Dendam Sang Aquarius

Dendam Sang Aquarius
Bab 11. Pernyataan cinta yang membuat Calandra malu


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Calandra telah sibuk dengan dirinya sendiri. Dia memilih pakaian dan berkali-kali mengganti sepatu untuk memastikan kedua benda itu saling cocok an saat dia sudah menemukan kecocokan kemudian Calandra mencari tas yang sekiranya pas untuk dia pakai untuk hari ini.


Hari ini adalah hari yang telah ditunggu oleh Calandra dengan hati riang walau tiap harinya dirasa begitu lama berjalan bagi Calandra.


Ya, hari ini adalah hari dimana dia dan Raline akan menonton sebuah film yang salah satu aktornya adalah aktor kesayangan Calandra, Vino G Bastian.


“Lo dimana sekarang lin?“ tanya Calandra begitu teleponnya dijawab oleh Raline.


“Masih di rumah nih gue.“


“Hah?! Kok masih di rumah sih lin? Sebenernya jadi ngga sih kita pergi hari ini?“ gerutu Calandra.


“Ya jadi, kita jadi pergi nonton hari ini.“


“Terus jalau bener jadi pergi kenapa jam segini lo masih ada di rumah?“


“Cal, bioskop itu baru buka nanti siang. Ini masih jam berapa coba?! Masih jam tujuh pagi,” sekarang gantian, Raline yang menggerutu.


“Iya sih bener tapi kan lebih cepet kita dateng akan lebih baik,” balas Calandra.


“Lo bener juga sih Cak. Tapi asli gue belom mandi,” jawab Raline.


“Tuh kan. Lo belom mandi pula,“ Calandra makin menggerutu.


“Iya ini gue mau mandi,” Raline masih menggerutu.


“Ya udah sana mandi, cepet!“ perintah Calandra.


“Baik tuan putri.“


Setelah Calandra memutus sambungan teleponnya, Raline langsung mengirimi Draco dan Hakim sebuah pesan. Pesan bahwa dia dan Calandra tengah bersiap untuk pergi ke bioskop. Ini juga menjadi aba-aba bagi Draco dan Hakim untuk bersiap tentang rencana mereka.


Kedua orang yang dikirimi Raline pesan pun memberi tanda bahwa mereka akan segera bersiap.


******


Film telah berakhir tapi Calandra belum juga bangkit dari duduknya walau lampu di teater telah menyala seluruhnya. Calandra masih menikmati deretan nama pendukung pembuatan film itu yang berjalan di layar.


Menyadari kesibukan Calandra itu, Raline mengirimi Draco dan Hakim pesan lagi agar mereka berdua bersiap di posisi masing-masing karena kemungkinan dia dan Calandra akan segera keluar dari dalam teater dan bertemu mereka.


Draco dan Hakim yang sejak tadi menunggu di lobi bioskop pun langsung bersiap. Draco sendiri bersiap di posisinya menunggu kehadiran pujaan hatinya, Calandra dengan dada yang berdebar kencang.

__ADS_1


“Cal, lo belum beres juga?“ tanya Raline karena melihat ruangan teater yang semula penuh dengan para pengunjung kini berlahan mulai kosong ditinggalkan.


“Udah!“ jawab Calandra sambil tersenyum ke arah Raline saat layar bioskop sepenuhnya hitam.


Kemudian Raline dan Calandra menuruni tangga teater karena kebetulan mereka dapat kursi yang ada dibagian paling atas. Mereka melewati para pekerja yang sedang membersihkan teater itu dari sampah yang di tinggalkan para pengunjung tadi, agar saat film berikutnya di putar teater telah bersih dan membuat para pengunjung berikutnya merasa nyaman saat nonton.


“Ke toilet dulu yuk lin,” ujar Calandra saat mereka akan melewati pintu teater.


“Eh, ke toilet? Ayuk," balas Raline yang masih sibuk berkabar dengan Draco dan Hakim.


“Kebelet pipis gue dari tadi,” ucap Calandra.


“Kebelet pipis dari tadi tapi lo malah nongkrongin layar bioskop sampe hitam semua,” gerutu Raline.


“Ya maaf. Udah kayak kebiasaan aja buat gue kalau nonton. Di rumah juga gitu,” jawab Calandra sambil tersenyum memamerkan deretan gigi putih miliknya.


“Di rumah juga?“ Raline kaget.


“Iya. Kenapa? Ngga aneh kan!?“


"Ngga aneh sih, cuma menurut gue mah aneh banget."


Cukup lama juga mereka berada di dalam toilet khusus perempuan itu, karena ternyata sudah banyak pengunjung bioskop yang antri untuk buang air sementara beberapa bilik toilet ada yang sedang rusak.


“Mereka lagi ngomong apaan sih lin?“


“Mana gue tau. Mau gue tanyain sama mereka?“ Raline menawarkan diri sambil bercanda.


“Ih apaan sih lo, ngaco aja,” balas Calandra sambil tertawa.


Tawa Calandra mendadak terhenti ketika dia melihat Draco berdiri di tengah lobbi bioskop sambil memegang satu bucket bunga mawar berwana biru terang di tangan kanannya sementara tangan kirinya memegang bentangan kain bertuliskan 'Will you be my Girlfried, Calandra' dan dibantu oleh Hakim di sisi lain bentangan kain itu.


Tiba-tiba wajah Calandra memerah, detupan jantungnya bahkan terdengar oleh telinga sendiri.


Banyak pasang mata mengarah pada Draco namun beberapa detik kemudian tatapan mereka beralih ke arah Calandra.


“Itu Draco bukan sih?“ tanya Raline seolah dia tak mengetahui recana Draco itu.


“Ngapain dia di situ,” tanya Calandra mulai panik membaca namanya di atas kain yang dipegang oleh Draco dan Hakim.


“Jangan-jangan dia mau… “

__ADS_1


“Mau apa?“ Calandra penasaran bercampur bingung.


Draco melepaskan pegangannya dari kain tersebut lalu melangkah mendekat kepada Calandra.


“Cal… “ panggil Draco.


“Lo ngapain?“ bisik Calandra panik.


Draco menyerahkan bucket bunga yang dia pegang sejak tadi lalu berkata, “Cal, lo mau ngga jadi pacar gue?“


“Apaan sih lo?“ ujar Calandra masih panik.


Draco cuma bisa tersenyum sambing berdiri mematung menunggu jawaban dari Calandra.


“Cal… Cal… “ panggil Raline.


Calandra ikut terdiam berusaha mencerna apa yang sedang terjadi saat ini.


“Jadi gimana Cal?“ tanya Draco.


Sesaat kemudian Calandra tersadar namun rasa malu menyelimutinya setelah tahu bahwa banyak mata kini terus memandang ke arahnya. Sekarang Calandra tahu apa bisik-bisik yang dilakukan orang-orang yang dia lewati tadi.


Mereka sedang membicarakan Draco yang sejak tadi berdiri dengan atribut penembakannya di tengah lobbi itu.


“Gue malu lin,” bisik Calandra.


“Udah makanya cepetan lo jawab dah,” balas Raline.


Calandra sekali lagi melirik dengan sudut matanya walau pun kepalanya tertunduk karena rasa malunya yang teramat.


“Cal buruan jawab, gue juga malu ini,” bisik Raline lagi.


Calandra masih menundukan kepalanya dan berusaha menjawab pernyataan cinta dari Draco.


“Oke, ayo kita jadian.“


kemudian Draco melompat kegirangan dan bersorak karena mendengar jawaban dari Calandra itu. Sebuah jawaban yang memang diharapkan oleh Draco selama ini.


Draco merasa bebannya di dada beberapa hari terangkat sepenuhnya dan membuat dirinya berbahagia.


Hakim mendekati Draco dan memberikan selamat kepada sahabatnya itu, “Bahagia dah lo.“

__ADS_1


Begitu juga dengan Raline yang memberikan selamat pada Draco dan Calandra. Kemudian sorak sorai terdengar di seisi lobbi bioskop itu. Walau pun sejujurnya Calandra merasa bahagia namun sesungguhnya di sisi lain Calandra juga merasa malu dengan kejadian hari.


__ADS_2