
Saat pagi hari tiba,Sania yang semalam pingsan di depan rumahnya terbangun karena suara burung berkicau.Ia mengerjapkan matanya pelan.
Pandangan pertama yang dilihatnya adalah rumah yang kini sudah tampak baik-baik saja tidak seperti semalam.
Sania berdiri melihat dengan seksama rumah yang tampak tenang itu,lalu masuk ke dalam dengan perasaan was-was.
Matanya memindai dengan teliti setiap sudut ruangan itu dan pintu-pintu yang kini sudah terbuka kembali.
Saat dirasa semua sudah baik-baik saja,Sania menuju ke kamarnya dengan jantung yang berdegup kencang,ia takut jika roh itu mengganggunya lagi.
Ia mengedarkan pandangannya kearah sudut kamarnya.Kemudian duduk di atas ranjang dengan perasaan takut dan juga gelisah.
Kemudian ia melirik pil tidur di atas meja dekat ranjangnya.
Tangannya bergetar saat mengambil pil itu.Ia berpikir beberapa kali dengan wajah gugupnya. Saat akan menelannya,ia teringat dengan perkataan Aditya.Dia tidak boleh menelan kembali pil itu saat suaminya tidak disampingnya.
Berkali-kali Sania bertentangan dengan nafasnya yang sudah naik turun karena ragu.
"Aaaakh...hiks..hiks..hiks.."Sania berteriak kesal sembari menangis pilu dan akhirnya membuang jauh-jauh pil itu.
Ia memutuskan untuk beristirahat agar pikirannya kembali tenang.
Sore hari ia memutuskan untuk pergi menemui Prof Agni dengan mengajak Ria.
__ADS_1
Sania dan Ria menemui Prof Agni di kantornya.Saat ini Prof Agni sedang menunduk mengerjakan sesuatu.
"Profesor..."panggil Ria dengan sopan.
Prof Agni seketika mendongak dengan wajah garangnya.
"Pergi!"bentaknya.
"Beritahu temanmu,aku tidak mau ikut campur."Prof Agni melirik tajam ke arah Sania.
"Aku hanya orang biasa, jangan ganggu lagi hidupku.Aku tidak mau ikut campur lagi urusan keluarga siapapun!" imbuhnya seraya menatap malas Sania dan Ria.Kemudian membalikkan badannya.
Seketika Ria menyahut,"Tapi Profesor,kau harus-..."
"Prof berbalik lalu memotong ucapan Ria,"Jangan bicara lagi,diam."
"Kali ini,aku akan melawan dan tidak akan lari."
"Tidak."Sentak Ria.
"Pergi dari sini!"usir Prof Agni dengan penuh amarah.
Sania yang sejak tadi hanya diam akhirnya membuka suara.
__ADS_1
"Aku melihat dia, Profesor."Kata Sania dengan wajah yang terlihat tenang menatap Prof."Aku sudah melihat wajahnya.Dia perempuan."
"Prof Agni yang mendengarnya perlahan mendekat kearah Sania.Amarah yang tadinya sudah meluap kini hilang berganti dengan perasaan was-was.
"Apa artinya semua ini, Profesor?"sahut Ria.
"Sebelumnya dia hanya mendengar suaranya.Sekarang dia melihatnya.Mengapa begini?"tanya Ria penasaran.
Prof Agni menatap wajah Sania lekat.
"Kau tidak ada kaitannya dengan kejadian itu,kan?"
"Kejadian apa?"tanya Sania dengan wajah bingung.
Kemudian mereka mengikuti Prof Agni yang sedang menunjukkan sebuah video Nina yang sedang di ikat dirumah sakit karena kerasukan roh.
"Sania melihat di video itu jika Nina sedang berteriak,"Aku sudah bangkit! Aku tidak akan melepaskan dia!"
"Kejadian ini terjadi di hutan depan rumahmu.Tempat kau mendengar suara-suara aneh."Jelas Prof Agni seraya menunjuk video yang sedang di putarnya.
Sania hanya menatap video itu dengan termenung menggigit bibirnya.Mendadak perasaanya tak enak.
"Kejadian ini terjadi pada tanggal 16 Mei.Malam yang sama juga saat kau mengalami musibah di kota B."Ucapnya dengan masih berdiri menatap video Nina.
__ADS_1
"Setelah kejadian Nina kerasukan,selang 2 jam kau juga mengalami kecelakaan."Tambahnya.
Deg...