Dendam Sang Aquarius

Dendam Sang Aquarius
Bab15. Pembagian kelas baru


__ADS_3

Hari ini adalah hari pertama masuk sekolah setelah sekolah libur kenaikan kelas selama lebih cari dua minggu lamanya.


Belum juga Calandra sampai ke dalam kelas, Nia yang akhirnya jadi teman sekelas Calandra selama di kelas dua sudah menghampirinya di tengah lapangan yang masih penuh dengan para siswa SMA Angkasa Biru dan dengan wajah penuh kebahagiaan Nia mengabari Calandra.


“Lo uda liat daftar kelas kita yang baru belum Cal?“ Nia menunjukan antusiasnya.


“Emang udah keluar daftarnya? Hari ini?“


Nia menarik lengan Calandra dan menuntunnya menuju papan pengumuman yang berada di dekat kantin. Di sana sudah terdapat beberapa lembar daftar kelas dan nama siswa yang tertempel si sana.


Nia menunjuk sebuah nama diantara kumpulan nama lainnya, “Nih, lo masuk IPA satu bareng gue.“


Calandra melihat dengan teliti dan berusaha meyakini bahwa apa yang dikatakan oleh Nia benar adanya. Tapi memang begitulah keadaanya.


“Nanti lo sebangku ya sama gue,” Nia begitu bergembira.


Calandra melemparkan senyuman dan menjawab, “Iya.“


Tak berapa lama, Calandra melihat Raline di sebrang lapangan sedang berbicara dengan Draco dan Hakim. Dengan cepat, Calandra menghampiri ketiga sahabatnya itu.


“Gimana Cal? Lo masuk kelas apa?“ tanya Hakim.


“IPA 1 kan ya Cal!? Kalau lo mah ngga usah diragukan lagi sih kepinterannya. Bangga banget gue bertemen sama lo,“ Raline memotong.


Calandra menjawab pertanyaan itu dengan senyuman kecil dan melemparkan pertanyaan pada Raline, “Lo masuk kelas apa?“


“Gue masuk IPA 2,” jawab Raline.


“Gue mah IPA 3,” Hakim memberi informasi tanpa di minta.


“Kalau kamu?“ tanya Calandra pada Draco.


“Cuma aku berarti yang masuk IPS ya,” jawab Draco.


“Ngga apa-apalah. Jurusan apa pun yang penting kita sungguh-sungguh pas belajar nanti,” ujar Raline berusaha membesarkan hati Draco.


Semua siswa sibuk dengan urusannya masing-masing. Sebagian besar berusaha mencari namanya dalam daftar pembagian kelas. Sementara yang lain lagi sudah sibuk mencari letak kelas baru mereka sembari mencari teman-teman yang akan jadi teman sekelas mereka selama setahun ke depan.


Sepertinya hari ini sebagian besar siswa di SMA Angkasa Biru terlihat begitu berbahagia kecuali Calandra. Mungkin dia adalah satu-satunya siswa yang merasa tidak bahagia hari ini, diantara hiruk pikuk dan sorak soray warga sekolah. Karena dia merasa bahwa kelas yang akan dia masuki di dua semester terakhir itu bukanlah kelas yang dia inginkan.

__ADS_1


Karena hari ini adalah hari pertama kembali masuk ke sekolah, maka bagi siswa yang tidak terlibat dalam organisasi Siswa Intra Sekolah alias OSIS dipersilahkan untuk pulang ke rumah masing-masing karena akan diadakan masa pengenalan lingkungan sekolah untuk para siswa baru di kelas satu.


“Main dulu yuk!“ ajak Raline saat mereka bersiap pulang.


“Main kemana?“ sambut Hakim antusias.


“Ke mall!“ sahut Raline.


“Ngapain ke mall coba?“ balas Hakim.


“Kita nonton aja yuk. Kita lihat-lihat dulu film yang lagi diputer.“ jawab Raline.


“Kita masih pake seragam begini,” Draco protes.


“Lo bawa jaket kan!? Pake aja itu jaket buat nutupin seragam,” Raline mengusulkan.


“Terus celana gue?“ sahut Hakim.


“Ah ribeeettttt…” Raline merasa kecewa.


Calandra masih terdiam tak ikut memebri jawaban. Kepalanya sendiri masih sibuk memikirkan kepada dia masuk jurusan IPA dan kelas unggulan pula. Padahal ada nilai matematika yang hanya berada di ambang batas bawah sebagai syarat kenaikan kelas.


“Cal… Cal… “ panggil Raline


“Akhirnya lo nyaut juga,” tukas Raline.


“Emang ada apa?“ tanya Calandra yang baru saja kembali fokusnya.


“Malah ada apa,” celetuk Hakim.


Draco yang sejak tadi memperhatikan Calandra pun akhirnya angkat suara, “Kamu kenapa? Dari tadi diajak ngomong ngga ngerespon.“


“Aku? Aku ngga apa-apa,” jawab Calandra seadanya karena walau dia berada diantara ketiga temannya tapi sungguh dia tak mengerti situasinya.


“Jadi, lo ikut ngga?“ Raline mengulang pertanyaannya untuk kesekian kali.


“Ngga deh. Gue ngga ikut ya,” jawab Calandra.


“Lho, kenapa?“ tanya Raliene kebingungan karena sejak tadi Calandra beberapa kali menganggukan kepala saat dia mengusulkan untuk pergi ke mall untuk nonton.

__ADS_1


“Gue mau balik aja ya ke rumah!?“ pinta Calandra.


“Kamu kenapa? Kamu sakit?“ tanya Draco yang mulai khawatir pada kekasihnya.


Calandra terdiam, dia bingung mau menjawab apa. Jika dia bilang dia sakit maka Draco akan menghawatirkannya tapi dia juga ngga punya alasan lain yang cukup masuk akal untuk menghindari ajakan ketiga temannya ini.


Dengan berat hari akhirnya Calandra menjawab, “kayaknya aku ngga enak badan deh. Dari tadi pagi pas bangun tidur langsung berapa pusing kepala aku.“


“Udah tahu sakit, kenapa pake masuk ke sekolah,” nada khawatir Darco makin terdengar jelas.


“Namanya juga hari pertama sekolah co,” Reline berusaha membela.


“Jadi giman dong? Gagal nih kita ke mall?“ tanya Hakim dengan gusar.


“Gue anter Calandra sampe ruamh dulu deh. Kalian duluan aja ke mall nya,” Draconmemberi arahan.


“Eh ngga usah. Aku bisa pulang sendiri kok. Kalian lanjut aja sama rencana kalian,” Calandra yang merasa tidak enak memikih untuk pulang sendiri.


“Ngga bisa! Aku ngga ikut Raline sama Hakim juga ngga apa-apa asal bisa antar kamu pulang,” Draco tak ingin menuruti perkataan Calandra.


“Bener juga si Draco, Cal. Udah lo dianter sama Draco dulu aja. Nanti dia bisa susul kita,” Raline berusaha membuat Calandra setuju.


“Tapi bener ngga apa-apa ini?“ Calandra berusaha memastikan.


“Udah jangan dipikirin. Nanti lo langsung istirahat ya di rumah,” tukas Raline.


“Nanti gue talangin dulu ya buat beli tiket bioskopnya,” ujar Hakim.


“Iya. Pokoknya kalian tunggu aja sampe gue dateng. Ambil jadwalnya jangan yang terlalu pagi,” ujar Draco yang sudah memakai helm.


Setelah saling berpamitan dan melambaikan tangan, Calandra dan Draco sudah melaju meninggalkan Raline dan Hakim di depan sekolah mereka.


Calandra melingkarkan kedua lengannya di pinggang Draco, serta menyenderkan kepalanya di bahu Draco.


“Kalau emang pusing banget kamu merem aja, ngga apa-apa,” ucap Draco begitu menyadari apa yang dilakukan Calandra.


Calandra tak menjawab ucapan dari Draco itu dengan kata-kata. Dia hanya menuruti apa yang dikatakan Draco dengan sikap. Calandra meemjamkan kedua matanya, membiarkan hembusan angin pagi yang tercipta dari motor yang bergerak meniup wajahnya dengan lembut.


Cahaya matahari pagi yang belum terlalu menyengat menciptakan sebuah rasa hangat yang membuat Calandra merasa nyaman.

__ADS_1


Terlebih lagi dia meniknati suasana ini bersama dengan prang yang saat ini begitu dia sayangi.


Segala perlakuan romantis dan pengorbanan yang selalu dilakukan oleh Draco membuat Calandra dimabuk kepayang. Sebuah perlakuan yang selama ini dia dambakan dari seorang laki-lai.


__ADS_2