
"Kamu ngga bakal balas dendam ke aku kan Cal?“ ujar Draco saat mereka dalam perjalanan untuk menuju universitas impian Calandra.
Hari ini, Calandra diminta untuk datang ke universitas itu untuk memasukan segala data dan dokumen yang diperlukan dalam proses pendaftaran ulang.
“Balas dendam? Maksudnya gimana?“
“Kamu ngga akan selingkuh dari aku kan nanti kalau kita udah pisah kampus?“
“Tenang aja co. Aku sayang sama kamu, bagaimana mungkin aku mengkhianati kamu,” balas Calandra sambil tersenyum saat mereka telah selesai dengan segala birokrasi daftar ilang di universitas itu.
Mereka memilih sebuah kursi di sisi samping taman luas yang berada di kampus itu. Lalu sebuah senyum bahagia terlukis di wajah Draco saat mendengar jawaban dari kekasihnya itu. Sungguh Draco merasa khawatir jika suatu saat Calandra akan meninggalkannya. Apalagi kini Calandra sudah dipastikan masuk ke salah satu universitas terbaik di negri ini.
Sebuah universitas negri yang berisi antara mereka yang memang sangat pintar atau mereka yang memiliki banyak uang untuk bisa berada di dalam universitas itu.
Tentu saja Draco merasa takut jika Calandra akan menemukan laki-laki lain yang sepadan dengan Calandra, laki-laki dengan segala hal yang jauh di atas dirinya.
Beberapa hari lalu Calandra mendapatkan pengumuman penerimaan beasiswanya di salah satu universitas terbaik di negri ini yang kebetulan memang berada di kota tempat dia tinggal.
Akhirnya, setelah belajar dengan tekun dan melewati masa-masa sulit saat harus berhadapan dengan pengkhianatan dari Draco, Calandra menggapai juga cita-cita yang sudah dia jadikan sasaran hidup sejak masih kecil.
Hari ini dia menginjakan kakinya di univeristas yang sangat luas dan dipenuhi dengan pohon-pohon yang hijau nan asri serta sejuk di tiap sudut kampus itu, membuat hati Calandra berlipat kebahagiannya.
__ADS_1
“Andai aja kita bisa satu kampus,” ujar Calandra berkhayal.
“Mana mungkin aku bisa satu kampus sama kamu, Cal. Raline dan Hakim yang lebih pinter dari aku aja ngga lolos buat masuk kampus ini,” balas Draco sambil melempar pandangan ke sekeliling universitas negri itu.
Calandra hanya tersenyum tipis mendengar pernyataan dari kekasihnya itu. Dia tetap berharap bisa satu kampus dengan Draco walau dia tahu benar kapasitas kekasinya itu.
Jauh di lubuk hati kecilnya yang terdalam, Calandra masih sangat mencintai laki-laki yang pernah mengkhianati dan hampir mengahancurkan mimpi serta ambisinya itu. Namun di sisi lain hatinya dia masih menyimpan sebuah rasa benci yang belum terselesaikan.
Pelan namun pasti, Calandra terus berusaha menyusun sebuah pembalasan dendam yang dia harapkan akan membuat Draco merasakan apa yang pernah dia rasakan, rasa sakit yang teramat karena diabaikan oleh orang yang selama ini jadi pusat kehidupannya.
“Di sini banyak orang-orang pintar pasti ya Cal?!“
“Bisa jadi,” jawab Calandra.
“Setara dengan aku? Bagaimanakah laki-laki yang setara dengan aku, menurut kamu?“
“Yang pintar, yang lebih ganteng dari aku, yang lebih baik—”
“Maka aku akan tetap memilih kamu sebagai pacar aku.“
“Benerkah itu, Cal?“
__ADS_1
“Kamu sudah memilih aku waktu aku minta kamu untuk memilih antara aku dan Irma. Maka sekarang aku akan tetap memilih kamu sebagai pacar aku seperti kamu memilih aku.“
“Tapi aku ngga pinter, ngga baik dan bukan anak dari orang kaya.“
“Itu betul. Tapi apakah aku pernah bergeser dari samping kamu?“
Draco terdiam dan menundukan kepalanya, lalu dia menggelengkan kepalanya pelan dalam hening yang dia ciptakan sendiri.
“Kalau gitu, apa yang kamu khawatirkan?“
“Aku khawatir kamu akan mengkhianati aku?“
“Kenapa kamu takut? Bukankah diantara kita, yang pernah selingkuh itu kamu, bukan aku?“
Draco kembali terdiam tak berani menjawab pertanyaan Calandra itu.
“Kamu benar. Aku adalah yang jahat di hubungan kita ini. Kamu selalu setia padahal aku sudah berkhianat dan menyakitinperasaan kamu. Padahal aku tak lebih pintar dari kamu. Padahal banyak laki-laki lain yang mau jadi pacar kamu dan mereka jauh lebih ganteng dari aku,” ujar Draco dengan nada bergetar.
Calandra mengembangkan senyuman penuh kepuasan mendengar semua perkataan dari Draco itu. Kini laki-laki itu kehilangan kesombongan dan kepercayaan diri yang dulu pernah dia tunjukan di hadapan Calandra selama berbulan-bulan lamanya. Saat dengan suka rela dan sadar dia memilih untuk bersama Irma dan mengkhianati kesetiaan serta mengabaikan kehadiran Calandra.
Tentu ada rasa puas di hati Calandra mendengar setiap ucapan dan kekhawatiran dari Draco. Itu adalah segala hal yang selama ini dia harapkan dan dia tunggu-tunggu.
__ADS_1
Namun bukan ini akhir dari kepuasan yang Calandra harapkan. Dia masih ingin melihat kekacauan Draco. Kekacauan yang pernah terjadi pada dirinya beberapa waktu lalu ketika dengan enteng Draco membiarkan air mata Calandra jatuh di tiap malam dan karena itu, Calandra hampir kehilangan semua mimpi-mimpi dan tujuan masa depannya.