Dendam Sang Aquarius

Dendam Sang Aquarius
bab 6. Menjenguk Draco


__ADS_3

Bel panjang sudah kembali berbunyi sebanyak tiga kali, bertanda kegiatan belajar mengajar di sekolah telah usai. Guru yang mengajar mata pelajaran terakhir pun menutup pelajaran hari ini dan semua siswa pun langsung merapikan semua peralatan tulis menulis dan buku mereka ke dalam tas masing-masing. Begitu pula dengan Raline dan Calandra yang sudah siap untuk pulang.


Mereka langsung bergegas untuk pergi menuju kelas Hakim namun ternyata kelas Hakim di lantai dua itu sudah kosong sepenuhnya, bahkan semua bangku telah naik ke atas meja.


“Kemana itu anak?!“ gerutu Raline.


“Mungkin si Hakim ada di kantin lin,” Calandra berusaha berpikir positif.


Lalu keduanya pun menuruni anak tangga hingga sampai di lantai dasar gedung, lalu melintasi lapangan sekolah hingga akhirnya sampai di kantin sekolah.


Raline dan Calandra betusaha mencari Hakim di kantin tapi tidak bisa menemukan Hakim di sana.


“Masa sih tuh anak udah pulang duluan,” ujar Raline.


“Ya masa dia lupa kalo janjian sama kita kalau mau ke rumahnya Draco,” timpal Calandra.


“Kacau sih tuh anak kalau sampe lupa,” balas Raline.


“Atau mungkin dia nungguin kita di parkiran motor,” Calandra masih ingin terus berpikir positif.


Raline langsung menarik lengan Calandra untuk mengecek keberadaan Hakim di parkiran mobil yang berada tak jauh dari kantin sekolah mereka.


Baru saja Raline dan Calandra tiba di parkiran motor, mereka sudah melihat Hakim yang sedang duduk di atas motornya sambil melambaikan tangan ke arah mereka. Dengan setengah berlari, Raline dan Calandra mendekati Hakim.


“Lo malah di sini,” gerutu Raline.


“Kita tadi muter-muter cari lo. Di kelas ngga ada, di kantin juga ngga ada,” sambung Calandra.


“Maaf, maaf. Tadi gue nyari temen yang mau ikut ke rumah Draco juga. Setelah lobi sana sini akhirnya ada juga yang mau,” ujar Hakim setengah membanggakan diri.


“Siapa yang mau ikut?“ tanya Raline.


“Ini si Kamil, ketua kelas gue,” jawab Hakim.


“Hai,” ujar seorang anak laki-laki yang juga duduk di atas motornya yang di parkir di sebelah motor Hakim.


“Eh, gue Raline,” ujar Raline memperkenalkan diri.


“Oh iya. Gue udah kenal lo. Ini Calandra kan?!“ ujar Kamil.


“Iya bener, gue Calandra,” gantian Calandra yang memperkenalkan diri.


“Kebetulan gue ketua kelasnya Draco, jadi gue rasa gue punya kewajiban buat jenguk dia sebagai perwakilan kelas,” ujar Kamil berusaha menjelaskan tujuannya mau ikut dalam rombongan kali ini.


“Oh gitu. Wah bagus banget nih ketua kelas lo,” ujar Raline.


“Iya lah. Jadi kapan nih kita berangkat?“ tanya Hakim.


“Lebih cepat lebih baik,” jawab Calandra.


“Iya bener. Sekarang aja gimana?“ Kamil meminta persetujuan teman-temannya.


“Setuju gue,” balas Raline.

__ADS_1


“Ya udah yuk, kita berangkat,” ujar Hakim.


“Lo bareng Hakim ya Cal. Gue bareng Kamil,” ujar Raline yang sudah naik ke atas motor milik Kami.


Calandra tidak perduli dengan siapa dia naik motor, asalkan bisa sampai ke rumah Draco dan melihat keadaannya, Calandra sudah cukup senang.


Setelah perjalanan kurang lebih setengah jam dengan helm yang cikup tak nyaman untuk Calandra, akhirnya mereka berempat sampai di depan rumah Draco.


“Yuk Cal, turun buruan,” ajak Hakim setelah menghentikan motornya.


“Ini rumahnya Draco?“ tanya Calandra.


“Iya, ini rumahnya Draco,” jawab Raline.


“Iya, iya. Turun lo. Malah nyangkut di situ,” ujar Hakim kesal.


“Eh iya. Maaf ya mil. Nyaman sih,” Raline bersikap manja.


“Cepet turun,” ujar Hakim sambil menyeret temannya itu untuk turun dari motor Kamil.


Karena dipaksa turun oleh Hakim, mau tak mau Raline turun sambil terus melempar senyuman pada Kamil.


“Assalamualaikum,” ujar Hakim saat mereka berdiri di depan pintu rumah Draco.


“Waalaikumsalam,” terdengar suara seorang perempuan dari dalam rumah.


“Mamaahhh,” ujar Raline sambil mencium punggung tangan seorang wanita berusiang sekitar empat puluh tahunan.


“Eh Raline, dari mana?“ tanya perempuan itu.


“Duh si ganteng, masuk nak. Yang dua ini siapa?“


“Ini temen sekelas aku mah, namanya Calandra. Yang sayu itu ketua kelasnya Draco, Kamil.“ Suara Raline melembut saat menyebut nama Kamil.


“Saya mamanya Draco, bu Prastiti.“


“Aku sama Hakim sih biasanya manggil mamah,” ujar Raline.


“Iya. Kalian kan memang udah kayak anak mamah sendiri. Ayo silahkan masuk,” ibu Prastiti mempersilakan.


“Draco sakit apa mah?“ tanya Hakim.


“Semalam demam tinggi, kayaknya karena kehujanan kemarin pas pulang sekolah,” jawab ibu Prastiti.


Raline melirik ke arah Calandra dan terlihat jelas sikap kikuk Calandra saT mendengar jawaban ibu Prastiti.


“Sekarang Draconya masih demam bu?“ tanya Kamil.


“Alhamdulillah sudah turun demamnya. Tadi sudah ibu kasih makan sup ayam,” jawab ibu Prastiti.


“Alhamdulillah,” bisik Calandra.


“Kalian tunggu ya. Ibu panggil Draco ke sini.“

__ADS_1


“Ngga apa-apa bu Draconya turun dari tempat tidur?“ tanya Kamil lagi.


“Ngga apa-apa, anaknya juga ngga suka lama-lama di tempat tidur,” jawab bu Prastiti lang langsung meninggalkan mereka berempat untuk memanggil Draco.


Tak lama kemudiam, Draco yang terlihat masih lemas berjalan ke arah mereka.


“Kapan dateng?“ tanya Draco.


“Ini baru sampai,” jawab Hakim.


“Eh, kok lo ke sini juga Cal?“ tanya Draco.


“Justru si Calandra yang ribut terus mau ke sini,” sindir Raline.


“Emang iya?“ tanya Draco.


“Iya,” Hakim membenarkan.


“Nah ini, Kamil lo juga ke sini?! Gue jadi ngerepotin lo,” ujar Draco.


“Apanya yang repot. Jni kan tugas gue sebagai ketua kelas,” balas Kamil.


“Gimana keadaan lo sekarang?“ tanya Hakim.


“Udah jauh lebih baik dari pada semalam,” jawab Draco.


“Pantes semalam lo nyuruh gue berangkat duluan,” ujar Hakim


“Iya, udah berasa semalam itu.“


“Maaf ya co,” ujar Calandra secara tiba-tiba.


Ketiga orang lainnya mendadak terdiam mendengar ucapan Calandra.


“Kenapa lo harus minta maaf?!“ Draco memecah keheningan sesaat itu.


“Kalau lo ngga anter gue balik kemarin, lo ngga akan kehujanan,” lanjut Calandra.


“Ah, ihi mah masalah sepele Cal,” ujar Draco berusaha menghapus rasa bersalah Calandra.


“Tetep aja bue berasa ngga enak,” balas Calandra.


“Kalau ngga enak ya paling ngga pijitin lah biar Draco rasa enakan badannya,” ujar Hakim.


“Ngaco! Emangnya si Calandra tukang pijit,” ujar Raline.


Setelah selesai berbincang, keempat orang yang menjenguk Draco pamit undur diri. Hakim dan Raline yang memang sudah dekat dengan keluarga Draco menghampiri ibu Prastiti yang sedang berada di dapur. Sementara Kamil sudah duduk di atas motornya untuk memanaskan mesin motornya.


“Makasih banyak lho, lo udah ke sini Cal,” ujar Draco pada Calandra.


“Sebenernya gue agak khawatir sama keadaan lo,” balas Calandra.


“Oh, ternyata cuma agak. Gue pikir lo khawatir banget sama gue,” balas Draco.

__ADS_1


“Apaan sih lo,” balas Calandra kikuk dibarengi rasa malu kepada Draco.


__ADS_2