
Karena sekarang ini Calandra dan semua angkatannya kini sudah ada di kelas akhir, maka jam sekolah mereka diperpanjang setiap harinya. Mereka masih harus menerima pengayaan di tiga mata pelajaran yang akan menentukan kelulusan tiap siswa di setiap jurusan.
Karena mendapat pengayaan di sekolah, maka Calandra memutuskan untuk berhenti dari sekian banyak les yang diikutinya selama ini dan hanya fokhs melngikuti pengayaan di sekolahnya.
Namun semakin mendekati waktu kelulusan, Draco justru semakin aneh. Tak jarang Draco melarikan diri dari jadwal pengayaan yang membuat Calandra cemas. Bagi Calandrca, ujian kelulusan afalah sesuatu yang sangat penting. Kadang dia merasa bahwa ujian ini bagaikan penentu hidup dan matinya.
Ujian ini juga yang akan menjadi penentu, apakah dia bisa menggapai mimpinya untuk bisa masuk universitas impiannya atau justru terpuruk dalam keadaan yang paling buruk.
“Si Draco ngga ikut pengayaan lagi hari ini Cal?“ tanya Raline.
“Ngga. Tadi gue lihat dia keluar gerbang bawa tas,” Hakim yang jutru menjawab.
“Tuh anak kok makin ke sini keluakuannya makin ngaco aja sih,” gerutu Raline.
Calandra hanya terdiam mendengar percakapan antara Hakim dan Raline. Dia sendiri sudah terlampau sedih melihat perubahan yang cukup drastis dari Draco. Namun untuk memutuskan berpisah, dia pun masih belum sanggup.
Bagi Calandra, perhatian yang selama ini di berikan oleh Draco bagaikan Hujan di musim Kemarau di hidup Calandra. Calandra yang merindukan perhatian seorang ayah seolah menemukan pengantinya di Draco.
Selama berpacaran pun, Draco selalu memperlakukannya bagaikan seorang ratu. Memberikan apa pun yang Calandra minta dan selalu siap siaga di setiap situasi yang dihadapi oleh Calandra.
Dengan alasan itu pula, Calandra masih ingin terus bertahan dalam hubungan itu dan masih berharap bahwa Draco akan kembali seperti dahulu kala.
“Kim, anter gue ke SMA Bintang Gemilang yuk,” pinta Calandra.
“SMA Bintang Gemilang? Mau ngapain lo ke sana?“ tanya Raline.
“Gue mau pastiin apakah Draco bener ada di sana. Apakah selama ini dia selalu menemui Irma,” jawab Calandra.
Setelah berpikir sejenak, Hakim pun berkata, “Boleh aja. Kapan lo mau ke sana?“
“Sekarang.“
“SEKARANG?“ jawab Raline dan Hakim bersamaan.
“Iya, sekarang.“
“Terus lo mau bolos pengayaan?“ tanya Raline.
“Sekali ini ajaaaa,” ujar Calandra.
Hakim dan Raline kembali saling melepar pandangan. Mereka berusaha bersepakat tentang jawaban apa yang akan mereka berikan kepada Calandra yang tengah dilanda rasa cemas yang teramat.
__ADS_1
“Lo ngga ikut ngga apa-apa lin?“ tanya Hakim yang juga mencemaskan sahabatnya yang satu itu.
“Gue mah ngga apa-apa. Tenang aja lo,” jawab Raline berusaha menenangkan Hakim.
“Oke kalau gitu. Gue anter lo ke SMA Bintang Gemilang sekarang,” ujar Hakim.
Mendengar perkataan Hakim itu, Calandra langsung bergegas kembali ke kelasnya untuk mengambil tas dan perlengakapan yang lain.
“Nanti kabarin gue keadaan yang sebenernya ya,” pinta Raline.
“Semoga aja sih si Draco ngga ada di sana. Gue takut nanti jadi ada keributan,” jawab Hakim.
“Pokoknya, apa pun yang terjadi lo harus laporin ke gue hari ini juga,” desak Raline.
“Gue udah siap kim. Kita jalan sekarang aja yuk,” ujar Calandra yang sudah berdiri di sebelah Hakim.
“Oh, oke. Ayo berangkat,” balas Hakim agak kikuk dan gugup.
“Kalian hati-hatinya,” Raline melepas kedua sahabatnya itu.
Sepanjang perjalanan, Hakim dan Calandra tak saling berbicara. Tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut keduanya.
Hingga akhirnya mereka sampai di depan SMA Bintang Gemilang, ketegangan itu semakin terasa. Sekolah itu terlihat sudah sepi tapi seperti sekolah lain, pasti di dalam sana masih ada para siswa kelas tiga yang masih melaksanakan pengayaan untuk persoaoan ujian akhir mereka.
“Sepi Cal,” ujar Hakim.
“Tunggu bentar lagi kim. Bisa kan ya,” jawab Calandra.
Hakim hanya terdiam tak menjawab. Dadanya masih berdebar cukup kencang karena takut akan ada kejadian yang pada akhirnya menjadi sebuah kekacauan.
Segerompolan siswa dengan seragam khas keluar melalu pintu gerbang SMA Bintang Gemilang. Mata Calandra begitu fokus melihat satu persatu wajah pasa siswa yang baru saja keluar. Calandra berusaha mengenali wajah Irma yang tak pernah dia lihat sebelumnya.
“Lo lihat ada Irma?“ tanya Calandra.
“Ngga ada Cal,” jawab Hakim, juga memperhatikan gerombolan itu.
“Hakiiiimmm…” terdengar suara seorang dari kumpulan gerombolan itu.
“Haii…” jawab Hakim sambil melambai.
“Kenapa anak-anak SMA Angkasa Biru jadi pada ke sini sih. Ada apa deh?“
__ADS_1
“Emang selain gue, siapa lagi yang suka ke sini?“ pancing Hakim.
“Itu si Draco. Hampir tiap hari dia ke sini.“
“Ngapain dia ke sini?“
“Ah, lo kan sahabatnya dia. Masa lo ngga tahu kalau dia balikan sama si Irma,” jawabnya.
Bukan hanya Hakim yang mendengar jawaban temannya itu tapi juga tentu saya Calandra merasakan hal yang sama.
“Eh, siapa nih kim. Cantik amat.“
“Hah? Oh ini temen gue, Calandra,” Hakim memperkenalkan.
“Hai! gue Rere, temen SMPnya Hakim. Beneran nih bukan pacarnya Hakim?“ tanya Rere berusaha memvalidasi.
Calandra hanya bisa melepar senyum tipis berusaha menahan air matanya terjun bebas membasahi pipinya.
“Hari ini gue ngga lihat ada si Irma sama si Draco,” Hakim berusaha mengalihkan perhatian Rere.
“Tadi sih ada. Tapi pas mau mulai pengayaan, mereka pergi.“
“Lo tahu mereka kemana?“ tanya Hakim.
“Tadi sih mereka bilang mau pergi nonton. Jadi si Draco ngajak Irma buat bolos pengayaan. Eh, ngomong-ngomong apa di SMA Angkasa Biru ngga ada pengayaan yah?“ tanya Rere.
“Ada kok.“
“Terus kenapa si Draco hampir tiap hari ke sini. Nongktong sendirian sambil nunggu Irma balik pengayaan,” ujar Rere yang kebingungan.
“Itu dia alasannya kenapa hari ini gue ke sini. Gue disuruh guru buat cari tahu alasan kenapa Draco ngga pernah ikut pengayaan,” jawab Hakim.
“Nah itu dia. Maksud gue, walau secinta apapun sama orang, masa dia selenggang itu sela,a ini.“
“Tapi nanti kalau dia dateng ke sini lagi, lo jangan bilang ke Draco kalau gue nyari dia ke sini hari ini,” pinta Hakim.
“Oke. Lo tenang aja kim. Gue tau lo lagi dalam misi dari guru, jadi kudu di rahasiain, iya kan?!“ Rere mendekat dan mengecilkan suaranya.
Hakim membuat Rere mempercayai ucapannya itu dan Hakim merasa sangat senang. Buksn hanya Rere mempercayai perkataannya namun kejadian yang dia takuti sejak tadi akhirnya tak terjadi.
Namun kemudian kegembiraan Hakim berubah jadi sebuah rasa khawatir setelah melihat wajah Calandra yang begitu murung, tak berbicara.
__ADS_1