Dendam Sang Aquarius

Dendam Sang Aquarius
Bab 13. Buku Draco & Calandra mulai terisi kisah mereka


__ADS_3

Malam hsri, seperti hari-hari yang lain. Calandra harus menyelesaikan pekerjaan rumah yang diberikan oleh para guru di sekolah.


Hampir di tiap mata pelajaran ada pekerjaan rumah yang diberikan guru dan sebagian besaenya harus Calandra kumpulkan.


Pekerjaan rumah di mata pelajaran Bahasa Inggris baru saja Calandra selesaikan. Dia meregangkan tangannya lalu beberapa menit kemudian, Calandra memasukan kembali buku-buku yang harus dia bawa ke sekolah. Dan saat Calandra memasukan buku-buku itu, dia melihat sebuah buku tanpa sampul, berbeda dengan buku-bukunya yang lain.


Calandra baru teringat bahwa itu buku yang di berikan oleh Draco tadi pagi. Setelah semua buku yang harus dia bawa besok telah masuk ke dalam tasnya, kini dia kembali membuka buku pemberian Draco dan mulai membaca kembali tulisan tangan Draco yang sangat rapih dan bagus ada di dalamnya.


Calandra bahkan merasa kaget sekaligus kagum melihat tulisan tangan Draco yang jarang sekali dimiliki oleh laki-laki. Tulisannya cenderung cantik, lebih cocok jika tulisan tangan ini milik seorang perempuan.


Kembali Calandra tersipu malu membaca isi tulisan dalam buku itu. Bagaimana tidak, di sana tertulis isi hati Draco dan rasa kagum Draco terhadap dirinya. Di akhir tulisan di halaman kedua buku itu, Draco mengambar sebuah hari dan di dalamnya terdapat namanya dan Calandra.


Calandra mengambil puplen miliknya yang masih tergeletak di atas meja belajarnya. Dia mulai menulis kata-kata dan mencurahkan isi hatinya untuk Draco di lembaran berikutnya. Senyuman manis terukir di wajah cantik Calandra bahkan tanda dia sadari.


Tak terasa sudah hampir tiga lembar terisi penuh oleh tulisan tangan dari Calandra dan pada akhirnya Calandra pun membuat sebuah gambar hati di ujung tulisannya.


*********


Keesokan paginya, Calandra yang hampir selalu berbarengan dengan Raline melewati gerbang sekolah, kali ini juga melakukan hal yang sama.


“Lo udah sarapan?“ tanya Raline.


“Belum nih.“


“Kita makan bubur ayam di kantin yuk,” ajak Raline.


Calandra mengangguk dan mengikuti langkah Raline menuju kantin sekolah.


Ternyata di saat itu, Draco dan Hakim sudah lebih dahulu duduk dan menikmati bubur ayam yang dijual di kantin sekolah.


“Tumben pada ke sini,” tukas Hakim yang kaget melihat Calandra dan Raline.


Raline yang mengambil duduk di sebelah Hakim langsung berkata, “Gue lapar, belum sempet sarapan. Si Calandra juga tuh.“


“Kamu juga belum sarapan?“ Draco berusaha memastikan apa yang dikatakan oleh Raline benar adanya.


Calandra hanya tersenyum tipis menandakan menyetujui apa yang dikatakan oleh Ralibe sebelumya.


Draco menghentikan kegiatan makannya dan bangkit dari duduknya, “Kamu tunggu di dini sebentar.“


“Punya gue sekalian boleh ngga co,” ujar Raline ketika tahu sabahatnya itu akan membelikan Calandra bubur ayam.


“Iya. Nanti sekalian gue beliin buat lo. Lo tunggu dinsini aja.“

__ADS_1


Raline merasa senang karena dia tak perlu antri di depan penjual bubur ayam yang memang banyak sekali pelanggannya.


Raline mengambil gelas berisi teh manis hangat yang ada di hadapannya dan langsung meminumnya.


“Eh, itu punya gue!“ teriak Hakim.


Raline meletakan kembali gelas itu dan berkata dengan ketus, “Pelit amat lo.“


“Kenapa ngga beli sendiri aja sih lo!?“


“Males banget gue antrinya kim. Lo lihat tuh, seberapa panjang antian di tempat teh manis?“


“Emang dasarnya aja lo males.“


Calandra yang sedang duduk menunggu Draco dengan bubur ayamnya, melihat pertengkaran antara Raline dan Hakim hanya bisa tertawa kecil. Walau Calandra adalah seorang Aquariua yang bisa ramah pada siapa pun namun bukan berarti dia bisa menempel pada dengan mudah dengan siapa pun. Maka dari itu, saat melihat kedekatan antara Draco, apalagi Hakim dan Raline membuatnya mengerti, persahabatan ternyat bisa berlangsung begitu lama hanya dengan tiga orang di dalamnya.


“Wahh… makasih ya co,” ujar Raline saat Draco meletakan semangkok bubur ayam di hadapannya.


Draco pun meletakan semangjuk bubur ayam yang lain di atas meja tepat di hadapan Calandra dan berkata dengan khawatir, “Ini punya kamu. Lengkap dan dengan ektra daun seledri.“


“Gila, lo sampe inget hal sekecil ddaun seledri?!“ Ujar Hakim.


“Lah, emqng lo ngga kalau sama pacar lo?“ tanya Raline.


Hakim menundukan kepalanyabdan berkata dengannada bergetar, “Kapan ya terakhir kali gue punya pacar?“


“Itu pun jadiannya cuma dua bulan,” timpal Draco.


“Ngga sampe dua bulan co, cuma lima puluh lima hari,” sambung Raline.


Hakim mengangkat kepalanya dan berkata, “Terima kasih banyak lo dua sahabat terbaik gue. Kalian udah ingetin gue soal itu.


Kemudian Hakim meneguk teh manis hangat yang sebagiannya sudah diminum oleh Raline sebelumnya.


“Eh jangan dihabisin dong teh manis hangatnya. Gue masih mau,” ujar Raline sambil merebut gelas yang pinggirnya masih bersentuhan dengan bibir Hakim.


“Tumpah dong lin,” tukas Hakim.


Hampir aja seragam milik Hakim ketumpahan teh manis itu tapi saat itu Raline hanya tertawa tanpa permintaan maaf.


“Jangan keterlaluan ah lin,” ujar Draco mengingatkan.


Raline yang menyadari kesalahan yang batu saja dia lakukan segera mengambil tisue dan berusaha menolong Hakim, “Maaf ya kim. Gue salah.“

__ADS_1


Hakim yang mengenal karakter Raline dengan baik hanya bisa memasang wajah kesal namun tak benar-benar bisa membenci sahabatnya itu.


Selesai sarapan, keempat sahabat ini melangkah meninggalkan kantin dengan perut yang kenyang serta hati yang senang.


Egan melirik jam di tangannya dan menyadari bahwa mereka masib memiliki sekitas dua puluh menit lagi hingga akhirnya bel masuk kelas berbunyi.


“Gue langsung ke kelas ya!?“ tukas Hakim ketika mereka sampai di lantai dua.


“Lho? Masih dua puluh menit lagi,” ujar Raline.


“Gue mau nyontek PR dulu sama si Nia,” jawab Hakim yang ternyata sejak tadi berencana untuk meminta bantuan Nia, teman sekelasnya yang rajin, guna menyeesaikan pekerjaan rumah yang diberikan oleh guru matematika.


“PR dari pak Tri bukan?“ tanya Raline.


“Emang lo juga ada PR dari pak Tri?“ Hakim kaget.


“Iya!“ jawab Raline.


“Tapi kita kan ketemu sama pak Tri masih dua hari lagi lin,” tukas Calandra.


“Dikerjain lebih cepet kan jadi lebih baik,” jawab Raline.


“Emang PR yang di kasih pak Tri di kelas lo sama kelas gue sama?“ Hakim mulai bingung.


“Ah, pasti sama. Hayo, nanti keburu bel masuk.“


Raline menarik paksa tangan kanan Hakim agar mereka segera masuk ke dalam kelas dan menemui Nia serta mencontek hasil berpikirnya selama di rumah.


Setelah Hakim dan Raline berlalu, Draco dan Calandra pun melanjutkan perjalanan mereka menapaki setiap anak tangga menuju ke lantai empat.


Sesampainya di lantai empat, Calandra dan Draco berhenti di depan kelas Calandra dan ngobrol di sana, sambil memandangi langit pagi yang masih biru bersih.


Pembicaraan mereka justru bukan soal hal-hal yang penting tapi yang pasti itu membuat mereka berdua merasa bahagia. Semua terlihat jelas di wajah keduanya, membuat orang-orang disekitar mereka dengan mudah menyadari bahwa keduanya adalah sepasang kekasih.


Bel masuk kelas berbunyi. Setiap siswa pun harus kembali ke kelas mereka begitu pun dengan Calandra dan Draco. Namun sebelum keduanya benar-benar berpisah, Calandra menyerahkan buku mereka, “co ini bawa.“


“Kamu udah isi?“


“Udah aku isi. Nanti kamu baca aja,” jawab Calandra tersipu.


“Dracoooo… buruan lo balik ke kelas. Pak Tri udah masuk kelas lo,” teriak Raline yang sedang berlari menuju kelasnya.


“Yang bener lo lin!?“ tahya Draco.

__ADS_1


“Sumpah!“


Setelah itu, Draco berlari turun menuju kelasnya di lantai dua.


__ADS_2