
Semakin hari Draco dan Calandra semakin lengket saja. Selama mereka berdua berada di luar kelas, kedua insan yang sedang dimabuk kepayang ini akan selalu terlihat saling menempel satu sama lain dalam satu paket cinta. Sementara dua 'pengawal' mereka, Raline dan Hakim justru kadang beberapa kali sempat berpencar walau pada akhirnya kembali ke dalam formasi awal mereka.
Setiap pagi, sebelum jam belajar di mulai, biasanya mereka bergantian memasuki kelas pasangannya hanya untuk sekedar ngobrol dan menyerahkan buku harian bersama milik mereka yang saat ini sudah masuk pada buku ke empat.
Bahkan di buku yang kali ini mereka sudah milai membahas tentang masa depan keduanya, memikirkan naama yang akan meteka berikan kepada anak mereka bahkan ada gambar sebuah denah rumah yang nantinya akan mereka bangun bersama untuk mereka tempati saat mereka sudah menikah nanti.
Kedekatan Calandra dan Draco bukan hanya jadi rahasia umum diantara teman-teman satu sekolahnya bahkan kini telah diketahui oleh para guru dan deretan staff di sekolah meteka itu. Bahkan mereka juga sempat di panggil oleh guru BP ke dalam ruangannya untuk mendapatkan bimbingan.
“Kalian tahu ngga, kenapa kalian saya panggil ke sini hari ini?“ guru BP mereka bertanya saat Draco fan Calandra baru saja duduk dihadapan guru BP itu.
“Saya kurang tahu pak. Baru aja saya mau tanya ke bapak kenapa saya dan Draco di panggil ke ruangan BP ini,” jawab Calandra.
“Kita langsung saja ke intinya ya. Kalian itu masih kecil lho. Masih panjang jalan kalian, masa udah pacar-pacaran,” guru BP mereka mengkhawatirkan kindisi mereka.
“Kami bisa jaga diri kok pak,” jawab Draco.
“Memang harus begitu. Calandra itu anak perempuan dari orang tuanya, kalau sampai terjadi apa-apa kasihan mama papa kamu Cal,” timpal guru BP itu, mengalihkan tatapannya dari Draco ke Calandra.
“Iya pak. Saya mengerti pak,” jawab Calandra.
“Tapi di sekolah ini bukan cuma kita aja kan pak yang pacaran,” protes Draco.
“Tenang aja Draco, bukan cuma kalian yang saya pamggil ke sini dan saya berikan pengarahan dan pembimbingan.“
“Iya saya ngerti pak.“
__ADS_1
“Kamu tahu kan Draco, kalau Calandra ini anak yang berprestasi. Dia selalu ada di peringkat pertama di kelas. Belum lagi kalau ada perlombaan, Calandra ini salah satu yang diandalkan pihak sekolah,” tambah guru BP mereka.
“Nah itu dia pak. Bapak bisa lihat kan kalau hubungan saya dan Calandra tak menurunkan prestasi dari Calandra,” tukas Draco.
“Apakah kamu bisa janji ke saya, bahwa kualitas dan prestasi Calandra tidak akan pernah menurun,” guru BP itu setengah mengancam.
“Saya janji pak!“ jawab Draco.
Setelah diskusi yang sesungguhnya berat untuk anak seusia mereka, namun akhirnya bisa juga mereka selesaikan dengan sebuah kesepakatan yang harus Draco dan Calandra tepati.
Pihak sekolah memang tidak bisa melarang dan memberi sanksi keras kepada para murid yang memiliki hubungan asmara. Namun sebisa mungkin mereka berusaha untuk selalu mengawasi dan sesering mungkin memberi pembimbingan.
Terutama dalam kasus Dravo dan Calandra yang salah satunya selalu menjadi murid yang bertengger di rangking teratas di kelas dan selalu masuk dalam kelas-kelas unggulan. Sering kali pula mendapatkan juara dalam beberapa kompetisi yang membawa nama sekolah, membuat sekolah Angkasa Biru namanya semakin bersinar.
Banyak pula diantara teman-teman satu sekolah mereka yang menyayangkan, Calandra harus memilih untuk berpasangan dengan Draco yang notabennya anak selengean dan juga tidak pintar walau pun tak bisa dikatakan sepenuhnya bodoh.
Di kelas dua ini pun Darco kembali menempati kelas dilapisan kedua, itu pun karena kerja keras dan kegigihan Calandra dalam mengajari Draco semua yang dia kuasai.
Di kelas dua ini pun, Draco harus berpisah dengan Hakim yang ternyata jadi satu kelas di kelas dua ini. Sementara Calandra masih masuk kelas unggulan.
“Kamu ngga mau belajar bahasa inggris?“ Calandra berusaha membujuk Draco.
“Aku mah ngga pinter bahasa inggris kayak kamu, males ah,” Draco langsung menolak.
“Kamu pikir aku langsung bisa bahasa inggris pas lahir!? Aku juga butuh proses co.“
__ADS_1
“Aku males Cal kalau haru ambil les ini itu,” rengek Draco.
“Kalau ngga ambil les, siapa dong yang ajarin kamu?“
“Ya belajar aja yang ada di sekolah, toh di sini kita punya guru bahasa inggris,” jawab Draco.
“Ya tapi di sekolah tuh terlalu dasar pelajarannya. Beda sama kalau kamu ambil les di tempat yang memang spesialist,” Calandra masih terus berusaha menggoyahkan pendirian Draco.
“Ya udah. Kalau gitu, kamu aja yang ajarin aku. Gimana?“ Draco nambaknya kembali memenangkan perdebatan kali ini.
Bukan sekali ini Calandra berusaha membujuk Draco untuk mengambil pelajaran tambahan di luar sekolah agar lebih mudah bagi Draco menguasai materi pelajaran yang mereka dapatkan di sekolah.
Namun ternyata bagi Draco, mengambil les dan pelajaran tambahan di luar sekolah merupakan sebuah beban berat yang sebisa mungkin dia hindari. Bahkan walau pun yang meminta san merayu itu adalah kekasihnya sendiri, Calandra.
Walau Calandra ingin sekali kekasihnya itu bertambah prestasinya namun pada akhirnya dia tak bisa memaksa Draco untuk menjadi apa yang Calandra inginkan. Karena kenyataannya, Calandra dengan sangat sadar memulai hubungannya bersama Draco dengan keadaan Draco yang demikian.
Bahkan dulu Calandra sama sekali tak perduli saat banyak yang mengatakan bahwa Draco memanfaatkannya untuk nilai dan popularitas. Calandra merasa bahwa justru Draco lah yang memiliki lebih banyak teman ketimbang dirinya.
Kadang Calandra merasa, mereka yang berteman dengan dia saat ini karena tahu dia adalah orang yang berprestasi dan memiliki motif tertentu seperti mereka menyelesaikan soal pelajaran yang tak bisa mereka selesaikan sendiri, sementara teman-teman Draco adalah mereka yang tulus berteman tanpa ada embel-embel di kemudian hari.
Namun karena Calandra adalah seorang Aquarius yang supel dan bisa masuk dalam kelompok mana pun namun juga Calandra sering sekali merasa tidak enak untuk menolak sebuah permintaan dari siapa pun, sering kali Calandra dimanfaatkan oleh teman-teman di sekitarnya. Walau pun menyadari sikap teman-temannya itu, Calandra tetap menerima dan lagi-lagi tidak bisa menolak.
Dan pada akhirnya hanya Raline, Hakim dan Draco adalah orang dekat bagi Calandra yang selalu menarik Calandra dari mereka yang berusaha memanfaatkan Calandra secara maksimal.
Itu pula yang akhirnya menjadi alasan terbesar bagi Calandra tetap nyaman berada di sisi Draco dan tidak pernah perduli sama sekali dengan ocehan orang di sekililingnya tentang hubungannya dengan Draco.
__ADS_1