
Akhirnya dunia perkuliahan pun di mulai. Setelah selama tiga tahun berdempetan denga Draco, untuk pertama kalinya Calandra terpisah dari kekasihnya itu.
Tapi walau pun kini mereka sudah berpisah kampus namun Draco selalu menjemput Calandra di rumahnya dan mengantarkan Calandra ke kampusnya baru kemudian Draco menuju kampusnya yang berjarak hampir empat puluh menit perjalanan.
Begitu pula saat keduanya pulang, Calandra akan selalu diminta Darco untuk menunggunya untuk bisa kembali mengantar Calandra pulang sampai ke rumah.
Kegiatan seperti ini setiap hari dijalankan keduanya. Jika salah satu dati mereka ada jadwal libur maka siapa pun yang libur akan menemani di kampus yang mendapatkan jadwal kuliah.
“Kok kamu belum siap?“ tanya Draco pagi itu begitu sampai di depan rumah Calandra dan mendapati pacarnya itu masih menggunakan pakaian tidur dengan wajah yang masih polos tanpa polesan make up tipis yang biasa dia gunakan setiap akan ke kampus.
“Hari ini boleh ngga sih kalau aku ngga ikut ke kampus kamu?“
“Kok tumben ngga ikut?“ tanya Draco yang merasa bingung.
“Kemarin itu kita kan kehujanan tuh, nah tadi malam aku ngerasa kalau badan aku ngga enak gitu. Malah sempet demam pula,” jawab Calandra.
Dengan panik Darco memeriksa kening pacarnya, “Sekarang kamh udah ngga apa-apa kan tapi?“
“Udah ngga demam sih tapi masih agak lemes badan aku. Mana rasanya ngantuk banget, mungkin karena pengaruh obat deh,” balas Calandra.
“Ya udah kalau memang ngga enak badan, kamu balik tidur lagi aja, istirahat. Besok aja kita bareng lagi ke kampus, oke!?,” ujar Draco.
“Iya. Besok semoga aku udah enak lagi badannya jadi bisa ke kampus lagi.“
Lalu karena memang Draco hampir terlambat, dengan cepat dia menarik gas motornya dan berlalu pergi menuju kampusnya.
******
Karena masih khawatir dengan keadaan Calandra, Draco sudah memarkirkan motornya di rumah Calandra pagi sekali.
“Eh, sejak kapan kamu di sini?“ tanya Calandra yang kaget mendapati kekasihnya itu, yang sejak tadi dia hubungi tapi tak menjawab.
“Mungkin sekitar satu jam yang lalu.“
“Aku telepon kamu dari tadi tapi ngga kamu angkat.“
“Ah masa sih?“ ucap Draco sambil memeriksa jaketnya lalu wajahnya berubah panik.
“Kenapa co?“
Draco kini memeriksa tasnya dan menjawab, “Kayaknya hp aku ketinggalan di rumah deh.“
“Pantes aja dari tadi aku telepon ngga ada jawaban.“
Lalu Draco membalas dengan senyuman.
“Gimana, kita berangkat sekarang?“ tanya Calandra.
“Ayo.“
Ketika mereka sampai di kampus Calandra, Draco memberitahu, “Karena hp aku ketinggalan di rumah, nanti aku nunggu kamu di sini aja ya!?“
__ADS_1
“Oh, oke.“
Lalu mereka pun langsung berpisah karena hari ini Darco memiliki jadwal quis di salah satu mata kuliah maka dia harus secepatnya sampai ke kampus.
Di tengah perjalanan Calandra menuju kelas, dia bertemu dengan seorang laki-laki yang dengan sengaja menghalangi langkahnya ke gedung fakultasnya.
“Maaf, ada apa ya?!“ tanya Calandra.
“Maaf. Tapi lo temennya Ririn bukan?“ tanya laki-laki itu tanpa basa-basi.
“Ririn? Ririn mana maksudnya?“
“Ririn anak SMP 5,” jawabnya.
“Oh maksudnya temen SMP gue?“
“Iya betul. Berarti bener lo itu temennya Ririn.“
“Gue pikir temen kelas gue di sini. Iya gue temennya Ririn, kenapa ya?“
“Gue mau minta tolong boleh?“
Dengan wajah kebingungan Calandra tetap memberanikan diri bertanya, “Minta tolong apa nih?“
Senyum lebar langsung terlukis di wajah laki-laki itu.
“Nama gue Birawa. Anak Teknik dan Manajemen lingkungan semester awal,” laki-laki itu memberkenalkan diri.
“Wah kita bisa sering-sering bareng nih.“
Calandra hanya tersenyum dan kembali bertanya, “Tadi lo minta tolong apa?“
“Oh iya. Gue boleh tanya-tanya soal Ririn?“ tanya Birawa sambil keduanya berjalan menuju gedung fakultas.
“Boleh aja. Tapi gue ngga deket-deket amat sama Ririn. Cuma sekedar temen satu sekolah aja. Eh, pernah satu kelas juga waktu kelas 3.“
“Nah kayaknha waktu itu gue lihat lo jalan sama Ririn pas kelas tiga deh.“
“Lo lihat gue sama Ririn dimana?“
“Di GOR. Ramean gitu,” jawab Birawa.
“Oh, mungkin pas pengambilan nilai olah raga,” Calandra mulai memutar memori di dalam kepalanya.
“Bisa jadi. Soalnya kalian pake seragam olah raga. Makanya gue tahu kalian dari sekolah mana waktu itu,” jawan Birawa lagi.
“A… iya. Pantes aja lo tahu gue sama Ririn sekolah dimana.“
“Ceritain gue soal Ririn dong,” pinta Birawa.
“Gimana ya…?“
__ADS_1
“Hal-hal kecil soal dia. Kayka warna kesukaan dia, tanggal lahir, makanan sama minuman kesukaan dia,” ucap Birawa penuh antusias.
“Hai, sabar bung. Kayaknya lo jatuh cinta ya sama Ririn?“ tanya Calandra sambil tersenyum.
“Emang kelihatan banget ya?“
“Kelihatan jelas banget!“
Birawa tertawa mendengar mawaban Calandra yang tanpa basa basi itu.
“Gue kasih tahu rahasia terbesar soal Ririn ya. Dia itu banyak banget penggemarnya. Kalau lo suka sama dia, siap-siap aja buat kerja keras buat dapetin dia,” Calandra menjelaskan.
“Ngga kaget sih gue. Soalnya dia emang cantik banget, mana kaliatannya lemah lembut banget.“
“Bukan cuma kelihatannya tapi memang aslinya dia selemah lembut itu plus dia juga pinter. Paket lengkap banget ngga sih dia,” kenangan Calandra pada temannya yang cantik itu kembali berputas di dalam kepalanya.
“Terus sekarang dia kuliah dimana? Apa di sini juga?“
“Oh ngga. Dia ngga kuliah di sini. Terakhir pas reuni dia bilang kalau dia mau kuliah di Malang,” jawab Calandra sambil merapikan rambut untuk menguncirnya.
“Gue pikir dia masuk sini juga,” wajah Birawa langsung terlihat kecewa.
“Lo nyesel ya masuk sini karena ternyata Ririn ngga masuk sini!,” ledek Calandra.
“Kalau tahu Ririn kuliah di Malang, gue juga mau ke Malang aja. Tapi ya masuk sini juga ngga segitu nyeselnya juga sih. Kenyataannya masuk sini tuh susah.“
Calandra menutup mulut dengan tangan kanannya, menutupi tawa kecilnya.
“Ririn dapat beasiswa di Malang sana, makanya dia ambil di sana. Dia pasti bisa juga masuk sini karena emang anaknya sepinter itu. Tapi kalauada beasiswa kenapa ngga diambil, iya kan?!“
“Iya juga sih. Gue juga kalau dapat beasiswa mending gue ambil yang beasiswa biar keluar kota juga,” Birawa menyetujui pernyataan Calandra.
Tanpa sadar, Calandra dan Birawa berjalan hingga sampai ke dalam gedung fakultas.
“Nanti kita sambung lagi ya soal Ririn. Gue ada kelas sepuluh menit lagi nih, sebelum dosen sampe kelas gue kudu sampe duluan,” ujar Calandra.
“Oh iya. Gue juga ada kelas sepuluh menit lagi. Tapi lo janji ya nanti kita ngobrol lagi,” balas Birawa.
“Siap! Gue pasti ceritain soal Ririn semua yang gue tahu.“
Setelah Birawa dan Calandra bersepakat, Calandra langsung masuk ke dalam kelasnya. Sementara Birawa kembali melanjutkan perjalanannya menuju ke kelasnya pagi ini.
“Sekalinya ketemu orang baru di kampus eh nyari tahu soal crush nya. Tapi lumayan deh, jadi gue punya temen baru di sini walau dia ada maunya,” gumam Calandra dalam hatj ketika dia sedang duduk sambil menunggu dosen mata kuliah pagi ini di dalam kelas.
“Selamat pagi!“ seorang dosen yang sudah cukup berumur masuk ke dalam kelas tepat sepuluh menit setelah Calandra sampai di dalam kelas.
“Selamat pagiiii… “ jawab seisi kelas.
“Oke. Sekarang tolong buka buku kalian halaman seratus dua puluh dua …. “
Dan dengan cepat tanpa banyak basa basi mata kuliah pagi itu di dalam kelas Calandra pun segera di mulai.
__ADS_1