
Adit dan Sania duduk dengan saling berhadapan.
Sania menatap Adit lalu menceritakan tentang bagaimana dia bisa berada disana.
"Banyak penderitaan dalam jeritan suaranya.Dia seperti dalam musibah besar.Kita harus menolongnya...."ucap Sania memohon.
"Sania,kita bisa menolongnya kalau ada orang disana,tetapi yang terjadi disana tidak ada siapa-siapa?"kata Adit menyangkalnya.
Sania membantah perkataan Adit,"Aku mendengar jeritannya berkali-kali!"
"Kamu mau menganggap aku gila? Tetapi aku memang benar mendengar suaranya dengan jelas seperti saat ini kamu berbicara di depanku,"mata Sania sampai berkaca-kaca menjelaskannya.
Adit memijit pelipisnya,dia bingung dengan Sania dan hanya menganggapnya berhalusinasi.
"Kalau memang kamu benar mengapa aku tidak mendengarnya Sania? Mengapa aku juga tak merasakan penderitaannya?"tanya Adit.
"Kamu memang sudah lama tidak merasakan penderitaan seseorang Dit,"ucap Sania sinis seraya menyindir sang suami.
Adit merasa bersalah karena ucapannya melukai hati Sania.Bukanya meminta maaf malah menambah sakit hati istrinya saja.
Akhirnya Sania menyudahi pembicaraannya dengan sang suami.Toh percuma juga jika dia tak percaya.Sania beranjak pergi dan melangkahkan kakinya ke kamar.
__ADS_1
Adit hanya bisa memejamkan matanya.Dia akui memang beberapa bulan ini tak perduli dengan istrinya.Setiap malam juga jarang pulang.
Tetapi sekarang dia ingin seperti dulu lagi yang selalu memanjakan Sania,dan tidur disampingnya.Entah jika istri mengetahui rahasianya masihkah dia mendapatkan maaf?
Adit memutuskan menyusul istrinya dan duduk di atas ranjang tempat tidur,karena Sania masih terjaga.
Saat Adit ingin menyentuh tangannya Sania malah berdiri dan mengambil obat tidur di atas nakas.
Adit berjalan cepat dan merebut obat tidur itu.Dia tidak akan membiarkan istrinya mengonsumsi obat itu lagi.
"Saniaa..!"bentak Adit dengan merebutnya paksa obat dari tangan Sania.
Adit menggenggam obat itu dengan erat,ia marah karena Sania masih mengonsumsi obat tidur disaat Adit sudah berada di sampingnya.
"Kamu bisa tidur tanpa obat ini...!"
Sania kesal dan merebut kembali obat tidur itu.Tetapi belum meminumnya.
"Aku tak bisa tidur tanpa obat ini!"ucap Sania sarkas.
"Jangan tidur cepat kalau begitu,aku akan selalu di sampingmu sampai kau bisa tertidur.Aku takkan pergi -pergi lagi."
__ADS_1
"Saat kau belum bisa memejamkan mata kita bisa bersendau-gurau kemudian aku akan menggenggam tanganmu sepanjang malam."ucap Adit seraya memegang wajah Sania dengan kedua tangannya.
Bagi Sania Adit justru mengingatkan kembali pada kesendiriannya saat malam-malam dingin menyapa tubuhnya.
Sania melepaskan tangan Adit dan berjalan mundur.
"Saat kamu yang seharusnya bersamaku,saat itulah kamu malah menjauhiku."Sania menatap wajah suaminya dengan mata berkaca-kaca.
Dia kecewa karena perlakuan suaminya dia harus ketergantungan dengan obat tidur.
"Jika ada yang ingin aku katakan padamu kamu selalu beralasan dan tak memperdulikan aku."
"Saat aku ingin bermanja seperti dahulu,kamu mlah mengabaikan ku dan membentak ku karena mengganggumu..."ucapnya dengan sendu.
"Aku menderita selama ini...!"
"Disini, Sania menunjuk dadanya.Sungguh sangat sakit Dit....dan hanya obat inilah yang menemaniku menggantikan dirimu."Menatap wajah suaminya dengan tajam.
"Jika kamu sudah sepenuhnya mencintaiku maka pil-pil ini tidak akan diperlukan lagi.Tapi saat ini aku belum bisa meninggalkan obat ini."
Sania mengambil 2 butir lalu menenggaknya dengan segelas air.
__ADS_1
Aditya tidak bisa mencegahnya lagi.Dia hanya menatap wajah Sania dengan sendu serta perasaan bersalah yang teramat besar.Sang istri sampai ketergantungan pil tidur karena ulahnya.
...****************...