
Setiap harinya Aditya dan Malini sering menghabiskan waktu berdua saat malam tiba.Tidak habis-habisnya Malini membuat Aditya merasa candu dengan tubuhnya.
Bahkan Adit sudah lama tidak memberi kabar kepada sang istri.Hingga akhirnya sang istri yang kadang menghubunginya. Adit tetap berusaha menyembunyikan perselingkuhannya dengan baik.
Seperti sekarang ini, setelah menikmati surga dunia yang begitu memabukkan mereka berpelukan di dalam satu selimut yang sama dan tanpa pakaian sehelai pun.Saling diam dan merenungi pikiran masing-masing.
Adit merenung karena memikirkan Sania istrinya yang jauh disana.Dalam hatinya ia merasa bersalah telah menduakanya, tetapi dia juga sudah nyaman bersama dengan Malini sekarang ini.Adit bingung memikirkan jika nanti Sania atau Malini akan mengetahui semuanya.
"Sayang,"Malini mendongak dan matanya berkaca-kaca.
Adit tersentak,lalu menunduk menatap sendu wajah Malini yang berkaca-kaca.
"Aku mohon, jangan pernah tinggalkan aku.Aku sangat mencintaimu,"Tuturnya seraya meraih tangan Adit dan menciumnya.
Aditya diam.Dia tidak tau harus menjawab apa, kemudian menaikkan dagu Malini dan mengusap air matanya yang menetes setelah itu menciumnya dengan lembut.
Karena Adit tak kunjung memberikan jawaban yang pasti,Malini kembali mencium leher Adit dengan sangat lembut untuk mengurangi rasa kecewanya.Ia tau bahwa ada yang sedang disembunyikan Aditya.Malini akan mencari taunya sendiri.
*****
Saat malam tiba,Adit dikejutkan dengan tingkah Malini yang sangat berbeda dari biasanya.Adit tidak pernah tau jika kekasihnya ini mempunyai gangguan jiwa.
Tiba-tiba Malini menatap serta menodongkan pistol ke arah Adit.Tentu saja dia kaget, darimana wanita itu mendapatkan pistol itu.Tanpa Adit ketahui bahwa Malini adalah putri seorang Kolonel.
Malini mengarahkan pistol ke arah lantai dan berkata,"Dia mencintaiku."
"Dia tidak mencintaiku,"Ucapnya lagi seraya mengalihkan pistolnya ke kepalanya sendiri.
Aditya tercengang mendengar perkataan Malini.Seketika itu ia berlari ke arah Malini.Adit memeluknya dan berusaha menghentikan niat Malini.
__ADS_1
"Kenapa denganmu? Apa kau gila?"Teriak Aditya seraya mengumpat kesal.
Aditya berebut pistol itu dengan Malini,"Serahkan pistol itu! "
"Tenang,"Ucap Malini dengan mengangkat tinggi-tinggi pistol itu ditangannya.Ia berusaha mempertahankan pistol miliknya.
"Serahkan! Serahkan pistol itu!"Teriak Adit sampai ia berguling-guling dilantai bersama Malini.
"Sst..ssst.. tenang..pistol ini tak ada amunisi,"Malini mengisyaratkan Adit untuk diam dan tenang.Karena posisi Malini yang berada di atas tubuh Adit membuatnya sedikit lebih leluasa.
Sedangkan Adit yang dengan nafas tersengal -sengal saking paniknya kini bisa sedikit menghembuskan nafas dengan lega.
"Tenang...,"Ucap Malini dengan penuh kelembutan.
"Dari mana kau dapatkan pistol ini?"
Malini ingin selalu bersama Aditya, karena jika ia pulang bukan tidak mungkin dia akan kembali lagi ke rumah sakit jiwa dan Malini tidak mau lagi kembali ke sana.
Malini menatap wajah Aditya dengan penuh cinta seraya mengusap rambutnya,"Tidak semua lelaki bisa sopan, tampan dan jujur seperti kau."
Malini menunduk dan ingin mencium pipinya, tetapi tiba-tiba suara dering telepon mengagetkan mereka berdua.Seketika Adit menoleh kearah telepon yang berdering itu dan beranjak dari sana.
Adit segera mengangkat telepon itu yang belum ia ketahui dari siapa.
"Halo?"Tak ada jawaban disana."Halo!"
"Mengapa hal-hal yang romantis sebagai sepasang suami istri sudah hilang dalam sekejap mata?"Jawab Sania diseberang sana.
Aditya tersentak saat mengetahui sang istri yang telah menelponnya.Sejujurnya Adit rindu sekali dengan istrinya ini.Walaupun sudah ada Malini disini, tetap saja Sania yang menghuni relung hatinya sampai kapanpun.
__ADS_1
Aditya menoleh ke belakang dan memastikan bahwa Malini sedang tidak dibelakangnya.Sejujurnya Adit ingin egois memiliki mereka berdua.
"Sudah berbulan-bulan dan hampir setahun kamu jarang menghubungiku."Sarkas Sania.
Memang benar jika Adit tak pernah lagi menghubunginya, tetapi Sania yang harus menelponnya terlebih dahulu.
Aditya,aku rasa kamu sudah tidak mencintaiku lagi."
"Hahaha..kamu bisa saja.Ini aku baru mau menelfonmu,sumpah Sayang,"Sesekali Adit menoleh kebelakang.
Sania tak terpengaruh sedikitpun dengan bualan suaminya.
"Tetapi baguslah jika kamu meneleponku.Susah mau pergi-pergi dari sini, hingga aku merasa bosan."Ucap Adit.
Hening.
"Halo , Sania?"
"Aditya, apa kamu sedang sendiri?"
Deg..
rasanya jantung Aditya ingin melompat karena istrinya mempunyai firasat yang sangat kuat.
Dan tanpa Adit ketahui Malini sudah ada dibelakangnya dengan wajah yang penuh amarah.Karena mengetahui bahwa lelaki yang sangat ia banggakan dan ia puja selama ini tidak lebih dari seorang pecundang.
****
Jangan Lupa Tinggalkan Jejak 🤩
__ADS_1