
Saat Calandra mengecek ponselnya setelah membersihkan diri, dia membulatkan kedua matanya dengan penuh. Bagaimana tidak, sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.
Sebuah pesan dari orang tak pernah disangka-sangka oleh Calandra.
“Bersih-bersih dulu sana. Habis itu jangan lupa lo makan, tadi kan di kantin lo cuma minum es susu coklat. By the way, ini nomer gue, Birawa. Lo simpen ya, Cal.“
Calandra berpikir dalam hati, dari mana Birawa mendapatkan nomernya. Selama ini Birawa tak pernah meminta nomernya, begitu pula Calandra tak pernah memberikan nomernya secara suka rela kepada Birawa walau keduanya hampir setiap hadi bertemu dan ngobrol di kampus.
Tak berapa lama sebuah pesan masuk lagi ke ponselnya, “Oh iya, gue dapet nomer lo dari temen sekelas lo, Romi.“
Ternyata Romi, teman Calandra yang pernah tergabung dalam satu kelompok presentasi beberapa waktu lalu yang memberikan nomer Calandra ke Birawa. Dengan alasan agar lebih mudah berkoordinasi, Romi memang meminta nomer ponsel tiap anggota kelompok waktu itu.
“Kok lo kenal Romi?“ Calandra membalas pesan dari Birawa.
“Oh Romi? Dia temen SMA gue. Kebetulan gue pernah lihat lo sama Romi ngerjain tugas bareng teman-teman kalian yang lain di perpustakaan.“ Birawa menjelaskan.
“Lo udah sampai rumah?“ tanya Calandra mengalihkan pembicaraan.
“Baru aja sampai. Lo udah makan?“
“Gue baru aja beres mandi nih. Habis ini mau makan sih. Nyokap gue masak semur daging,“ Calandra berniat pamer.
“Wah… gue nyesel tadi ngga mau pas lo tawarin mampir.“
“Lo suka semur daging?“
“Gue suka segala jenis semur sih.“
“Yaahh.. lo kurang beruntung Bir, coba tadi mau gue ajak mampir. “
“Ya udah kapan-kapan deh gue numpang makan di rumah lo. Hahahaha… sekarang gue mau cari makan dulu keluar.“
“Cari makan? Emangnya lo ngekost?“
__ADS_1
“Ngga. Gue ngga ngekost.“
“Nyokap lo ngga masak?“
“Nyokap gue emang jarang masak. Dia masak kalau sabtu minggu aja.“
“Kenapa gitu?“
“Nyokap gue kerja. Paling cuma ninggalin uang makan aja, sementara kakak gue juga udah kerja jadi jarang makan di rumah,” Birawa menjelaskan.
“Oh gitu. Jadi tiap hari lo makan di luar?“
“Iya. Kira-kira begitu.“
“Ya udah. Sana lo beli makanan cepet. Bentar lagi kayaknya mau hujan.“
Belum juga Calandra mendapat balasan dari pesan singkat dari Birawa, sebuah telepon masuk, sekali lagi mengagetkannya.
“Halo. Kenapa, kok suara kamu bergetar?“
“Aku habis mandi, AC di kamar abis dibersihin juga jadi dingin banget.“
“Belum pake baju yaaaa…” ledek si penelpon.
“Kalau aku belum pakai baju, kenapa emangnya?“ tantang Calandra.
“Pap dong,” si penelpon terbahak.
“Jangan macem-macem ya Draco,” balas Calandra cukup kesal.
“Bercanda Cal,” Draco terkekeh lagi. “Kamu udah sampe rumah ternyata.“
“Udah dong. Masa aku mandi di SPBU!?” Calandra kembali sewot.
__ADS_1
Sebuah suara notifikasi masuk dan terdengar jelas baik oleh Calandra maupun Draco, membuat keduanya sempat terdiam sejenak.
Lalu Draco kembali berkata, “Ya udah. Kamu makan dulu deh, terus istirahat.“
Entah kenapa, suara notifikasi itu membuat jantung Calandra berdebar kencang hingga membuat suara kembali bergetar, “o— oke.“
Keduanya memutuskan sambungan telepon itu dan dengan jantung yang masih berdebar hebat, Calandra memeriksa notifikasi yang tadi masuk saat dia terhuhung dengan Draco.
Benar saja, sesuai apa yang dipikirkan oleh Calandra. Pesan yang masuk itu dari Birawa lagi.
“Ya udah kalau gitu. Lo makan terus istirahat deh.“
Calandra terdiam sebentar, merasa tak habis pikir, bagaimana Draco dan Birawa mengatakan hal yang sama kepada dirinya di waktu yang berdekatan.
Calandra memutuskan tetap membalas pesan singkat dari Birawa tersebut, “Oke. Hati-hati lo ya.“
Calandra meletakan ponselnya kembali ke atas kasur miliknya dan merebahkan badannya sambil berpikir kenapa dia begitu deg-degan dan bahagia saat menerima pesan singkat dari Birawa dan dalam waktu yang bersamaan merasa takut saat menerima telepon dari Draco.
Calandra berpikir dan mulai bertanya pada dirinya sendiri. Apakah dia saat ini sedang selingkuh? Apakah ini rasanya terpacu adrenaline karena berbohong dari pasangan sendiri?
“Ah… gue ngga bohong kok,” gumam Calandra pada dirinya sendiri.
Dia merasa ini bukan sebuah perselingkuhan karena Birawa tak menyukainya. Birawa hanya ramah terhadapnya karena telah membantu memberi informasi tentang Ririn.
“Apa gue yang suka sama si Birawa?“ tanya Calandra lagi pada dirinya sendiri.
Lalu Calandra bangun dari rebahannya dan terduduk di pinggir tempat tidurnya dan menggelengkan kepalanya kencang-kencang.
“Kenapa juga gue suka sama Birawa. Jelas-jelas gue punya Draco dan jelas-jelas Birawa sukanya sama Ririn,” Calandra berusaha menyadarkan dirinya sendiri.
Calandra lalu bangkit dari duduknya, membuka pintu kamar dan langsung mencari mamanya untuk sesegara mungkin mengisi perutnya yang sudah mulai terasa perih karena belum diisi makanan sejak tadi pagi.
Calandra menanggalkan kebingunggannya di dalam kamarnya dan tak ingin terlarut dalam sejumlah pertanyaan yang terbentuk di dalam kepalanya.
__ADS_1