Dendam Sang Aquarius

Dendam Sang Aquarius
Bab 30. keputusan Draco


__ADS_3

  Dari atas motor Hakim, Calandra bisa melihat Raline di atas motor Darco yang walau pun jauh namun Calandra dapat memastikan bahwa itu adalah Raline dan Draco.


    Hakim menjaga jarak teraman bahkan meminjam helm milik teman sekelasnya, agar Draco tak merasa curiga dan merasa diikuti.


    Lalu tak berapa lama motor Draco sudah berhenti di sebuah rumah yang tak dikenali oleh Calandra.


    "Ini rumahnya Rere," ujar Hakim seolah tahu pertanyaan di dalam kepala Calandra dan menjawab pertanyaan itu.


    "Oh... " balas Calandra sambil menganggukan kepalanya tanda dia mengerti.


    Lalu keduanya segera turun dari motor dan bergegas masuk karena tak ingin Draco sadar dengan rencana itu dan melarikan diri.


    "Cal!" ujar Draco kaget.


    "Iya, aku co," balas Calandra dengan senyum getir.


    "Kamu ngapain ke sini?" tanya Draco yang masih berpikir bahwa acara yang dia datangi kali ini adalah acara reuni kelas semasa SMP.


   Di tempat itu sudah ada Draco, Raline, Rere dan Irma. Ditambah kehadiran Calandra dan juga Hakim, membuat ruangan itu terasa jelas kecanggungan diantara mereka.


“Lo bilang ini acara reuni kelas kita lin,” protes Draco.


“Maafin gue ya co,” ujar Raline penuh rasa bersalah.


“Ada apa sih ini sebenarnya?“ tanya Irma yang kebingungan.


“Cewek yang baru dateng sama Hakim itu namanya Calandra, ma,” ujar Rere memperkenalkan Calandra pada Irma.


Mendengar nama itu mendadak Irma membukatkan matanya dan mengatupkan erat kedua bibirnya hingga tak satu kata pun keluar lagi dari mulutnya.


“Kenalin, nama gue Calandra. Gue pacarnya Draco,” ujar Calandra penuh percaya diri sembari mengulurkan tangannya ke arah Irma namun Irma tak menyambutnya.


“Gue denger, lo sama Draco juga pacaran, betul?!“ Calandra mulai menvalidasi informasi yang dia miliki.


“Cal… “ ujar Draco berusaha menghentikan Calandra.


“Kenapa? Irma belum tahu kalau kita pacaran?“

__ADS_1


Wajah sayu Calandra berubah tegas. Selayaknya singa yang baru saja bangun dari tidurnya. Suasana menjadi kembali hening. Draco tak memberi jawaban, Calandra pun tak kembali mendesak. Sementara Hakim, Raline dan Rere tak berani berkomentar.


“Gue udah tahu,” ucap Irma sambil mengangkat kepalanya yang sedati tadi hanya tertunduk.


Jawaban dari Irma itu sontak membuat kaget semua orang berada di tempat itu, terutama Calandra.


“Lo udah tahu? Udah tahu kalau Draco itu punya pacar?“ Calandra masih tak mempercayai pendengarannya.


“Iya gue udah tahu kalau Draco udah punya pacar. Gue tahu kalau nama pacarnya Calandra, bahkan gue udah pernah lihat foto lo di dompetnya Draco,” jawab Irma yang kali ini menundukan lagi kepalanya.


“Kalau lo emang udah tahu kalau Draco udah punya pacar, kenapa lo mau jadi selingkuhan dia?“ Calandra bertanya dengan suara datar namun tajam.


“Kenapa gue mau? Karena gue masih sayang sama Draco,” jawab Irma dengan yakin.


“Tapi… tapi artinya lo nyakitin gue.“


“Lo ngga akan sakit andai lo ngga tahu. Gue yang pasti sakit karena tahu bahwa Draco memiliki pacar lain selain gue,” balas Irma dengan nada tinggi dan bergetar.


“Oh ya!? Bagaimana gue ngga tahu kalau Draco punya pacar lain kalau Draco setiap harinya menghilang dari pandangan mata gue!? Bagaimana gue ngga tahu kalau Draco memiliki pacar lain kalau sikapnya ke gue berubah tiga ratus eman puluh derajat!?“ balas Calandra masih dengan nada yang sama.


Draco yang mendengar perdebatan dua perempuan yang menjadi pacarnya hanya bisa terdiam, menundukan kepalanya dalam-dalam dan berusaha menyembunyikan dirinya.


“Ngga! Beberapa bulan terakhir ini gue ngga memiliki Draco lagi. Mungkin badannya ada di samping gue tapi jiwanya melayang terbang ke sini, di samping lo.“


Irma terdiam, menghapus air mata yang jatuh mengalir di pipinya.


“Bener gitu co?“ tanya Irma namun Darco terdiam tak memberi jawaban.


“Bener! Itu kenyataannya,” Calandra yang justru memberi jawaban.


Kemudian ruangan itu kembali henung tanpa suara sama sekali. Tak ada suara lain kecuali suara detak jarum jam dinding di ruangan itu.


“Karena kita semua udah tahu situsasinya, sekarang di sini, di saksikan oleh Hakim, Raline dan Rere, lo harus pilih antara gue atau Irma,” ujar Calandra tegas.


Darco kali ini mengangkat kepalanya, kaget mendengar pernyataan itu dari Calandra. Situasinya amat sulit bagi Draco saat ini. Di hadapan kedua pacaranya dia harus memilih.


“Gimana Draco?“ desak Calandra.

__ADS_1


“Aku…”


“Pilih sesuai hati kamu co. Jangan merasa tertekan,” ujar Irma.


“Iya, jangan sampai tertekan. Aku siap denger jawaban dari kamu,” balas Calandra sambil tersenyum.


Draco yang sempat mengangkat kepalanya sesaat kini menunduk lagi.


“Jangan habiskan waktu aku dan Irma hanya untuk nunghu jawaban dari kamu co,” Calandra kembali mendesak.


“Aku setuju, jawab co.“


“Maafin aku…” ujar Draco.


Semua telinga terpasang, berusaha fokus menangkap jawaban dari Draco. Tak hanya Calandra dan Irma, tapi juga Hakim, Raline dan Rere yang bertindak sebagai saksi di pengambilan keputusan kali ini.


“Maafin aku Irma, aku pilih Calandra,” Draco memberi jawaban dengan terus menundukan kepalanya.


“Kamu yakin co?“ tanya Irma.


“Maafin aku.“


“KAMU GILA YA DRACO!! aku udah berusaha nerima kamu lagi waktu kamu ngemis minta balikan sama aku. Aku nerima juga sebagai perempuan kedua kamu dalam hubungan ini, aku nahan rasa sakit ini dan sekarang kamu malah lebih milih dia!?“ Irma terus berteriak saat mengatakan semua hal itu.


“Apa selama ini lo berharap gue dan Draco putus? Lo menahan sakit itu sambil terus nunggu gue dan Draco putus, ma?“


“Iya! Gue sabar nunggu sampe kalian putus. Apa menurut lo gue jahat?“ kini suara teriakan Irma berubah menjadi tangisan.


“Bukan lo yang jahat tapi Draco,” jawab Calandra tegas.


“Maafin aku,“ ujar Draco tanpa mengangkat kepalanya.


“Raline, Hakim dan Rere hadi ini memjadi saksi bahwa kamu memilih aku dan akan putusin Irma. Kalau nanti kamu masih berhubungan dengan Irma maka kamu akan nanggung hukuman,” ujar Calandra masih tegas.


Semua orang yang dijadikan saksi oleh Calandra hanya bisa menganggukan kepala mereka tanda bahwa mereka menyetujui keputusan itu.


Sementara itu Irma masih saja terisak namun Draco tak bisa juga menenangkannya karena tatapan mata Calandra yang begitu tajam membuat Draco sama sekali tak berani berkutik.

__ADS_1


Bukan Calandra tak mengerti kehancuran hati Irma, namun baginya hatinya telah terlebih dahulu dihancurkan oleh Irma dan Draco.


Hidipnya tak lagi sama sejak perselingkuhan yang dilakukan oleh Draco dan Irma, Calandra hampir saja kehilangan ambisi untuk masa depannya dan karena dan mulai saat itu dendam Calandra kepada Draco terus menyala.


__ADS_2