Dendam Setan Pelakor

Dendam Setan Pelakor
Bab 33


__ADS_3

"Aaaaaa...!"Sania terkejut hingga ia menjatuhkan bungkusan itu.


"Bagaimana mungkin lemonnya berubah warna menjadi merah?"batinnya bertanya-tanya.


"Berarti ini adalah pertanda bahwa akan terjadi musibah besar,"ucapnya dengan cemas disertai jantung yang berdegup kencang.


Tak bisa dibohongi hati Sania kembali kalut dan tak tenang karena merasakan ketakutan yang teramat besar.


"Ini tidak bisa dibiarkan,apa yang aku rasakan memang benarkan bahwa aku tidak sedang berhalusinasi...! aku harus segera memberitahu Adit...!"gumamnya dengan menahan emosi.Karena suaminya itu tak pernah percaya padanya.


Didalam pikirannya saat ini hanyalah ingin segera bertemu suaminya.Karena ini menyangkut tentang kehidupannya ke depan dengan suaminya,tetapi saat mencoba menghubungi suaminya,naasnya telfonnya tidak di angkat sama sekali.


"Ah,sial .....kemana dia?"kesal Sania sembari memaki suaminya yang tidak menjawab teleponnya.


Dengan tergesa-gesa Sania bertekad untuk menyusul sang suami ke kantornya.


Karena ia tak bisa menahan lagi untuk tidak memberitahu kebenaran yang selama ini ia rasakan dan semoga saja belum terlambat untuk mencegah musibah besar itu.


Sania kesal kerana suaminya tidak pernah percaya dengan apa yang dikatakan dan dirasakannya.


Dan akhirnya terbukti sekarang akan ada musibah besar yang sedang menantinya bukan.Ia berharap kali ini suaminya mau mempercayainya.


Sania menaiki taksi kekantor suaminya.diperjalanan dia juga sudah menghubungi Ria dan Prof Agni tentang lemon yang berubah warna menjadi merah itu.


Tetapi mereka menunggu keputusan dari Sania.Dan langkah apa yang Sania dan suaminya akan ambil selanjutnya.

__ADS_1


Sania tiba di kantor suaminya dan tanpa basa-basi ia menuju keruang di mana suaminya sedang mengadakan meeting penting.Dan.....


Brakk......(Suara pintu yang dibuka Sania dengan kasar)


Mereka yang sedang berada diruang meeting seketika mengalihkan pandangannya kepada istri pemilik hotel ini.


Saat baru masuk beberapa langkah Sania berhenti menatap tajam ke arah Aditya.


Dapat mereka lihat dengan jelas bahwa Sania datang dengan wajah yang sedang menahan amarah.


Mereka hanya bertanya-tanya apa yang sedang terjadi dengan pasutri ini? karena setahunya mereka adalah pasangan yang sangat romantis dulu.


"Aku sudah memberitahumu!"Sania masih Menatap Adit dan berucap dengan penuh penekanan di setiap katanya.


Dapat Adit lihat jika istrinya sedang menahan amarah yang sangat besar untuknya.


"Ada sesuatu dirumah -"Sania mengucapkannya dengan tersendat karena matanya sudah berkaca-kaca.


Adit bingung menatap sang istri,karena setahunya tadi pagi saat ia pergi ke kantor dia dan Sania masih baik-baik.


Sepertinya dia juga tidak sedang membuat kesalahan yang fatal.


Aditya menatap sekelilingnya dengan raut wajah tak enak karena istrinya datang dan tiba-tiba berkata yang tak jelas.


Mereka semua juga menatap Sania dengan tatapan bingung.

__ADS_1


Hanya asisten Adit yang bernama Kevin yang menatapnya dengan intens dan tatapan yang sulit diartikan.


Sania sudah tidak perduli dengan tatapan semua orang.


Karena tak mendapat respon Sania benar-benar merasa marah.


"Aku sudah bilang! Bunyi tembakan itu.....! Ada sesuatu dirumah kita Adit !"Sania yang tak tahan akhirnya berteriak melampiaskan amarahnya dan diiringi dengan suara tangisan yang meraung.


Sania berteriak dengan histeris tanpa memperdulikan semua tatapan para kolega bisnis suaminya.


Dalam hatinya Kevin sebenarnya meyakini jika apa yang dikatakan Sania adalah sebuah kebenaran.


Tetapi percuma juga mengatakannya dengan Adit sahabatnya itu,karena sekeras apapun dia tidak akan mudah percaya jika tidak merasakannya sendiri.


Aditya segera berdiri menghampiri sang istri.Dia sungguh iba melihat sang istri yang tiba-tiba saja bertingkah aneh seperti ini lagi.


Adit menatap wajah istrinya dengan tatapan sedih.Tak tahu harus bagaimana menanggapinya.


"Ada roh yang sedang menghantui rumah kita,Adit..!"ucapnya dengan masih menangis tanpa mengalihkan pandangannya kepada suaminya berharap Adit mempercayainya.


Aditya yang tak tahan melihat sang istri berbicara ngawur memegang kedua lengannya,tetapi Sania menepisnya karena sang suami hanya diam saja tanpa merespon ucapannya satupun.


Adit yakin jika istrinya itu hanya sedang berhalusinasi karena terlalu sering mengonsumsi pil tidur itu.


Saat Aditya mencoba memegang kembali pundaknya Sania kesal lalu mendorongnya dengan keras.

__ADS_1


"Kalau tidak ada sesuatu,lemon prof Agni tidak akan mungkin berubah warna menjadi merah !"Sania menunjuk-nunjuk wajah suaminya sembari menangis tersedu-sedu.


__ADS_2