Dendam Setan Pelakor

Dendam Setan Pelakor
Bab 24


__ADS_3

Sania sungguh merasa terkejut ketika sekop panjang itu terjatuh kembali.Tetapi dia tetap berfikir positif.


"Ah....mungkin saja aku tidak benar tadi saat meletakkan nya...."gumamnya seraya menyandarkan kembali sekop itu ke dinding.


Sania kembali duduk ditempat semula,ia ingin cepat menyelesaikan pekerjaannya dan segera beristirahat.


Tetapi,baru beberapa detik Sania kembali terkejut dan kali ini jantungnya berdegup kencang dan nafasnya terengah-engah.


Sania menolehkan kepalanya ,dan lagi-lagi sekop itu kembali terjatuh, dan ini sudah ketiga kalinya sekop itu jatuh hingga membuat Sania dilanda ketakutan yang luar biasa.


Belum selesai keterkejutannya dia kembali dikejutkan suara dering telepon dari dalam rumah yang berbunyi sangat nyaring.


Sania lalu meninggalkan sekop itu setelah menyandarkannya ketempat semula.


Dia tidak menyadari jika ada sebuah noda darah dibagian kayunya.


Ternyata kayu itu adalah sebuah pertanda yang memang diperlihatkan oleh sang hantu kepada Sania.


Mungkin noda darah itu berasal dari bekas jejak tangan pelaku yang terkena darah dari sang korban.


Dan saat ini,Sania menetralkan nafasnya pelan-pelan,dia beranjak dari tempatnya dan masuk kedalam rumah untuk mengangkat telepon.


Sania buru-buru mengangkat telepon itu yang entah dari siapa?


"Hallo?"tidak ada jawaban disana."Hallo,hallo?"

__ADS_1


"Si-siapa ini?"tanya Sania dengan terbata-bata.


Masih juga tidak ak ada jawaban disana.


"Hallo,siapa ini?"teriak Sania dengan wajah frustasi karena tragedi sekop jatuh itu masih membuatnya berpikiran yang tidak-tidak.


Sania mendengar suara benda yang bergetar dibelakangnya.Ia menoleh sambil memegang gagang telepon itu.


Ternyata suara figura kecil yang terdapat foto dirinya dan suami tiba-tiba saja berguncang dengan sendirinya dan sedikit lagi terjatuh.


Sania yang melihat itu semakin ketakutan sehingga keringatnya keluar membanjiri tubuhnya dia juga menelan ludahnya dengan susah payah,karena tidak ada siapa-siapa disini.


Dan.....pada akhirnya...


Sania berjingkat kaget dengan deru nafas yang naik turun. Kejadian hari ini benar-benar aneh.


Nafasnya masih memburu melihat bingkai itu terjatuh.Kakinya seketika menjadi lemas.


Sania masih memegang gagang telepon itu dan berniat menormalkan deru nafasnya yang masih memburu,dia berniat memunguti pecahan figura yang jatuh itu walau kaki dan tangannya masih gemetaran.


Disaat Sania ingin berjongkok,ia kembali dikejutkan dengan suara lampu gantung diatasnya yang tiba-tiba ikut berguncang.


Sania menatap lampu tanpa berkedip dan jantungnya kembali berdetak cepat.


Tiba-tiba tubuh Sania kaku dan sulit untuk digerakkan saat lampu itu hampir pecah,karena ia sungguh sangat ketakutan untuk yang kesekian kalinya,Bibirnya menggigil hingga matanya pun sampai berkaca-kaca.

__ADS_1


"Nyonya?"


"Aaa...."teriak Sania seraya memejamkan mata.


"Nyonya?"


"Hah...hah...hah!"nafas Sania kembali tersengal,tetapi ia tetap menoleh.


Sania terkejut ketika ada yang memanggilnya.


Saat ia menoleh ternyata yang memanggilnya adalah sesosok manusia.


Sania menghela nafas dengan lega, walaupun masih terengah-engah karena terkejut.


Yang memanggil nya ialah bi Ani yang entah dari mana datangnya dan tiba-tiba muncul.


Sania sendiri belum pernah melihatnya.


"Siapa kamu ?"tanya Sania dengan masih berdiri ditempatnya tadi.Kemudian meletakkan gagang telepon yang masih digenggamnya.


"Perkenalkan saya bibi Ani Nyonya.....! Saya di utus oleh Tuan Aditya untuk membersihkan rumah ini,dari pagi sampai sore!" jawab bi Ani menundukkan badannya memberi salam.


"Kenapa bisa jatuh seperti ini...?"gumamnya dengan pelan, seraya memunguti pecahan kaca itu.


"Lalu dimana pak Andi? Dari kemarin aku tidak melihatnya...!"tanya Sania sambil menatap sekelilingnya mencari sopir sekaligus tukang kebunnya itu.

__ADS_1


__ADS_2