
Entah apa yang menjadi alasan pasti untuk Calandra, namun sejak Birawa mengetahui bahwa Calandra menjadikannya laki-laki kedua dalam hidupnya, Calandra lebih memilih terus berdekatan dengan Draco.
Namun bukan berarti pula hati Calandra terbebas dari rasa khawatir dan menempatkan Birawa di pikirannya, ditengah-tengah anatra dia dan Draco.
Namun setiap kali Calandra selesai melanglang buana bersama Draco, Birawa selalu hadir dalam bentuk paling indah tanpa marah tanpa amarah.
Birawa selalu datang dengan senyuman dan dada terhangat untuk Calandra peluk dari lelahnya bersandirawa di hadapan Draco.
“Kamu sudah makan?“ selalu jadi kata pertama yang diucapkan Birawa saat bertemu dengan Calandra.
Birawa tak pernah sekali pun mengganggu pertemuan antara Calandra dan Draco namun dia tak pernah tak tahu apapun yang dilakukan oleh Calandra dan Draco.
Maka karena itu pula Calandra semakin condong ke Birawa dan selalu memperlihatkan gelagat tak nyaman jika sedang bersama Draco.
Draco bukan tak menyadari itu namun dia belum berani bertanya dan mengetahui kenyataan bahwa Calandra memang telah memiliki cinta lain selain dirinya.
“Makin hari aku merasa kamu semakin aneh Cal… “
“Maksud kamu ginama co?“
“Aku perhatikan tiap kali kita pergi kemana-mana kamu selalu ingin cepat pulang dengan berbagai macam alasan. Aku merasa kamu makin ngga nyaman bersama aku.“
“Begitukah yang kamu rasakan?“
“Iya, seperti itu yang aku rasakan.“
“Lalu kenapa?“
“Bukankah harusnya pertanyaan itu aku yang melontarkan ke kamu. Kenapa?“
“Aku ngga kenapa-kenapa.“
“Selalu itu yang jadi jawaban kamu.“
“Lantas, jawaban apa yang kamh harapankan?“
Draco terdiam tak berani menjawab pertanyaan dari Calandra itu. Namun kemudian dia membulatkan tekadnya dan memberanikan diri berkata, “Aku sudah tahu siapa Birawa itu?“
Jantung Calandra seakan mau copot mendengar itu tapi sekuat tenaga di berusaha menenangkan dirinya.
“Birawa teman kampus aku?“
“Orang yang kamu sukai, tepatnya.“
“Menurut kamu, aku salah suka sama orang lain?“
“SALAH!“
__ADS_1
“Kenapa kamu berteriak?“
“Kenapa? Kenapa kata kamu?“
“Iya. Kenapa kamu harus berteriak. Kamu bikin aku kaget.“
“Memang seharusnya kamu kaget, sekaget aku mendengar pertanyaan kamu tadi. Bagaimana bisa kamu nanya apa boleh suka sama orang lain.“
“Lho, memangnya kenapa?“
“Calandra kamu sadar ngga kalau masih ada aku? Aku ini pacar kamu. Bagaimana bisa kamu menyukai orang lain sementara masih ada aku?!“
“Harus aku luruskan, aku bukan menyukai Birawa tapi aku mencintainya.“
Draco membulatkan kedua matanya, kaget mendengar apa yang barusan dikatakan oleh kekasihnya.
“Bagaimana bisa kamu kaget saat mengetahui aku menyukai orang lain sementara kamu pernah melakukan hal serupa pada aku beberapa tahun lalu. Kamu hampir menghancurkan masa depanku dan menginjak-injak harga diriku di depan banyak orang yang mengenal kita?“
“Jadi kamu balas dendam sama aku?“
“Sebut saja seperti itu,” jawab Calandra enteng.
“Tapi aku tetap memilih kamu dan meninggalkan Irma.“
“Itu pilihanmu, bukan pilihan apalagi paksaan dari aku.“
“Tapi kamu berjanji buat ngga balas dendam ke aku!“
“Karena kamu tak pernah membohongi aku selama ini. Selalu ada ditiap aku terpuruk dan selalu berusah menyemangati aku.“
“Jika kamu tahu aku seistimewa itu, lantas kenapa kamu mengkhianati aku?“
“Aku… saat itu aku terjebak dalan romansa masa lalu yang aku pikir belum selesai. Aku masih merasa penasaran dengan apa yang mungkin terjadi jika dulu aku tak berpisah dengan Irma semasa SMP. Namun setelah aku jalani yernyata hatiku condong ke kamu.“
“Cih! Kamu melakukan itu tanpa memikirkan perasaanku.“
“Maafkan aku Cal.“
“Aku sudah memaafkan kamu co.“
“Kalau begitu kita bisa memulainya dari awal lagi. Iya kan?“ rengek Draco berusaha mengelitik sisi Calandra yahg mudah iba.
“Maafkan aku co. Tapi aku sudah mencintai orang lain berkat kamu.“
“Maksud kamu, kamu ngga akan ninggalin Birawa?“
“Ngga.“
__ADS_1
“Oke. Aku rela menjadi bayang-bayang kalian. Aku mau jadi selingkuhanmu.“
“Tapi aku ngga mau. Selama ini Birawa yang sudah menjadi selingkuhanku dan banyak mengalah pada kita.“
“Ngga mungkin! Jadi selama ini kamu udah selingkuh dari aku?“
“Iya.“
“Jadi ini alasan kenapa kamu selalu terlihat gusar saat bersama aku.“
“Betul.“
“Cal…”
“Kisah kita selesai sampai sini co. Kita udah ngga butuh buku harian bersama lagi.“
“Cal, tolong. Aku masih cinta sama kamu.“
“Bagus. Berarti kamu benar-benar merasakan jadi aku beberapa tahun lalu.“
“Cal… jangan tinggalin aku.“
“Kamu yang lebih dulu ninggalin aku co.“
“Maafin aku…”
Calandra bangkit dari duduknya dan meninggalkan tempat itu sambil berkata, “Maafin aku co.“
Tanpa menoleh sedikit pun, Calandra melangkah terus menahan rasa di dadanya. Bibirnya tersenyum namun air mata mengembang di bagian bawah matanya.
Seseorang menarik tangan Calandra lalu memeluknya. Calandra menengadahkan kepalanya dan melihat wajah yang dia kenali. Sepersekian detik kemudian tangis Calandra pecah.
“Kenapa akh harus nangis? Bodoh.“
“Nangis lah Cal. Keluarkan yang perlu kamu keluarkan, lalu tinggalkan.“
“Bukankah harusnya aku bahagia karena sudah membalaskan dendamku?“
“Bagaimana rasanya?“
“Aku merasa puas namun juga sedih bercampur.“
“Itu hanya karena memori yang tercipta cukup lama diantara kalian. Kamu hanya menangisi masa-masa bersama dia dulu.“
Laki-laki itu melepaskan pelukannya dan mengangkat wajah Calandra lalu tersenyum, dan berkata, “Aku akan menciptakan memori indah untukmu hingga kamu tak akan lagi mampu menginggat sedikit pun tentang dia.“
Laki-laki itu mencium kening Calandra.
__ADS_1
Calandra kembali memeluk laki-laki itu dan berkata, “Terima kasih Birawa.“
TAMAT