
Semenjak pertemuan dan keputusan Draco beberapa hari lalu itu ternyata tidak serta merta membuat sikap Draco kembali seperti semula kepada Raline, Hakim dan terutama kepada Calandra.
Walau sikap Draco kepada Raline dan Hakim sudah mulai kembali membaik namun dia masih suka menghilang secara mendadak tanpa memberitahu dahulu kepada kedua sahabtanya itu.
Apalagi hubungannya dengan Hakim yang memang sempat ada konflik diantara keduanya, namun hari itu dengan memberanikan diri, Draco mendatangi Hakim di dalam kelasnya.
“Kim… maafin gue,” ucap Draco begitu dia berdiri di samping meja Hakim.
“Buat apa?“ tanya Hakim yang masih sibuk dengan contoh soal yang diberikan oleh buru dan harus diselesaikannya.
“Soal Sofi.“
Mendengar itu, Hakim menghentikan gerak tangannya yang tengah sibuk menulis jawaban lalu meletakan pensil ditangannya ke atas kertas contoh soal.
“Kenapa co? Kenapa lo ngga kasih tahu gue waktu kejadian hari itu?“
“Lo kan tahu apa alasannya, kim. Gue juga bikin salah saat itu, kalau gue bongkar perselingkuhan Sofi saat itu artinya gue juga bakal ngebongkar kebohongan dan perselingkuhan gue.“
“Tapi lo itu sahabat gue, co. Kok lo bisa diem aja saat orang lain membuat gue terlihat bodoh?“
“Iya gue tahu karena alasan itu gue ke sini nemuin lo. Gue bener-bener mau minta maaf sama lo karena gue udah melakukan hal jahat sama lo, sahabat gue sendiri.“
__ADS_1
Hakim terdiam, menundukan kepalanya dan kembali menatap contoh soal di atas meja belajarnya lalu mengambil kembali pensil yang tadi dia letakan.
“Gue udah maafin lo jauh sebelum hari ini, co. Hari dimana lo minta maaf ke gue.“
“Bagaimana bisa Hakim marah sama lo co. Si Hakim cuma ngerasa kecewa karena lo ngga mendahulukan dia padahal kita sahabatan dari jaman masih kecil,” suara Raline tiba-tiba terdengar.
Raline yang sejak tadi mendengar percakapan kedua sahabatnya dari ambang pintu kelas Hakim kini duduk di samping Hakim dan menepuk pundaknya beberapakali dengan lembut.
“Kita sahabatan dari jaman masih pake seragam TK. Bukankah akan lebih baik kalau kita saling melindungi dan mendahului persahabatan kita ini!?“
“Tapi gue saat itu lagi nyakitin Calandra. Apa kalian ngga akan kasih tahu ke dia?“
“Raline bilang, sejak awal dia udah ada di pihak Calandra. Begitu juga gue.“
“Iya! Gue bakal kasih tahu ke Calandra,” jawab Raline tegas.
“Karena gimana juga, bangkai yang lo usahain untuk lo tutup rapat-rapat bakal kecium juga baunya pada akhirnya. Buktinya hari itu, pada akhirnya semua perselingkuhan lo kebongkar juga tanpa lo sangka-sangka, iya kan?!“ ujar Hakim.
Darco tertunduk lesu. Merasa amat bodoh telah membiarkan persahabatannya hampir saja hancur demi memuaskan rasa penasarannya untuk kembali menjalin hubungan dengan Irma, mantan pacarnya dulusemasa SMP.
Irma mantan pacaranya yang memutuskan dia karena lebih memilih kakak kelas mereka yang pada saat itu memang popular diantara para siswi di sekolah mereka.
__ADS_1
“Kenapa lo pilih Calandra, co? Apa lo niat balas dendam sama si Irma?“ tanya Raline.
“Hah?“ ujar Draco yang kembali tersadar dari lamunannya yang terbang ke masa lalu selama beberapa detik.
“Iya,gue penasaran juga. Kenapa kemarin lo justru milih Calandra bukannya Irma? Bukannya harusnya lo lebih milih Irma karena lo rela nyelingkuhin Calandra demi Irma?“
“Gue lebib milih Calandra karena gue ngerasa balik sama Irma juga ternyata ngga bikin gue sebahagia yang gue pikirin diawal gue coba menjalin hubungan sama Irmalagi. Tiap kali gue sama Irma, isi kepala gue ternyata tetep Calandra.“
“Tapi di sekolah juga gue lerhatiin lo ngga pernah fokus ke Calandra,” protes Raline.
“Alasan gue berusaha menghindari Calandra sebisa mungkin karena gue benar-benar ngerasa bersalah sama Calandra. Tiap kali gue lihat muka Calandra, denger dia ngomong dan memperhatiakan geraknya, rasa bersalah itu terus muncul dan itu bikin gue ngerasa ngga nyaman,” jawab Draco.
“Kasihan si Calandra, co. Akhir-akhir ini nilai si Calabdra merosot jauh dari rata-rata nialai dia sebelumnya. Bahkan bu Devi udah memberi peringatan ke Calandra, kalau misalnya nilai akhir kemarin ngga bisa dia pertahankan, Calandra ngga boleh berharap bisa masuk universitas impiannya,” ujar Raline dengan nada lesu.
“Itu yang jadi alasan gue dan Raline buat bantu Calandra. Dia mau urusan lo, dia dan Irma selesai dengan keputusan apapun yang akhirnya lo ambil , baik lo pilih dia atau Irma, dia ngga perduli. Karena dia cuma mau balik fokus buat ngejar ambisinya masuk universitas impian dia sejak dulu,” timpal Hakim.
Darco terdiam mendengar penjelasan kedua sahabatnya sejak kecil itu. Rasa bersalahmya terhadap Calandra di dalam hatinya semakin menjadi membuat dadanya terasa sesak.
“Ternyata gue sejahat itu ya,” ujar Draco dengan tatapan mata yang kosong.
“Mulai sekarang coba deh lo ubah sikap acuh lo itu co. Coba buat balik ke Draco yang dulu. Kasih dukungan penuh sama Calandra karena yang paling dia butuhin saat ini ya dukungan lo,” Raline memberi saran.
__ADS_1
“Bener itu. Sebanyak apapun dukungan yang gue dan Raline kasih ke Calandra ngga akan pernah cukup. Tapi sekecil apapun dukungan yang lo kasih ke dia, pasti bakal berdampak sangat besar buat dia.“
“Iya lin, kim. Gue bakal jadi support system terbaik buat Calandra,” balas Draco penuh semangat.