Dendam Sang Aquarius

Dendam Sang Aquarius
Bab 7. Semudah itu Draco mencuri hati Calandra


__ADS_3

Setelah hari itu, hubungan antara Draco dan Calandra tak lagi sama. Mereka yang semula memiliki hubungan hanya sebatas teman sepertinya sekarang sudah naik satu level menjadi PDKT alias dalam masa pendekatan.


Keadaan ini pun ternyata tak luput dari perhatian kedua teman mereka yang lain, Hakim dan Raline. Namun kedua teman mereka itu ternyata mendukung situasi dan keadaan itu.


“Gue pikir-pikir lo sama Draco cocok deh kalau sampai pacaran Cal,” ujar Raline saat keduanya tengah berdiri di balkon depan kelas mereka di lantai empat gedung.


“Apaan sih lo. Tiba-tiba kok ngomongin gue yang cocok sama si Draco,” ujar Calandra sambil merapikan rambutnya yang tertiup angin lembut yang berhembus.


“Jangan pikir gue buta dan ngga peka ya Cal,” ujar Raline tajam.


“Siapa juga yang bilang lo buta lin? Kan gue ngga bilang kayak gitu,” timpal Calandra mencoba mencairkan suasana karena menyadari Raline agak marah.


“Habisnya, lo gitu sih. Lo kayak berpikir kalau gue ngga tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi antara lo dan Draco, iya kan!?“ ujar Raline.


“Emangnya menurut lo, gue sama Draco kenapa?“ Calandra menguji temannya itu.


“Sekarang apa-apa, kemana-mana lo sama si Draco selalu aja berdua mulu. Bahkan kalo kita ke kantin, si Draco pasti minimal udah beliin lo minuman. Nah gue udah dari kecil temenan sama dia lho, ngga pernah tuh dia memperlakukan gue kayak lo gitu,” jawab Raline.


“Jadi, maksudnya lo cemburu nih sama gue?“ tanya Calandra dengan nada meledek.


“Cemburu? Gue? Sama lo dan Draco?“ ujar Raline sambil membulatkan sepasang matanya.


“Iya. Bener kan?“ timpal Calandra.


“Ngaco banget lo Cal. Justru gue seneng kalau lo sama Draco sampai jadian, pacaran. Jadi dua temen baik gue bisa pacaran. Jadi gue ngga akan kehilangan kalian berdua,” jawab Raline dengan tulus dan ceria.


“Tapi gue sama Draco belum sampe ke sana, lin. Gue mah mau nikmatin aja apa yang ada sekarang,” jawab Calandra tersenyum manis.


“Jadi si oon itu belum bilang apa-apa ke lo Cal?“ tanya Raline mencoba mencari tahu.


“Emang dia berencana ngomong apa ke gue?“ tanya Calandra penasaran.

__ADS_1


“Lah, mana gue tahu. Gue mah ngga tahu,” balas Raline cepat.


Di tengah obrolan Raline dan Calandra, Hakim dan Draco datang menghampiri mereka berdua yang masih berdiri di balkon lantai empat gedung khusus angkatan mereka.


“Lagi pada ngomongin apa sih kalian?“ tanya Hakim melihat dengan wajah penasaran.


“Ngomongin burung yang lagi terbang di sana tuh,” ujar Raline sambil menunjuk seekor burung dara yang terbang di dekat mereka.


“Oh,” jawab Hakim langsung saja percaya dengan apa yang dikatakan oleh Raline.


“Ini, gue bawain buat lo,” ujar Draco sambil memberikan jus terong belanda kepada Calandra.


“Wah, makasih banyak lho co,” ujar Calandra, tersenyum manis saat menerima minuman kesukaannya itu.


“Buat gue mana, co?“ tanya Raline dengan nada manja.


“Beli sendirilah kalau lo mah,” seru Draco.


“Bisa-bisanya ya lo. Lo kan tahu di sini ada dua orang, bukan cuma si Calandra, masa lo cuma beli satu minuman sih co,” Raline pura-pura ngambek.


“Apa dah! Lo sama gue berteman udah dari kecil tapi lo bilang ngga tahu kesukaan gue apa?! Sementara ke si Calandra, lo baru beberapa bulan kenal tapi udah hatam banget sama apa yang jadi kesukaan dia,” keluh Raline.


“Apaan sih lo lin. Cuma gitu aja ngambek. Sini gue aja yang beliin lo minuman,” sergah Hakim.


Raline menyahut dengan sewot, “Emangnya lo tahu apa yang jadi kesukaan gue?“


“Apa ya?“ Hakim berkata dengan ketidak yakinan dan itu berhasil membuat Raline semakin kesal.


“Kacau. Gue pikir gue ini sahabat kalian. Gue pikir kalian menganggap gue beda dengan teman yang lain, ternyata gue cuma terlalu banyak berharap pada kalian,” keluh Raline.


Lalu Draco berkata, “Jangan marah lagi, lin. Nanti nalik sekolah gue bawain jus aplukat tanpa susu coklat yang biasa lo minun jaman kita masih SD.“

__ADS_1


“Lo pikir gue lupa sama batagor dengan ektra ketimun kesukaan lo, lin?“ sergah Hakim.


Bibir Raline yang semula membuat lengkungan ke atas kini berubah posisi. Lengkungan panjang ke arah bawah kini menghiasi wajah manis Raline, manandakan kebahagiaan menguasai hatinya kini.


“Gue ngga perduli kalau nanti, suatu saat masing-masing dari kalian udah ada dan punya pasangan masing-masing. Bagaimana pun cara kalian nanti nge-tread pasangan kalian kayak apa, tapi jangan lupa sama gue. Gue janji ngga bakal ganggu kalian kalo udah pada punya pacar, tapi selama kalian masih single, belum punya pacar, kalian adalah milik gue. Hahahaha,” ujar Raline berbahagia tapi justru membuat dua sahabat laki-lakinya menjadi takut.


“Ngeri banget lo lin,” ujar Hakim tajam.


“Gimana kalau lo beliin gue batagornya sekarang kim?“


Raline membulatkan matanya dan memberi isyarat dengan bibirnya pada Hakim untuk meninggalkan Calandra dan Draco berdua di balkon lantai empat yang sebenarnya ramai dengan murid yang lain yang sedang ngobrol dan bercanda.


“Oh… iya. Hayo kita ke kantin, nanti lo gue beliin batagor dengan ektra mentimun biar sekalian bisa lo jadiin lalapan buat makan malam,” ujar Hakim yang menyadari dan mengerti isyarat yang di berikan oleh Raline.


Raline dan Hakim pun segera beranjak meninggalkan Calandra dan Draco yang kala itu hanya saling terdiam.


“Gimana, lo masih sakit co?“ tanya Calandra begitu Raline dan Hakim sudah tak terlihat lagi oleh matanya.


“Berkat lo, gue sekarang udah sembuh total. Badan gue udah fit lagi kayak biasanya,” jawab Draco penuh semangat.


“Berkat gue?“ Calandra yang kebingungan bertanya.


Draco tersenyum lalu menjawab, “Iya. Karena waktu itu lo udah jenguk gue dan energi positif lo sampe ke gue makanya masa pemulihan gue dari sakit kemarin jadi jauh lebih cepat.“


“Ngaco banget lo. Mana ada yang kayak begitu co?“ timpal Calandra sambil tertawa kecil.


“Lho kenapa, lo ngga percaya Cal?“


“Bagaimana bisa gue percaya sama yang kayak gitu co. Orang tuh sembuh karena minum obat dan cukup istirahat, bukan karena dijenguk sama siapa.“


“Pinter. Lo bener banget. Gue kasih tahu ya sama lo, gue cepet sembuh karena gue minum obat dan cukup istirahat. Tapi kalo bukan karena lo jenguk, gue ngga akan rajin buat minum obat dan secepatnya bisa sembuh, supaya gue bisa sekolah lagi dan ketemu sama lo tiap hari di sekoalah kayak gini lagi,”

__ADS_1


Calandra yang mendengar kalimat itu dari Draco tersenyum malu. Wajahnya merah dan terasa hangat, bertanda bahwa Calandra bahagia mendapatkan kata-kata manis itu.


Hati Calandra yang sebenarnya tak mudah diketuk orang, dengan mudahnya dimasuki oleh Draco tanpa aba-aba yang berarti, serta tanpa usaha yang cukup keras dari Draco.


__ADS_2