Dendam Sang Aquarius

Dendam Sang Aquarius
Bab 23. Kekecewaan Raline dan Hakim


__ADS_3

Kekesalan hati Hakim karena diusir oleh Draco membuatnya ingin melakukan hal yang burik terhadap Draco.


“Lihat aja nanti lo Draco, sekalian aja gue kasih tahu si Calandra sama Irma biar ribut sekalian kalian tuh,” gumam Hakim dakam hati.


Sesampainya di rumah, Hakim melihat Raline yang sudah duduk di teras rumah bersama mami Hakim.


“Akhirnya kamu sampe juga kim,” ujar maminya.


Hakim segera turun dari motornya dan mencium punggung tangan dan mencium kedua belah pipi maminya.


“Ini Raline udah dari tadi nungguin kamu. Sampe habis lagi teh yang mami buatin.“


“Maaf ya mih,” ujar Raline sambil tersenyum.


“Maaf apanya, kayak sama orang lain aja,” balas mami Hakim.


“Gimana keadaan Draco, kim?“ tanya Raline.


“Iya, gimana keadaan Draco. Sakit apa dia?“


“Ah, cuma flu biasa aja. Cuma kata mamanya cuma lagi rewel aja,” balas Hakim berbohong.


“Syukur kalau begitu, mami lega dengernya. Nanti sore biar mami ke rumah Draco bawain buah yang bisa bantu draco cepet pulih,” ujar maminya.


“Ngga usah mih. Biar aja Drqco istirhat,” balas Hakim cepat.


“Ish, apanya yang ngga usah!? Mami mau ke toko buah dulu untuk cari buah-buah yang bagus buat Draco. Mami tinggal dulu ya lin.“


“Oh iya mih.“


“Mau aku antar mih?!“ Hakim menawarkan diri.


“Ngga usah ganteng, mami nanti minta di anter mang jaenal aja. Kan lagi ada Raline di sini, masa mau kamu tinggal.“


“Mami hati-hati ya,” ujar Raline sebelu mama Hakim benar-benar pergi.


Saat maminya pergi, Hakim pun masuk ke dalam rumah untuk mengganti seragamnya dengan pakaian yang lebih santai dan akhirnya duduk bersama Raline di teras rumahnya.


“Lin…”

__ADS_1


“Iya.“


“Gue bohong sama nyokap.“


“Bohong gimana? Bohong yang mana?“


“Yang tadi… “


“Soal Draco?“


Hakim menganggukan kepalanya pelan.


“Hah? Emang sakit apa sebenernya di Draco,” panik juga Raline mendengar pengakuan Hakim barusan.


“Tenang. Draco ngga sakit apa pun. Dia sehat-sehat aja waktu terakhir gue lihat dia tadi,” balas Hakim


“Kalau si Draco baik-baik aja kenapa juga perlu lo ikutan bohong kayak si Draco. Lagian kenapa sih dia?“


“Terlanjur. Lo juga udah bilang sama mami kan kalau gue lagi lihat keadaan Draco yang sakit!? Begitu juga Draco yang udah terlanjur bohong sama mamanya.“


“Tunggu, maksud lo mama Draco juga ngga tahu kalau hari ini anaknya ngga masuk sekolah?“


“Mamanya ngga tahu.“


“Iya. Waktu gue sampe ke rumahnya tadi, dia juga baru balik. Gue rasa dia sengaja nyamain jam pulang kayak bisanya,” balas Hakim.


“Heh?“ ujar Raline.


“Bahkan tadi gue juga diusir dari rumahnya sama si Draco,” balas Hakim dengan nada memelas.


“APA?? dia ngusir lo?“


Kembali Hakim menganggukan kepalanya pelan.


“Emangnya dia dari mana? Dia cerita ngga?“


“Katanya, tadi dia dari SMA Bintang Gemilang,” jawab Hakim.


“SMA Bintang Gemilang?“

__ADS_1


“Iya.“


Raline terdiam, berusaha mengingat-ingat sesuatu tentang SMA Bintang Gemilang yang berhubungan dengan mereka khususnya Draco hingga akhirnya dia menyadari sesuatu.


“Wait! Si Irma sekolah di sana bukan sih?“


“Bener. Itu sekolahnya si Irma,” jawab Hakim.


“Jangan bilang kalau Draco ke SMA Bintang Gemilang buat nemuin Irma,” ujar Raline.


“Coba lo tebak deh?!“


“Gila. Mana boleh dia kayak gitu. Sekarang kan dia udah sama Calandra,” Raline mulai sewot tapi Hakim tak memberi respon apa pun.


“Gue udah ngerasa seneng banget lihat Draco yang udah move on danmemilih Calandra buat dijadiin pacar, kenapa tiba-tiba dia malah nemuin si Irma lagi,” Raline makin kesal.


Raline yang kesal berusaha berpikir lagi tentang sebuah kemungkinan, “Apa si Draco balikan lagi sama Irma? Dia selingkuh gitu dari Calandra?“


“Itu yang tadi coba gue tanya dan konfirmasi ke Draco tapi mendadak dia justru ngusir gue dari kamarnya, bahkan dia nutup pintu kamar tepat di depan hidung gue,” cerita Hakim berusaha untuk tidak kesal.


“Wah tuh anak udah kelewatan banget sih. Soal hubungan dia dengan Calandra dan Irma udah jelas dia dalam posisi yang salah tapi gue lebih marah sama dia karena dia ngusir lo. Biar gue samperin itu anak sekarang,” kekesalan Raline semakin menjadi dan bersiap untuk pergi ke rumah Draco yang jaraknya tak seberapa jaub dari rumah Hakim. Namun Hakim menarik tangan Raline, berusaha menahan langkah kaki Raline.


“Ngga usah, biarin aja dulu lin. Kasih dia waktu buat bersenang-senang buat sementara ini.“


Raline kaget mendengar kalimat yang keluar dari mulut Hakim itu lalu berkata, “Apanya yang bersenang-senang? Nyakitin hati perempuan, itu yang lo maksud dengan bersenang-senang?“


“Setidaknya buat hari ini aja, lin. Mungkin dia perlu waktu buat berpikir soal hubungannya dengan Calandra dan Irma.“


“Ini bukan cuma soal Calandra dan Irma tapi juga soal lo, soal persahabatan kita. Masa dia mau buang kita gitu aja kim,” gerutu Raline.


“Walau sesungguhnya hati gue ini sakit banget karena diperlakukan Draco kayak tadi tapi gue juga sadar, mungkin gue terlalu jauh ikut campur dalam hubungan dia dengan Calandra dan Irma.“


“Ngga! Kita emang perlu ingetin Draco soal kesalahannya. Itu khan gunanya kita selama ini dalam persahabatan ini. Masa udah jelas temen salah, kita mau diem aja. Ngga bisa kim,” Raline masih bersikeras.


Hakim sendiri masih memandangi langit yang sudah agak mendung sore itu. Pikirannya menerawang ke masa-masa dimana persahabatan mereka dimulai dan bagaimana mereka membangun persahabatan ini sejak masih kecil hingga di usia mereka yang sekarang ini.


Saat ketiga orang ini mulai jatuh cinta dengan lawan jenis dan kisah cinta masing-masingnya ikut mewarnai persahabatan yang kental ini. Namun tak satu pun soal kisah cinta mereka yang berhasil menghoyahkan persahabatan mereka, hingga itu terjadi di hari ini. Sesuatu yang mengagetkan tak hanya dirinya tapi juga Raline.


Bagi Hakim, Raline dan Draco adalan sebagian dari hidupnya selama ini. Bahkan Hakim menganggap keduanya sebagai saudara yang perlu sekali dia lindungi dalam keadaan apa pun. Maka dari itu, saat tadi Darco mendorong dan mengusir dirinya dari kamar Draco, hatinya menjadi begitu sakit, sebuah sakit yang tak bisa dia gambarkan dalam kata-kata.

__ADS_1


Namun ternyata kekesalan di hati Hakim tak serta merta membuatnya benci kepada Draco. Walau pun sempat berpikir untuk membuat hubungan Draco dan Calandra hancur lebur, pada akhirnya Hakim memilih untuk membiarkan sahabatnya itu membuat keputusan yang terbaik untuk hubungannya bersama Calandra dan Irma.


“Oke gue tunggu niat baik dari Draco buat minta maaf sama lo. Kalau sampe batas waktu yang udah gue tentukan dia masih ngga mau minta maaf sama lo, biar gue yang labrak dia,” ujar Raline dengan nada kesal.


__ADS_2