Dendam Sang Aquarius

Dendam Sang Aquarius
Bab 38. Calandra tak boleh salah paham


__ADS_3

Sebuah telepon masuk ke ponsel miliki Calandra saat dia baru saja bangun dari duduknya setelah tiga jam mendengarakan mata kuliah di kelasnya.


“Iya co?“


“Maafin ya Cal, hari ini aku ngga bisa jemput kamu,” ujar Draco di sambungan telepon itu.


“Kenapa?“


“Hari ini tiba-tiba adakelas tambahan di mata kuliah penyiaran,” balas Draco.


“Kok mendadak?“


“Dosen aku minggu depan ngga bisa ngasih materi, jadi di rapel ke hari ini.“


Dengan menahan rasa kecewa Calandra memberi jawaban, “Oke kalau gitu. Aku balik sendiri.“


Setelah menutup telepon dari Draco, dengan langkah gontai Calandra kelhar dari dalam kelas. Lagi-lagi di sana dia melihat Birawa yang sedang sibuk memainkan ponselnya.


Calandra dengan hati-hati mendekati Birawa, “Ada kelas lagi hari ini?“


“Eh, bikin kaget aja lo Cal. Iya tadi gue abis ada quiz di kelas ujung sana.“


“Lama-lama lo pindah ke sini ya,” balas Calandra sambil terbahak dan diikuti pula tawa Birawa.


“Lo masih ada kelas ngga? Ke kantin dulu yuk,” ajak Birawa.


“Gue udah ngga ada kelas lagi hari ini.“


“Wah berarti lo langsung balik dong,” ujar Birawa dengan nada kecewa.


“Ngga kok. Hari ini bueblagi ngga buru-buru.“


Tiba-tiba suara Birawa kembali terdengar riang, “Yuk ke kantin dulu.“


“Yuk, sekalian gue mau ngerjain tugas.“


“Gila, udah empat SKS masih ada tugas juga?“


“Ya gimana dong ya!?“ jawab Calandra dibarengi senyum pahit.


Setelah memesan minuman serta nyobrol ngalor ngidul bersama Calandra yang sambil mengerjakan tugas yang diberikan dosen, Birawa melirik jam tangannya dan sadar bahwa dia harus kembali menghadiri kelas.


“Tugas lo masih banyak?“ tanya Birawa.


“Lumayan sih.“


“Gue masuk kelas dulu ya?!“


“Ya udah sana.“


“Lo gue tinggal, ngga apa-apa?“


Calandra mengangkat kepalanya, memindahkan pandangannya dari buku buku tebal di atas mejanya ke arah Birawa. “Ya ngga apa-apalah. Emangnya gue anak kecil, takut ditinggal?!“


Birawa melemparkan senyum lalu berjalan meninggalkan Calandra yang kembali asyik dengan tugasnya dan Birawa berjalan menuju kelas berikutnya.


Setelah satu setengah jam mendengarkan dosen memberi materi, Draco bergegas keluar kelas dan langsung menuju kantin.


Sesuai harapannya, ternyata Calandra masih ada di tempat semula. Masih asyik tenggelam mengerjakan tugasnya.


“Lo masih di sini Cal?“

__ADS_1


Calandra membenarkan posisi duduknya dan meregangkan ototnya dan berkata, “Iya. Tinggal dikit lagi sih ini kayaknya.“


“Gue pikir lo udah balik.“


“Eh, emangnya udah berapa lama ini gue negrjain tugas di sini?“


“Satu setengah jam.“


“Udah lama juga ya!? Tapi nanggung sih, tinggal dikit lagi.“


“Ya udah lo beresin aja, gue tungguin.“


“Ngapain nungguin gue? Balik aja sana,”


“Sekali-sekali ngga apa-apalah, biar sekalian bisa balik bareng,” jawab Birawa dengan santai.


Calandra cukup kaget mendengar ucapan Birawa itu. Jantungnya mendadak berdetak lebih cepat dari biasanya. Sesungguhnya Calandr sendiri tidak mengerti kenapa tejadi seperti itu, namun dia berusaha untuk tidak terlalu perduli.


Setelah satu jam kemudian, “Ah… akhirnya beres juga.“


“Udah beres?“ tanya Birawa.


“Udah nih,” balas Calandra sambil membereskan barang-barangnya ke dalam tas.


“Yah… gue baru aja pesen mie rebus,” ujar Birawa.


“Terus?“


“Lo temenin gue ya makan mie?!“ pinta Birawa.


Calandra yang melihat semangkok mie rebus dengan telur sebagai pelengkapnya, tergoda juga dan akhirnya menyetujui ajakan Birawa.


“Gue harus balik nih.“


Birawa yang melihat langit yang sudah mulai berubah warnanya pun berkata, “Udah sore ya ini!?“


“Iya. Udah sore banget, makanya gue harus balik.“


“Yuk!“ ujar Birawa ssambil mengambil tote bag milik Calandra.


Calandra yang kebingungan hanya mengikuti Birawa yang sudah lebih dulu berjalan meninggalkan kantin. Hingga akhirnya keduanya berhenti di tempat parkiran motor.


Birawa menaikan tote bag milim Calandra ke atas motornya.


“Kok tote bag gue lo bawa?“ tanya Calandra yang masih belum paham situasinya.


“Lah, emang mau lo tinggal?“


“Ya mau gue bawa balik lah.“


“Nah, bener dong kalau gitu. Gue bantuin lo bawa ini tote bag. Sekarang lo naik deh,” perintah Birawa.


“Naik? Ke motor?“


“Ya kan gue punyanya motor, kalau gue punya mobil lo naik ke mobil dong.“


“Maksud gue, gue bareng lo baliknya?“


“Iya. Lo gue anter sampe rumah.“


Tanpa pikir panjang lagi, Calandra pun naik ke atas motor Birawa yang dengan segera berjalan meninggalkan kampus mereka.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Birawa begitubaktif berbicara. Sementara Calandra lebih banyak diam dan berbicara hanya jika ditanya. Bukan karena apa, tapi mendadak detakan jantung Calandra semakin menjadi-jadi


Namun Calandra tahu betul bahwa Birawa sedang mengincar Ririn, teman satu sekolahnya dulu, jadi mana mungkin Birawa tertarik padanya. Mungkin kebaikannya saat ini dan kemarin-kemarin hanya untuk terus bisa mengorek informasi tentang Ririn. Apalagi Calandra sadar diri bahwa dia kini tidak lagi single tapi dia sudah memiliki Draco sebagai kekasih yang sudah dia pacari lebih dari tiga tahun sejak SMA.


“Jadi ini rumah lo?“ tanya Birawa saat Calandra memintanya menghentikan motornya.


“Iya, ini rumah gue. Mau mampir?“ Calandra menawarkan.


“Kapan-kapan ajalah. Ternyat rumah kita deket ya?!“


“Kapan-kapan? Yakin amat lo bakal manjang main sama gue,” gumam Calandra dalam hati.


“Emang rumah lo dimana?“ tanya Calandra, penasaran juga.


“Perumahan Pilar Indah.“


“Perumahan Pilar Indah?“


“Iya. Kenapa emang?“


“Kayaknya gue ada temen tinggal di sana deh,” ujar Calandra sambil berpikir mencoba mengingat-ingat siapa temannya itu.


“Ah masa sih? Siapa?“


Calandra masih mencoba untuk mengingat tapi sel otaknya sama sekali tak bisa diajak kerjasama, “Lupa gue.“


Birawa terbahak melihat ekspresi wajah Calandra yang sangat berusaha mengingat namun pada akhirnya dia tak menemukan jawaban yang dia cari.


“Udah kapan-kapan lagi lo inget-inget siapa nama temen lo itu. Sekarang gue balik ya.“


Walaupun dengan wajah cemberut karena sudah di tertawakan Birawa dengan puas, Calandra tetap menyahut saat Birawa pamit.


“Ya udah sana pulang. Terima kasih ya.“


Birawa tersenyum lalu dengan cepat meninggalkan Calandra di depan rumah. Menyadari bahwa Birawa sudah menghilang dari pandangannya, Calandra pun segera masuk ke dalam rumah.


“Draco ngga mampir dulu nak?“ tanya bu Tahta.


“Itu bukan Draco mah,” jawab Calandra.


“Lho, terus siapa?“


“Temen kampus aku.“


“Kamu sama Draco putus?“


“Ngga mah. Ih kok mama malah sumpahin aku sama Draco putus,” rengek Calandra.


“Mama bukan ngumpahi tapi mama nanya. Mama kagete tiba-tiba kamu dianter bukan sama Draco.“


“Draco tadi ada kelas dadakan jadi ngga bisa anter aku pulang. Itu kebetulan temen aku sayu arah pulang ke sini jadi dia nawarin aku buat pulang bareng. Ya aku mau aja,” Calandra menjelaskan.


“Oh gitu. Ya udah sana mandi, udah sore gini. Kamu udah makan?“


“Belum mah. Aku mandi dulu ya!?“


“Oke.“


Selesai mandi, Calandra mengecek ponsel yang dia letakan di atas kasur bersama tas yang dia gunakan tadi untuk kuliah.


Di layar ponselnya tertulis sebuah pesan baru, pesan itu membuat Calandra membulatkan matanya dengan penuh.

__ADS_1


__ADS_2