Dendam Sang Aquarius

Dendam Sang Aquarius
Bab 46. Mulai tak nyaman.


__ADS_3

Sejak saat itu, Birawa resmi menjadi selingkuhan bagi Calandra. Walu sjlit bagi Calandra menerima kondisinya sekatang namun dia merasa rasanya ini semua jadi jauh lebih baik.


Namun kenyataannya, semakin ke sini Calandra jadi semakin was-was setiap bertemu dengan Birawa walau harusnya dia jauh merasa lebih santai karena kenyataannya Birawa sudah menyeyujui posisinya sekarang ini.


“Hari ini kamu aku anter kamu pulang ya?!“ ujar Birawa saat keduanya berjalan menuju lapangan parkir kampus.


“Aku hari ini mah pergi nonton, Bir.“


“Bareng Draco?“


Calandra hanya tefdiam tak berani menjawab pertanyaan dari Birawa.


“Oke!“


“Kamu marah ya, Bir?“


“Menurut kamu?“


“Maaf ya, Bir!?“


“Kalian nonton dimana?“


“Mall deket kampus,” jawab Calandra.


“Oke!“


“Kamu marah ya, Bir?“


“Pergilah,” jawab Birawa dengan nada kecewa.


Calandra memandang Birawa selama beberapa detik lalu meninggalkan laki-laki itu berdiri sendiri di salah satu sudut lorong kampus.


Sesuai janji, Draco menjemput Calandra di depan kampus. Dengan perasaan cemas, Calandra mulai menyapu ke sekeliling berusaha mencari sosok Birawa namun tak dia temukan. Begitu pula di bioskop tempat dia dan Draco nonton hari ini.


Berkali-kali Calandra berusaha memeriksa ponselnya, khawatir Birawa menghubunginya namun ternyata pikirannya salah. Hingga film dimulai, ponsel Calandra masih sunyi tanpa notifikasi apapun dari Birawa.


Sekali lagi Calandra mengecek ponselnya namun ternyata belum juga ada tanda-tanda dari Birawa, namun keadaan itu bukan membuat Calandra merasa tenang namun justru semakin resah hatinya.


“Kamu kenapa Cal?“ tanya Draco.


“Apa? Aku? Aku ngga apa-apa.“


“Yakin ngga apa-apa?!“


“Iya. Aku ngga apa-apa Bir, eh co.“


“Bir?“


“Maksudnya?“


“Harusnya aku yang tanya, kok manggil aku Bir!?“

__ADS_1


“Emang aku manggil kamu Bir?“ Calandra berusaha ngeles.


“Iya. Tadi kamu panggil aku Bir,” Draco bersikeras.


“Mungkin aku salah sebut.“


“Salah sebut? Emangnya Bir itu siapa?“


“Siapa?“


“Iya, Bir itu siapa?“


“Oh Bir. Mungkin otak aku ke distrect sama Birawa.“


“Birawa itu siapa?“ Draco mulai kehabisan kesabaran.


“Birawa itu temen kampus aku.“


“Spesial?“


“Spesial gimana maksud kamu?“


“Itu sampai kamu inget-inget namanya.“


Calandra terbahak, “Ngaco kamu. Masa cuma karena inget namanya jadi spesial.“


“Kamu lagi sama aku sampai inget nama dia. Kalau ngga spesial terus apa?“


“Kok jadi mood kamu yang rusak. Bukannya harusnya mood aku yang rusak ya?“


“Terserah kamu deh. Pokoknya aku mau pulang sekarang, kamu boleh anter tapi kalau ngga mau anter juga ngga apa-apa aku pulang sendiri!“


Draco tak bisa lagi mendebat Calandra. Dia hanya bisa menuruti keinginan Calandra untuk segera pulang.


Mood Calandra yang amburadul juga bukan hanya sekedar alasan semata karena perasaannya memang sedang tak menentu dan kalang kabut.


Sisi lain hatinya begitu khawatir dengan perasaan Birawa, dengan apa yang dipikirkan oleh Birawa dan apa yang sedang dilakukan oleh Birawa saat ini.


Perjalanan kembali ke rumah Calandra pun kini menjadi semakin tak menyenangkan bagi keduanya. Baik Calandra maupun Draco sama-sama diam tanpa satu patah kata pun.


“Cal… kamu yakin ngga sedang merencanakan sesuatu dari aku?“ tanya Draco saat Calandra baru turun dari motor.


“Jangan mulai lagi ya Draco?!“ Calandra memasang wajah cemberut.


Draco menarik tangan Calandra saat dia membalikkan tubuhnya. Draco menarik tubuh Calandra mendekat padanya yang masih terduduk di atas motor lalu memeluknya.


“Jangan khianati aku ya Cal… jangan balas dendam sama aku,” bisiknya.


Calandra yang mendengar itu hanya diam tak menjawab walau di dalam hatinya dia berkata, “Enak saja! Kamu harus merasakan sakitnya menjadi aku beberapa tahun lalu.“


Draco melepaskan pelukannya lalu pamit dan segera menghilang dari pandangan mata Calandra yang juga segera masuk ke dala rumah sambil mencari ponselnya dan berusaha menghubungi Birawa.

__ADS_1


“Sudah pulang nak?“ tanya mamanya di ruang tamu.


“Sudah mah,” jawab Calandra namun kedua matanya masih fokus melihat ke arah layar ponsel.


“Ini, ada teman kamu. Udah nunggu dari tadi.“


Calandra mengalihkan pandangannya dari ponsel dan betapa kagetnya Calandra saat melihat Birawa tengah duduk di sofa ruang tamunya, “BIRAWA!“


“Iya aku. Santai aja sih, ngga usah sampai segitu kagetnya.“


“Kok kamu di sini?“


“Udah dari tadi lho, Birawa nunggu kamu pulang.“


“Iya lho, aku sampe bantu mama kamu beresin taman,” timpal Birawa.


“Makasih banyak lho nak Birawa,” balas bu Tahta sambil tersenyum.


“Besok-besok kalah perlu bantuan saya, telepon aja tante. Aku pasti langsung datang,” ujar Birawa.


“Bener ngga apa-apa kalau tante minta bantuan kamu lagi?“


“Tenang tante, kalau soal taman saya pasti selalu bisa, karena saya emang suka tumbuh-tumbuhan,” balas Birawa.


“Oke. Kalau gitu tante ngga akan sungkan lagi. Sekarang tante tinggal dulu ya, mau ke dapur.“


“Baik tante,” jawab Birawa.


“Sejak kapan kamu di sini?“ tanya Calandra begitu mamanya sudah tek terlihat lagi.


“Sejak kamu naik motor dan pergi sama Draco.“


“Ngapain kamu di sini?“


“Bantu-bantu mama kamu beresin taman.“


“Jangan aneh-aneh kamu.“


“Kamu udah makan?“ tanya Birawa tanpa perdulibperkataan Calandra.


Calandra diam tak menjawab tapi Birawa langsung mengambilntangan Calandra yang tengah terduduk di sampingnya.


“Ayo kita makan keluar. Mama kamu belum masak.“


“Makan dimana?“


“Karena dari tadi kamu belum makan, kita cari masakan sunda yang banyak lalapannha karena itu kesukaan kamu,” jawab Birawa.


“Sok tahu. Dari mana kamu tahu aku suka lalapan?“


Birawa mendekatkan wajahnya pada Calandra serta memgang dagu Calandra dan dengan nada yang kecil Birawa menjawab pertanyaan Calandra itu.

__ADS_1


“Aku tahu semua hal tentang kamu Calandra.“


__ADS_2