
Sejak hari dimana Calandra tahu bahwa Birawa dan Febby adalah teman dekat, sebisa mungkin Calandra menjaga jarak dengan Birawa.
Bukan karena dia tak ingin mengganggu Birawa dan Febby tapi lebih ke arah malu yang sangat teramat.
“Calandra!“ teriak Birawa berusaha menarik perhatian Calandra.
Namun karena sudah terlanjur malu, Calandra tetap memilih untuk menghindar sebisa mungkin.
“Lo kenapa?“ ujar Birawa yang akhirnya bisa menyusul Calandra.
“Apa, kenapa?“ balas Calandra kikuk.
“Kok tiba-tiba lo menghindari gue?“ tanya Birawa.
“Menghindari lo? Siapa? Gue?“ tanya Calandra dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Birawa.
“Gue ngga lagi menghindar dari lo kok, perasaan lo aja itu,” balas Calandra.
“Setiap kaki gue panggil, lo selalu pura-pura ngga denger.“
“Kapan lo panggil gue?“
“Udah sering lah. Hari ini aja, kalau gue ngga ngejar lo, lo pasti udah ilang lagi,” gerutu Birawa.
“Ah, lo ngaco Bir. Gue emang ngga denger kalau lo manggil,” Calandra berusaha mencari alasan.
“Temen sekelas lo aja, siapa namanya dia tuh?“ ujar Birawa sambile berusaha mengingat. “Dia denger kok waktu gue manggil lo. Malah dia yang nengok.“
“Ngga ah,” Calandra masih mengelak.
“Lo kenapa sih Cal? Malu ya?“ Birawa bertanya langsung pada intinya.
Wajah Calandra mendadak memerah namun dia masih berusaha mengelak, “Malu kenapa?“
“Ya malu karena ternyata Febby itu temen gue,” Birawa langsung terbahak.
Calandra yang melihat ekspresi Birawa yang seperti itu merasa semakin malu. Rasanya dia ingin segera menghilang dari hadapan Birawa.
“Kan udah gue bilang kalau soal Febby, gue ngga butuh bantuan lo,” lanjur Birawa.
“Lagian, lo sama si Febby sama anehnya. Udah tahu temenan kenapa pake segala ngakh-ngaku penggemar,” gerutu Calandra.
“Wah kalau soal itu, bue juga ngga tahu. Si Febby ngga pernah cerita apa-apa. Bahkan dia ngga pernah bilang kalau dia mengagumi gue,” balas Birawa.
“Terus apa dong motivasi dia, bilang sama temen-temennya kalau dia penggemar lo?“
“Coba deh lo tanya sama si Febby langsung. Katanya lo mau jadi penghubung anatara gue dan Febby,” ledek Birawa.
Mendengar itu, rasa kesal di hari Calandra kembali muncul. Bisa-bisanya Birawa terus-terusan meledek dia dengan hal yang memang membuatnya merasa malu sendiri selama beberapa hari belakangan.
__ADS_1
“Jangan-jangan yang selama ini di gosipin pacaran sama lo itu si Febby,” ujar Calandra.
“Hah? Masa sama Febby?!“ balas Birawa.
“Ya, yang paling masuk akal emang itu. Lo khan temenan sama dia, bisa jadi orang-orang pikir persahabatan lo itu adalah jalinan cinta.“
Birawa kembali terbahak mendengar ucapan Calandra dan berkata, “Gue paatikan bukan si Febby yang jadi bahan gosip.“
“Mentang-mentang si Febby sahabatnya, dibelain banget sama nih orang,” gumam Calandra dalam hati.
“Udah ngga usah malu lagi soal gue dan Febby, gue oke aja kok.“ Birawa berusaha menenangkan Calandra.
Walau Birawa sudah berkata seperti itu, namun kenyataannya Calandra tetap saja merasa malu. Apalagi bila dia harus berhadapan dengan Febby.
Walau Febby tak mengetahui segala praduga Calandra terhadapnya tapi tetap saja Calandra merasa malu bil berhadapan dengan Febby.
“Mulai sekarang, gue ngga mau lo menghindari gue lagi. Lo ngerti kan Cal?!“ ujar Birawa.
“Matamu! Kenapa juga lo harus ngatur-ngatur gue,” gerutu Calandra dalam hati.
“Cal, Calandra!? Lo denger kan apa kata gue?“ Birawa mengulang pertanyaannya.
“Iya gue denger,” balas Calandra dengan nada kesal.
“Awas ya, kalau gue panggil lagi, lo masih pura-pura ngga denger,” ancam Birawa.
“Ish, nih anak. Pokoknya awas aja.“
Setelah meyakini bahwa Calandra tak akan menghindarinya lagi, Birawa segera meninggalkan Calandra untuk masuk ke kelas berikutnya. Dengan terburu-buru dia segera masuk ke dalam kelas.
Sementara itu, Calandra yang sudah tak ada kelas hari itu memilih untuk menunggu Draco di tempat biasa mereka janjian.
Calandra pun meninggalkan ruang besar terbuka yang berada di tengah antar gedung jurusan di fakuktas itu. Dia mulai menelusuri jalan beratap menuju taman dekat pintu masuk kampusnya.
Di sepanjang jalan itu, Calandra merasa banyak pasang mata melihat ke arahnya membuatnya merasa sedikit tidak nyaman. Namun dia berusaha untuk tidak perduli dengan apa yang tengah terjadi.
“Dia bukan sih?“ samar-samar Calandra mendengar pertanyaan itu yang entah berasal dari mana.
“Masa sih dia?“ sahut suara yang lain
“Bisa jadi sih. Soalnya dia kan akhir-akhir ini lagi sering banget bareng si Birawa.“
“Ah ngga mungkin kalau dia.“
Semua yang Calandra dengar memang tak terdengar dengan jelas. Hanya bisik-bisik nan samar masuk ke telinganya.
Namun begitu pun dia tak berani mengangkat kepalanya untuk memastikan siapa saja yang sedang saling berbicara itu.
Dan di sisi lain, Calandra juga agak bingung dan kaget juga dalam waktu yang bersamaan. Berusaha mencari tahu dalam hatinya sendiri tentang apa dan siapa yang sedang mereka bicarakaan saat ini.
__ADS_1
“Kenapa nama Birawa disebut? Apa mereka lagi ngomongin cewek yang lagi di gosipin pacaran sama si Birawa?“ tanyanya pada dirinya sendiri di dalam hati.
Walau begitu pun Calandra masih berusaha mencari tahu, apakah yang mereka maksud dan mereka bicarakan itu adalah dirinya. Orang yang sedang ramai dibicarakan berpacaran dengan Birawa adalah dirinya?
Begitu suara bisik-bisik itu menghilang, Calandra langsung berusaha menguasai diri dan menyadarkan dirinya bahwa tak mungkin dia adalah perempuan yang mereka bicarakan tadi.
Dia dan Birawa memang sempat dekat akhir-akhir ini, namun itu semua demi kepentingan Birawa semata yang berusaha mengumpulkan info tentang Ririn, orang yang Birawa suka sejak dulu.
Dan walau pun Calandra cukup percaya diri dengan penampilan, wajah dan kepintaran yang dia miliki, tetap saja Calandra tak segitu yakin bahwa dirinya adalah yang dianggap sebagai pacar Birawa yang cukup popular di kampusnya itu.
“Cal… Cal…” panggilan seseorang memecah kesibukannya mencari jawaban dala dirinya sendiri.
Dengan cepat dia menyadari bahwa Draco yang memanggilnya.
“Kamu kenapa? Ada masalah?“ tanya Draco khawatir.
“Aku? Aku ngga kenapa-kenapa,” jawab Calandra.
“Ngga kenapa-kenapa, tapi dari tadi aku panggil ngga ngerespon,” balas Draco.
“Oh itu… maaf ya, aku lagi kepikiran soal presentasi besok,” jawab Calandra berbohong.
“Emang ada presentasi apa besok?“ Draco berusaha untuk ikut serta dalam kekhawatiran Calandra soal presentasinya.
“Soal… soal bisnis yang mungkin aku dan tim ambil,” Calandra memberi jawaban yang makin asal-asalan.
“Ada yang bisa aku bantu?“ Draco menawarkan diri.
“Em… ngga deh kayaknya. Udah kamu fokus aja sama tugas fotografi kamu. Udah dapet objek-objek yang kamu cari?“ tanya Calandra berusaha mengakihkan topik pembicaraan.
“Udah sebagian tapi ada beberapa lagi yang belum,” jawab Draco.
“Kapan mau cari lagi?“
“Aku belum tahu. Rencana ya sih sore ini,” jawab Draco.
“Ya udah yuk.“
“Yuk kemana? Pulang?“
“Kok pulang? Ayo cari objek yang belum kamu dapet buat tugas fotografi kamu,” jawab Calandra.
“Kamu mau temenin aku?“ tanya Draco.
“Kenapa? Kamu ngga maubaku temenin?“
“Maulah… mau banget malah,” jawab Draco dengan hati yang gembira.
Calandra dan Draco pun segera meninggalkan kampus Calandra dan mulai melakukan perburuan objek demi memenuhi tugas fotografi Draco.
__ADS_1