
Saat ini, bukan hanya Calandra yang kaget dan cukup menederita karena mendapati cintanya terkhiananti oleh orang yang paling percayai, namun juga Hakim.
Dalam sekejap, dunia Calandra berubah jadi abu-abu tanpa warna, membuatnya hampir kehilangan harapan dan ambisinya untuk menapaki kaki di universitas impiannya.
Walau suara di kepalanya masih terus berkata dan memaksa Calandra untuk kembali mewujudkan mimpi serta ambisinya, namun jiwanya yang sebagian pergi menahannya untuk terus menatapi nasib cintanya yang begitu buruk
Calandra teringat kejadian sebelum dia memutuskan untuk memeriksa keberadaan Draco di SMA Bintang Gemilang beberapa hari lalu itu.
Flash back….
“Draco, apa sikap aneh kamu akhir-akhir ini karena Irma?“ tanpa basa basi Calandra melontarkan pertanyaan yang mengagetkan Raline dan Hakim.
Namun belum juga Draco berkesempatan menjawab pertanyaan mengagetkan itu, bel masuk kelas sudah kembali berbunyi. Memaksa semua siswa untuk kembali ke kelas mereka masing-masing, termasuk juga Raline dan Hakim yang sesungguhnya masih menyimpan rasa penasaran atas jawaban yang akan diberikan oleh Draco.
Calandra yang memang berada dalam satu kelas dengan Draco juga tak bisa mendesak laki-laki itu untuk menjawab pertanyaannya itu karena pelajaran berikutnya telah dimulai dan Draco saat itu telah menggeser duduknya menjauh dari Calandra, membuat Calandra tak leluasa membisiki Draco.
Hari itu, Calandra tak pernah punya kesempatan untuk mendekat ke Draco karena hari ini semua guru mata pelajaran hadir untuk mengajar hingga tak ada waktu kosong sama sekali. Bahkan di waktu istirahat yang kedua pun Draco memilih untuk langsung menghilang dari dalam kelas, meninggalkan Calandra dalam rasa sedih yang mendalam.
Resah hati Calandra namun dia tak tahu harus bersikap seperti apa di keadaan yang seperti ini.
Hingga waktu untuk pulang pun akhirnya tiba juga. Calandra berusaha menarik paksa tangan Draco saat Draco akan keluar dari kelas menyelinap diantara teman-teman sekelasnya yang lain, membuat teman-teman sekelas mereka jadi kebingungan.
“Lo kenapa sih Cal?“ gumam salah satu teman sekelasnya yang tak sengaja tersenggol tangannya oleh Calandra.
“Maaf… maaf… gue ngga sengaja,“ ujar Calandra tanpa melepaskan tangannya dari Draco karena takut Draco akan pergi lagi tanpa dia sdari.
“Si Calandra kenapa sih? Kok aneh banget ya dia hari ini,” ujar teman sekelas Calandra yang lain sambil berjalan melewati koridor sekolah.
“Iya. Kayaknya dia lagi berantem sama di Draco, iya ngga sih?!“ balas yang lain dan saat itu mereka berpapasan dengan Raline yang setelah mendengar percakapan dua orang itu akhirnya memutuskan untuk buru-buru untuk mendatangi kelas 3 IPS 1 serta menemui Draco dan Calandra.
“APAAN SIH CAL?!“ suara Draco menggema di ruang kelas yang sudah kosong itu.
“Kok aku? Harusnya yang ngomong kayak gitu tuh aku. Kamu tuh kenapa co?“ tanya Calandra dengan suara yang bergetar.
__ADS_1
“Harus berapa kali aku bilang, aku tuh ngga kenapa-kenapa. Kamu ngerti ngga sih?“ balas Draco sambil berusaha melepaskan genggaman Calandra di lengan seragamnya.
“Apa semua karena Irma?“ suara bergetar Calandra makin jelas terdengar.
“Apaan sih!? Kenapa bawa-bawa Irma? Dia ngga tahu apa-apa.“
“Kalau bukan karena dia, lantas alasana apa yang bikin kamu mengacuhkan aku?“
“Aku mengacuhkan kamu? Ngga ah, mungkin cuma perasaan kamu aja Cal,” Draco semakin mnunjukan rasa tak perdulinya.
“Kalau aku ngga tahan kamu tadi, sekarang kamu pasti uda ninggalin aku kan!?“
“Ngga juga,” nada ketus terdengar samar di kata-kata Draco kali ini.
“Padahal biasanya kita pilang sekolah bareng kan.“
“Oh… jadi selama ini kamu anggap aku ini tukang ojek kamu gitu? yang selalu anter kamu pulang sampe ke rumah, GITU?
“Sejak awal juga, bukan Calandra yang minta lo anter pulang tapi lo yang mau,” sambung Hakim.
“Iya. Dulu lo yang pengen banget anter Calandra pulang dari tempat renang. Lo bela-belain sampe sakit karena kehujanan,” timpal Raline.
“Sekarang kenapa lo mojokin si Calandra, seolah-olah dia ini benalu dalam hidup lo,” sambung Hakim lagi.
“Oh, jadi sekarang dua sahabat gue dari kecil ini lebih memihak ke Calandra, orang yang baru kalian kenal ini belum sampai tiga tahun,” ujara Draco sambil menekpuk tahgannya beberapa kali.
“Mihak Calandra? Kita berdua ngga mihak siapa-siapa. Kita mau kalian baik-baik aja kayak biasanya,” jawab Raline.
“Masa iya lo masih anggap gue dan Raline sahabat?! Sekarang aja lo menghindar dari gue dan Raline padahal dulu cuma gue dan Raline orang yang paling lo percaya dan yang pasti lo bakal cari,” ada rasa kecewa yang tersalur dari ucapan Hakim.
“Terus lo mau apa kim?“ gertak Draco.
“Terserah lo aja. Apa juga yang lo mau bakal gue ikutin. Walau itu artinya putus persahabatan kita,” jawab Hakim.
__ADS_1
“Hakim!“ serentak Calandra dan Raline bereaksi.
“Oke… “ setelah mengatakan hal itu, Draco langsung keluar dari kelas itu meninggalkan Raline, Calandra dan Hakim.
Raline hanya bisa terdiam merenung mendengar perdebatan dua orang sahabatnya yang tak pernah sekali pun dia saksikan sebelumnya.
Tangis Calandra pecah diantara kesunyian ketiganya dan ruang kelas yang sudah kosong itu. Calandra seolah tak mampu menopang tubunnya sendiri dan jatuh terduduk di lantai kelas, membuat Raline berusaha menahan tubuh Calandra yang akhirnya malah membuat keduanya terduduk di lantai.
“Maafin gue kim,” ujar Calandra dengan terisak.
“Maaf buat apa Cal?“ Hakim ikut jongkok di hadapan Calandra.
“Gara… gara-gara gue… lo sama Draco jadi ribut,” dengat terbata Calandra mengutarakan perasaan menyesalnya.
“Draco emang perlu dilurusin Cal,” jawab Hakim.
“Lo sama Draco harus baik lagi kayak semula. Gue ngga apa-apa kim. Lo juga lin,” Calandra sungguh menyesal dengan apa yang terjadi.
“Cal, keputusan Draco buat ngga sahabatan lagi sama dia sepenuhnya hak dia. Ngga ada urusannya sama lo atau pun Raline,” Hakim mencoba menenangkan Calandra.
“Nanti mereka akan balik jadi sahabat lagi kok Cal. Lo tenang aja ya,” Raline pun mengupayakan hal yang sama dengan Hakim.
Namun tetqp tak bisa dpunggiri bahwa Calandra merasa telah menghancurkan persahabatan tiga orang yang telah bertahun selama bertahun-tahun, bahkan sebelum dia ada diantara ketiga orang itu.
Dada Calandra terasa amat sesak. Dua hal yang membuatnya sedih terjadi dalam waktu yang bersamaan.
Seolah sulit untuk memasukan oksigen ke dalam paru-parunya. Penglihatannya pun terasa berkunang-kunang, pada akhirnya Calandra yang telah menahan diri sejak tadi pada akhirnya ambruk juga.
“Cal… cal.. “ Raline berusaha untuk menyadarkan Calandra yang sudah jatuh pingsan.
Ternyata Hakim tak kalah paniknya melihat Calandra yang tak sadarkan diri di lantai kelas 3 IPS 1.
Setelah itu Calandra tak ingat apapun lagi. Yang dia tahu, saat dia terbangun dia sudah betada di dalam kamarnya sendiri, terbaring di kasurnya yang lembut. Sementara mamanya duduk dengan gelisah di samping tempat tidurnya.
__ADS_1