
Usai menamparnya, Adit menunduk seperti terlihat menyesal karena tidak bisa mengontrol emosinya.Dia mengusap kasar wajahnya dan berbalik membelakanginya.
Sedangkan Malini masih memegangi pipinya dengan dada yang masih bergemuruh.Ia tak terima karena Adit lebih mementingkan***itu dibandingkan dirinya.Ia tidak tau bahwa sebenarnya yang*****di sini adalah dirinya sendiri, karena Sania adalah istrinya Adit.
"Maaf,"Ucap Adit pelan lalu berbalik menatap Malini dengan sendu,"Aku mohon jangan membuatku melakukan hal itu lagi,please!"
"Bukankah aku sudah berbaik hati untuk membiarkanmu tinggal dirumah ini.Jadi kau juga harus tau batasannya selayaknya seorang tamu...Aku mau kita melupakan semua yang terjadi diantara kita.Aku mohon,"Ucap Adit dengan nada rendah.Sementara Malini hanya menunduk memperlihatkan wajahnya yang sedih dan terluka.
Tetapi detik berikutnya ia menatap Adit sinis ketika mendengar kalimat terakhir Adit yang ingin mengakhiri hubungannya.
"Kau menyamakan aku seperti ****diluar sana, yang habis kau tiduri lalu kau lupakan?"
Aditya tersentak dan melebarkan bola matanya kaget ,karena ia sedikitpun tak pernah berpikir seperti yang dikatakan Malini.
"Aku bukan wanita panggilan dan setelah dipakai lalu dicampakkan,"Ucapnya melirik tajam sambil menggelengkan kepalanya."
"Ingat aku baik-baik Aditya! Aku akan merebutmu dari wanita *****itu.Aku akan menyingkirkannya dari hidupmu!"Ancamnya dengan penuh penekanan.
"CUKUP,"sentak Adit lalu menarik Malini untuk membawanya keluar dari rumahnya.
"Lepas,"Teriak Malini dengan memberontak.
"Ayo,"Teriak Adit sambil terus menarik tangannya.
"Lepasin aku Aditya! Kau tak boleh memperlakukan aku seperti ini! Lepaskan!"Teriak Malini yang terseret karena Adit terus menariknya secara paksa.
__ADS_1
"Keluar!"Bentak Aditya lalu mendorong Malini.Setelah itu ia menutup pintu rumahnya.
"Aditya! Buka pintu Aditya!"teriak Malini sambil menggedor-gedor pintu yang sudah dikunci oleh Adit.
"Kenapa kau mengusirku demi wanita****itu!"Teriaknya tak terima."Aku bahkan tak menghakimimu,aku tak mau menemuimu lagi! Pergilah kau Aditya! Mati saja kau!"Umpatnya dengan marah-marah dari balik pintu.
Sedangkan Adit masih diam bersandar dibalik pintu.Ia juga mendengar semua umpatan kasar yang sudah dilontarkan oleh Malini.
Setelah mengumpat Adit Malini pergi menggunakan mobilnya.Adit bisa bernafas dengan lega kali ini.Sungguh ia dibuat pusing dengan sikap Malini yang sangat brutal kali ini.
Hingga tak sengaja Andi sang sopir melihat kejadian ini.Dia juga mendengar semua perdebatan mereka.Dan Andi juga menyimpulkan bahwa majikannya telah berselingkuh dengan wanita brutal tadi.
Saat tengah malam Adit tidak bisa memejamkan kedua matanya.Perasaannya tak menentu dan gelisah menghantuinya.Kemudian ia memutuskan untuk menelpon sang istri.
Sania menggeliat dan mendesah pelan.Kemudian mengerjapkan matanya berkali-kali sambil menerima telepon.
"Halo? Halo?"Namun tak ada jawaban diseberang sana.
"Halo? Halo?"Sania berteriak kesal dengan matanya yang setengah terpejam.Ia sangat mengantuk.
Sementara Adit hanya diam dengan wajah menyedihkan mendengarkan suara sang istri.Kemudian mematikan panggilan teleponnya.Ia tak sanggup berbicara dengan sang istri saat ini, karena matanya berkaca-kaca dan perasaan bersalah menghinggapi dirinya.Adit memegangi kepalanya yang terasa berdenyut-denyut.
Setelahnya Adit menunduk memegangi kepalanya sambil menangis.Sebenarnya ia ingin mengakui kekhilafannya,tapi disisi lain Adit takut jika Sania benci kepadanya lalu pergi meninggalkannya.Membayangkan saja ia sudah tidak sanggup.
****
__ADS_1
Pagi-pagi sekali Adit berangkat ke kantor dengan mengendarai mobilnya sendiri.Sang supir melakukan tugas yang lain.
Tiba-tiba ditengah jalan Adit menghentikan mobilnya.Malini berdiri dihadapannya dan menghadang perjalanannya.
Dengan perasaan was-was Adit turun dari mobil dan berjalan cepat menghampiri Malini.
"Malini, tolong jangan halangi jalanku!"ucapnya dengan tegas.Adit sudah tak perduli lagi dengannya.
"Hiks...hiks.."Malini menangis menatap Aditya."Aku tak sepatutnya bersikap demikian,"Ia terisak sambil menggeleng pelan.
"Tampar aku!"Ucap Malini dengan menarik tangan Adit untuk menampar dirinya sendiri."Tapi jangan marah padaku,"Pintanya dengan terisak.
Aditya terkejut dengan ulahnya.Tetapi dia diam saja tak terpengaruh dengan tangisannya.
Ia mengenggam tangan Adit,"Kau sudah memberiku banyak cinta,tapi apa yang sudah aku berikan? Sebenarnya aku sangat malu,tapi aku juga tak pandai menenangkan hatiku.Saat membayangkan kau bersama dengan dia, rasanya aku sangat ingin marah.Aku harap kau tidak menikah denganya."
Adit melotot tak percaya.Ternyata Malini juga menganggap bahwa Sania adalah pacarnya.Kupingnya terasa panas, karena Malini terus menghina sang istri yang tidak tau apa-apa.
"Aku berharap aku bisa menghapus semua kenanganmu bersamanya.Aku berharap dia tak pernah menyentuhmu.Aku berharap...."Malini ingin menangkup wajah Adit, tetapi Aditya menahan kedua tangannya.
Aditya menatap tajam wajah Malini sambil mencengkram pergelangan tangannya,"SANIA ISTRIKU.Dia berhak atas semua hati dan jiwaku."Sementara Malini berhenti memberontak karena terkejut.
"Bukan hanya saat ini saja,tetapi juga untuk kehidupan mendatang." Adit menghempaskan tangan Malini dengan kasar.
*****
__ADS_1