Dendam Sang Aquarius

Dendam Sang Aquarius
Bab 40. memasuki zona makin tak percaya


__ADS_3

Suara ketukan di pintu kamar Calandra membuatnya mempercepat kegiatannya berpakaian pagi ini.


“Cal?“


“Iya mah?“


“Draco udah ada di depan tuh.“


“Suruh tunggu aja mah.“


“Udah mama suruh tunggu, tapi dia ngga mau masuk ke dalam.“


“Iya, ini aku cepet-cepet,” jawabku sambil meneruskan mempeesiapkan diri.


Tak lama kemudian, aku sudah siap dan bergegas keluar kamar untuk menemui Dtraco yang ternyata masih duduk di atas motornya.


“Mah, Calandra berangkat!“ teriakku sambil keluar melewati pintu depan.


“Hati-hati nak,” aku juga mendengar teriakan mama sebelum aku menutuo pintu itu.


Calandra langsung menghampiri Draco yang sudah dalam posisi siap untuk mengendarai motornya.


Motor Draco sudah melaju di atas aspal jalanan saat akhirnya Draco berkata, “Kamu bener ngga akan balas dendam sama aku kan Cal?“


“Balas dendam apa?“


“Kamu ngga akan selingkuh dari aku kan?“


Tiba-tiba aku merasa jantungku akan copot mendengar pertanyaan dari Draco itu. Entah kenapa aku merasa sedikit ketakutan.


“Kenapa tanya begitu?“


“Ngga apa-apa, aku takut aja kalau nanti kamu selingkuhin aku karena mau balas dendam karena dulu akh pernah selingkuh dari kamu.“


“Ngga usah mikr yang aneh-aneh. Jalanin aja apa yang ada dihadapan kita.“


“Cal…?“


“Iya, kenapa?“


“Ngga apa-apa.“


Setelah itu, suasana di atas motor menjadi sepi. Baik Calandra dan Draco tanpa sadar tidak saling berbicara satu sama lain. Suasana ini terasa sangat amat canggung.


Akhirnya suasana canggung itu berakhir ketika motor Draco berhenti di depan pintu masuk kampus Calandra.


“Nanti sore aku jemput,” ujar Draco.


“Oke,” jawab Calandra sambil melemparkan senyum.


Kemudian Calandra berjalan masuk ke dalam kampus, tak berapa lama seseorang menepuk pundak Calandra.


“Baru sampai?“ tanyanya.


“Eh, iya,” jawab Calandra terbata karena kaget.


“Naik apa ke sini?“

__ADS_1


“Dianter.“


“Sama pacar ya?“


Calandra tak menjawab pertanyaan itu, hanya melemparkan senyuman.


“Ada kelas jam berapa?“


“Jam depalan lima belas,” jawab Calandra.


“Wah mepet banget ya. Cepet deh nanti telat,” ujarnya.


Calandra melongok jam tangan dan mempercepat jalan tapi dia pun ikut mempercepat langkah kakinya.


“Emang ada kelas pagi juga?“ tanya Calandra.


“Iya.“


Karena jalan dengan cepat, akhirnya Calandra bisa sampai di kelas pukul delapan sepuluh menit. Ada sisa waktu lima menit untuk Calandra mengatur nafas di dalam kelas.


****


Setelah menghabiskan waktu selama sembilan puluh menit menerima materi di kelas, akhirnya selesai juga mata kuliah pertama Calandra.


Seisi kelas bubar dengan cepat hingga tersisa hanya Calandra seorang diri di kelas. Dengan langkah malas Calandra keluar kelas dan lagi-lagi dia mendapati Birawa berdiri tak jauh dari kelas.


Sempat kaget tapi Calandra harus pintar menguasai diri. Berjalan lurus menuju kantin seolah tak melihat keberadaan Birawa di sana.


“Eh, ditungguin malah ninggalin,” ujar Birawa sambil berusaha menghentikan langkah Calandra.


“Oh, lo nungguin gue?“ tanya Calandra.


“Iya maaf,” balas Calandra enteng.


“Mau ke kantin?“


“Iya, lapar nih.“


“Nanti ada kelas lagi jam berapa?“


“Jam sepuluh lima belas. Makanya harus buru-buru ke kantin buat makan.“


“Oh sama. Berapa sks?“


“Cuma dua sks sih.“


“Oh sama.“


“Apaan sih Bir!? dari tadi oh sama oh sama terus.“


“Iya emang sama.“


Dengan cepat Calandracmemesan mie instan dalam cup agar menghemat waktunya yang hanya sisa kurang lebih lima belas menit hingga mata kuliah berikutnya di mulai.


“Nih! Masa makan ngga pake minum.“


Birawa membelikanku sebuah teh kemasan yang dia letakan di samping mie instan milim Calandra.

__ADS_1


“Wah, makasih ya Bir. Sampai lupa mau beli minum.“


“Nah, makan deh.“


“Ngga makan Bir?“


“Ngga, masih kenyang. Tadi udah sarapan soalnya di rumah.“


“Tumben ada yang masak di rumah.“


“Ngga juga sih, tadi beli sarapan deket rumah.“


“Oh gitu,” jawabku sambil menyeruput kaldu dari mie instan dalam cup itu.


Mie dan kaldu dalam cup itu sudah habis, berpindah tempat ke dalam saluran cerna Calandra. Lalu Birawa menusukkan sedotan ke kotak teh yang dia berikan pada Calandra tadi dan menyerahkannya, “Nih!“


“Makasih ya Bir,” ucap Calandra.


“Cepet yuk! Sisa waktu tinggal lima menit lagi nih.“


Perkataan Birawa itu membuat Calandra bangkit dari duduk dan berjalan cepat sambil terus menyedot teh di dalam kemasan itu.


“Duluan ya!“ Birawa berbelok masuk ke dalam kelas sementara Calandra masih harus melewati dua kelas hingga sampai ke dalam kelas yang harus dia masuki pagi ini.


Sebelum Calandra masuk ke dalam kelas, dia pastikan dulu bahwa teh di dalam kemasan yang sedang dia bawa ini sudah habis. Lalu dia membuang kemasannya ke dalam tong sampah di depan pintu masuk kelas.


Begitu Calandra masuk kelas, dia kaget melihat seorang dosen telah duduk di tempatnya. Beliau melirik jam ditangannya lalu berkata, “Silahkan masuk dek. Kamu belum terlambat.“


Karena masih diijinkan masuk, Calandra segera mencari kursi kosong yang bisa dia tempati. Namun tak berapa lama kemudian, dosen itu bangkit dari duduknya setelah melihat kembali jam di tangannya dan menutup pintu kelas.


Jelas sekali Calandra melihat dua mahasiswa yang hendak masuk ke dalam kelas namun sudah terlebih dulu dosen itu menutup pintu kelas.


Dosen itu tak tak menghiraukan sama sekali ketukan di pintu kelas dan langsung berlanjut memberikan materi mata kuliah hari ini.


Setelah dua SKS mata kuliah selesai, dosen menutup mata kuliah hari ini dan baru membuka pintu kelas. Sontak saja dosen itu langsung di kerumuni oleh beberapa mahasiswa yang tak ikut mata kuliahnya pagi ini.


“Pada telat ya?“


“Iya. Langsung ditutup tadi pintu kelasnya.“


“Pak Yosep emang terkenal ngga tolerir sama keterlambatan.“


“Untung gue ngga telat tadi.“


“Iya bener.“


Calandra baru sadar bahwa hari ini dia tak ada kelas lagi. Dia melirik jam tangannya dan kemungkinan masih lama Draco akan menjemputnya.


“Pulang yuk,” ucapan Birawa itu mengalihkan pandangannya.


“Duluan aja deh, gue nanti.“


“Sekarang aja sih,” ujar Birawa.


“Em… “


“Hayu pulang, biar aku antar,” ujar Birawa lagi.

__ADS_1


“Aku? Apa katanya? Aku? Apa gue ngga salah denger ini?“ ucap Calandra dalam hati karena tak percaya mendengar apa yang dia dengar barusan.


__ADS_2