Dendam Setan Pelakor

Dendam Setan Pelakor
Bab 38


__ADS_3

"Aaaaaa..........."Sania sampai berjingkat karena tiba-tiba saja dia mendengar bisikan suara perempuan yang menjerit.


Jantungnya sudah berdebar kencang karena tubuhnya seakan tak kuat menopang berat badannya, kemudian ia berbalik dan melangkah dengan badan yang gemetaran menahan takut.


Saat Sania akan melangkah lagi ia berhenti,tiba-tiba saja punggung tangan sebelah kanannya terkena tetesan warna merah seperti darah.Sania perlahan melihat ke atas mengikuti arah dari mana tetesan itu berasal dengan wajah gugup.


"Aaa...aaa...hah..hah....."Sania terkejut dan berteriak dengan suara histeris.Ia mundur beberapa langkah karena ketakutan.


Ternyata tetesan darah itu berasal dari lampu gantung yang berada diatasnya.


Sania menatap lampu itu dengan tangis yang masih meraung-raung,apalagi sekarang ditambah darah itu semakin mengucur dengan derasnya.


"Aaaaaa....Hah..hah..!"jantung Sania berdebar kencang ia begitu ketakutan seraya menangis tergugu.


Sania berlari ke arah pintu yang terbuka,tetapi begitu sampai, anehnya pintu itu langsung menutup dengan sendirinya.

__ADS_1


"Aa....aaa..huhuhu...!"Sania menangis sambil melihat sekeliling dan mencoba berlari ke pintu lainnya yang masih terbuka.


Alangkah histerisnya Sania,karena semua pintu sama saja.Saat Sania akan mendekat, pintu itu langsung tertutup dengan sendirinya dan tidak dapat dibuka kembali meskipun Sania sudah mencoba mendobraknya.


"Huhuhu...!"Sania benar-benar gemetar dan merasa ketakutan.Ia mencoba melewati pintu samping dan berlari dengan cepat saat pintu itu akan menutup.


Akhirnya ia berhasil keluar dan kini pintu itu tertutup.Ia melangkah dengan wajah takut dan tangis yang belum reda.Sania mundur perlahan dengan perasaan was-was dan tak sengaja melewati sebuah cermin yang tertempel di dinding.


Ia mengalihkan pandangannya ke cermin itu dan melihat dengan seksama wajahnya.Kemudian ia meraba tetesan darah di wajahnya dengan tangan yang gemetar.


Jantungnya kembali berdetak kencang.Ia membalikkan badannya takut-takut.Saat sudah menoleh, anehnya bayangan itu tidak ada disebelahnya.


Perasaan Sania sudah tak tenang dari tadi.Bayangan itu ternyata tak nyata.Kemudian ia melihat lagi ke cermin dan tiba-tiba wanita itu menunjuk dengan menggunakan tangan kanannya hingga Sania kembali histeris.


"Aaaaa.... aaaaaa....!"Sania lari keluar rumah dengan tunggang langgang,ia membuka pintu yang sempat dikuncinya tadi.

__ADS_1


Sania berlari sejauh mungkin dari rumahnya.Lalu saat menoleh tiba-tiba semua lampu dirumahnya berkedip-kedip menakutkan.


"Siapa kau?! Ini rumahku! Selagi aku masih hidup,kau tidak boleh mengambil alih rumahku!"teriak Sania dengan meraung histeris.


Hantu itu sudah tidak mengganggu Sania lagi saat diluar rumah,tetapi lampu itu terus saja berkedip dan membuat Sania takut.


"Kamu pikir bisa mengusirku dengan cara menakut-nakuti? Itu tidak akan terjadi! Aku tidak akan takut!"teriaknya lagi dengan menatap rumahnya yang menurutnya kini berhantu.


"Aku tak akan takut! Kamu tidak bisa mengambil rumahku,bukan aku yang harus pergi tapi kau!"teriak Sania kembali dengan menangis pilu berharap sang hantu itu mendengar teriakannya.


"Hiks...hiks...hiks..."


Semakin lama tubuhnya tak berdaya karena terlalu banyak menangis dan akhirnya tertunduk di tanah.


Karena kehabisan tenaga Sania lama-kelamaan jatuh pingsan dan tengkurap tak ada yang mengetahuinya.

__ADS_1


Tak terpikirkan sedikitpun olehnya untuk menghubungi Ria apalagi suaminya untuk meminta pertolongan.Kali ini dia sangat ketakutan sekali hingga tak sanggup mengadukan kejadian ini kepada siapapun.


__ADS_2