
Saat Calndra dn Draco sedang menikmati makanan mereka, ponsel Calandra di dalam tas terus bergetar. Calandra tahu bahwa yang menghubunginya adalah Birawa namun kalau dia jawab sekarang momentnya belum pas.
Calandra menahan diri untuk tak menghiraukan getaran yang berasal dari ponselnya itu. Namun dengar rasa tak tenang saat menikmati makanannya, Calandra ingin segera pulang.
“Co, kita mau kemana lagi habis ini?“
“Kamu maunya kemana? Aku ikut aja.“
“Aku mau pulang aja.“
“Kenapa pulang? Tumben banget.“
“Kepala aku sakit banget. Udah berapa hari aku begadang ngerjain tugas,” ujar Calandra sambil memegangi kepalanya sebagai pelengkap aktingnya.
“Kemarin pas kita ngobrol di telepon, kamu bilang udah mau tidur tapi malah begadang. Kamu bohong dong sama aku?“
Setengah panik Calandra berusaha mencari alasan, “Kalau aku bilang mau begadang ngerjain tugas pasti ngga boleh sama kamu. Kamu pasti maksa aku buat tidur.“
“Ya paling ngga aku bisa nemenin kamu ngerjain tuga kan!?“
“Ngga kepikiran ke sana, aku cuma pengen tugas aku cepet beres aja. Soalnya dosen aku killer banget.“
“Ya udah kalau emang sakit banget kepala kamu, aku anter kamu pulang.“
“Maaf ya co.“
“Kenapa minta maaf?! Emangnya kamu bikin salah!?“ jawab Draco sambil tertawa.
Ponsel di dalam tas Calandra belum berhenti bergetar membuat Calandra makin tak tenang dan ingin segera sampai rumah.
Sesampainya di rumah, Calandra segera turun dan masuk ke rumah namun Draco mengikutinya.
“Eh, kamu mau kemana?“
“Mau ketemu mama kamu. Kamu istirahat aja ngga apa-apa.“
“Eh mana bisa begitu!?“
“Bisa dong. Aku ngga akan ganggu kamu kok.“
“Kayaknya mama ngga ada,” balas Calandra kikuk.
“Masa? Coba aku lihat dulu.“
Baru saja Calandra membuka pintu saat pintu rumahnya dibuka dari dalam.
“Udah pulang nak?“
“Iya mah. Mamam mau kemana?“
“Mama mau ke rumah tante Santi. Ibunya tante Santi baru pulang umroh.“
“Tante mau aku anter?“ Draco menawarkan diri.
“Emang ngga mau ngobrol di sini sama Calandra, co?“
“Calandra juga sakit tante.“
“Kamu sakit apa nak?“
“Cuma sakit kepala kok mah.“
“Biar aja Calandra istirahat tante, aku anter tante.“
“Kamu ngga apa-apa di rumah sendirian nak?“
__ADS_1
Dalam hati Calandra ingin sekali mendesak mamanya agar segera pergi bersama Draco namun dia harus berhati-hati.
“Ngga apa-apa mah. Aku cuma perlu istirahat aja.“
“Udah makan tapi kan?“
“Udah mah,”
“Minum obat dulu baru tidur ya.“
“Iya mah.“
Setelah drama di depan pintu rumah dan getaran ponsel yang yam kunjung berhenti, akhirnya mama Calandra dan Draco berangkat juga meninggalkan rumah.
Calandra segera masuk ke dalam rumah sambil merogoh tas mencari ponselnya yang masih bergetar.
“Kamu dimana?“ nada tajam Birawa langsung terdengar.
“Di rumah.“
“Aku ke sana sekarang. Jangan kemana-mana.“
Tanpa menunggu jawaban dari Calandra, Birawa langsung memutus hubungan telepon keduanya.
Sementara Calandra menunggu kedatangan Birawa dengan harap cemas dalam hati. Karena saat menelpon tadi suara Birawa terdengar begitu ketus dan Calandra lama tak menjawab panggilan dari Birawa.
Saat Calandra mengecek panggilan yang masuk, ternyata Birawa sudah ,enghubunginya lebih dari tiga puluh kali.
Tidak sampai dua puluh menit, suara motor Birawa sudah terdengar di depan rumah dan dengan cepat Calandra keluar rumah menghampiri Birawa.
Wajah Birawa terlihat sangar tak seperti biasanya. Jelas sekali Birawa sedang menahan amarah dan itu membuat Calandra takut.
“Kamu dari mana?“
Dengan nada bergetar Calandra menjawab, “Dari… dari kampus lah.“
“Jam dua tadi.“
Birawa melirik jam tangannya dan bertanya, “jadi kamu udah di rumah dari tiga jam lalu?“
“Iya… “ jawab Calandra ragu.
“Dari kampus tadi ngga kemana-mana lagi?“ kali ini pertanyaan Birawa lebih terdengar seperti sebuah interogerasi.
Calandra semakin ragu memilih jawaban.
“Cal… dari kampus kamu langsung pulang?“
Calandra masih terdiam, tapi berani memberi jawaba dari pertanyaan dari Birawa itu.
“Jadi mau jujur atau bohong?“
Mendengar pertanyaan itu, Calandra sudah mengerti bahwa dia kini sudah ketahuan oleh Birawa. Bahwa dia tak bisa lagi berbohong.
“Kamu selingkuh Cal?“
Setelah beberapa saat terdiam, akhirnya Calanadra membuka suara.
“Iya… “ jawabnya sambil menundukan kepala.
“WHAT??“
Calandra menarik nafas dalam-dalam.
“Siapa selingkuhan kamu itu?“ tanya Birawa penuh amarah.
__ADS_1
“Kamu… “ jawab Calandra lagi, belum berani mengangkat kepalanya.z
Birawa sangat kaget mendengar jawaban dari Calandra itu.
“Maksud kamu gimana?“
“Kamu itu selingkuhan aku.“
“Jadi kamu punya pacar sebelum sama aku?“
Calandra menganggukan kepalanya pelan karena khawatir Birawa akan meledak.
“Bagaimana bisa begitu? Jelasin sama aku Cal.“
Calandra tak kuasa menopang tubuhnya lagi dan terduduk di hadapan Birawa.
“Sebelum pacaran sama kamu, aku udah punya pacar.“
“Jadi yang sama kamu tadi itu, pacar kamu?“
Calandra kaget karena ternyata Birawa membututi dia dan Draco sejak tadi.
“Iya. Dia pacar aku. Namanya Draco.“
“Perduli setan sama siapa nama dia,” balas Birawa penuh emosi.
“Maaf Bir.“
“Kalau kamu udah punya pacar kenapa kamu terima aku jadi pacar kamu?“
“Karena aku mau balas dendam ke laki-laki itu,” jawab Calandra sambil menaikan volume suaranya dan itu makin membuat Birawa bingung.
“Balas dendam?“
“Iya. Laki-laki itu dulu mengkhianati aku. Dia pacaran dengan mantan pacaranya.“
“Lantas kenapa aku?“ tanya Birawa dengan suara yang dikecilkan.
“Maaf Bir… “
“Kamu dari tadi cuma minta maaf!?“
“Aku cuma bisa bilang kayak gitu karena aku emang salah sama kamu. Kamu boleh tinggalin aku.“
“AKU NGGA MAU!“
Calandra bingung mendengar jawaban dari Birawa.
“Lantas apa mau kamu sekarang, Bir?“ ujar Calandra merasa putus asa.
“Aku tetap ingin jadi pacar kamu.“
“Ngga bisa. Aku ngga bisa putusin Draco sekarang karena aku merasa belum cukup nyakitin dia.“
“Kalau begitu, aku tetep mau jadi pacar kamu dan alat balas dendam kamu,” ucap Birawa sambil mengenggam tangan Calandra.
“Jadi alat balas dendam aku? Maksud kamu ginmana, Bir?“
“Teruslah jadikan aku sebagai selingkuhan kamu. Aku akan membuat kamu tak memperdulikan setiap panggilan yang dilakukan oleh Draco dan membuatnya semakin merasa terabaikan.“
“Kamu ngelantur Bir.“
“Ngga, aku ngga ngelantur, Cal. Aku janji, aku akan membuat kamu mengabaikan Draco, pacar kamu itu.“
Genggaman Birawa di tangan Calandra semakin erat namun anehnya tak membuatnya kesakitan, Calandra justru merasakan sebuah kehangatan.
__ADS_1
“Maka tunjukan pada aku jika kamu memang sanggup.“