,” suara Calandra kini mulai bergetar, dia merasakan sebuah ketakutan yang sesungguhnya.


Sungguh sebuah pukulan yang teramat bisa membuat Calandra runtuh sepenuhnya jika dia sampai tidak lulus sekolah. Dia merasa perjuangannya selama ini akan menjadi sia-sia bila dia harus kembali mengulang satu tahun sekolah. Bagi Calandra yang ambisius, ketidak lulusan adalah sebuah keterpurukan yang amat sangat menyakitkan.


“Kamu kan bisa coba dulu nak. Kita ngga pernah tahu, toh selama ini pun nilai akademis kamu ngga pernah mengecewakan,” ujar bu Tahta memberi semangat kepada anak perempuannya.


“Mama inget ngga kalau pas kelas dua kemarin aku pernah coba ikut les matematika yang kata orang-orang bisa mempermudah mengerti soal metematika. Aku ikut les itu selama dua semester tapi pada akhirnya aku nyerah juga mah,” Calandra berusaha meyakinkan bu Tahta tentang kegagalannya untuk mencoba berdamai dengan mata pelajaran yang satu itu.


“Oke. Mama ngerti maksud kamu. Terus mama harus gimana?“


“Coba mama ngomong sama pihak sekolah buat pindahin aku ke jurusan IPS aja ma,” pinta Calandra.


“Kamu yakin Cal. Ngga salah ngomong kamu ini,” bu Tahta jelas kaget dengan permintaan anaknya itu.


“Aku takut nanti ngga lulus dalam ujian mah. Apalagi angkatan aku ini angkatan uji coba untuk nilai minimum kelulusan. Tolong aku mah,” rengek Calandra.


Bu Tahta berhenti berbicara sebentar. Berusaha menimbang-nimbang keputusan apa yang perlu dia ambil untuk anak perempuannya ini. Keputusan kali ini adalah salah satu keputusan penting untuk masa depan anak perempuannya ini.


Bu Tahta yang sadari tadi melihat dan mendengar rengekan anak perempuan satu-satunya itu akhirnya melemah dan berujar, “Baik. Kalau memang kamu maunya seperti itu. Besok pagi mama akan ke sekolah kamu dan coba ngomong sama pihak sekolah buat pindahin kamu ke jurusan IPS.“


Bu Tahta memang tipe orang tua yang sangat suportif, begitu pula dengan suaminya yang akan memberikan dukungan penuh pada pilihan anak mereka jika mereka anggap pilihan itu bukan sesuatu yang merugikan atau pun membahayakan bagi anaknya.


Mendengar jawaban dari bu Tahta tersebut, tentu saja Calandra merasa amat bahagia. Kini dia tak perlu mengkhawatirkan tentang kelulusannya nanti. Bahkan kini Calandra seolah telah bisa memprediksi kelulusannya. Yaitu seratus persen tanpa keraguan.


Kebahagiaan Calandra ini pun ternyata juga langsung dirasakan oleh bu Tahta, ibunya. Senyuman Calandra bagi bu Tahta adalah sebuah berkah terbesar dalam hidup dan akan selalu bu Tahta perjuangkan untuk ia dapatkan senyuman Calandra itu.

__ADS_1


__ADS_2