Dendam Setan Pelakor

Dendam Setan Pelakor
Bab 32


__ADS_3

"Apa..?"Sania mundur dua langkah karena terkejut mendengar penjelasan Prof Agni.


Karena Sania Prof Agni berhenti sejenak dan kemudian melanjutkan perkataannya.Ia menatap lekat kedua mata Sania.


"Apa kau pernah mendapat tiupan angin tiba-tiba? Bisikan di telingamu? Apa kau temui sesuatu yang hilang dan tiba-tiba muncul kembali? Prof bertanya bertubi-tubi meskipun Sania hanya diam.


Ya aku baru saja mengalaminya,batin Sania seraya menatap Prof Agni.


"Apa kau mendengar suara-suara aneh, seperti tangisan? Terasa kehadiran seseorang walaupun kau sendirian?"Prof Agni berhenti dan melihat sebentar raut wajah Sania.Sania terlihat menunduk disertai dengan wajah gelisah.Kemudian Prof kembali memberi pertanyaan.


"Adakah kau rasa terbangun namun ternyata hanya mimpi buruk?"Sania mendongakkan kepalanya.


"Ya... bagaimana anda tahu?"tanyanya dengan perasaan sedikit cemas,sungguh ia takut akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.


"Maknanya memang ada sesuatu di rumahmu.Ada sesuatu yang ingin memperkenalkan dirinya.Meskipun dia telah mati."Ujarnya memberi tahu.


Setelah berkata demikian tiba-tiba saja lampu yang menggantung di sana bergetar dengan sendirinya.Seolah roh itu sedang memberi tanda atas kehadirannya.


"Ada ruang apa di atas sana?"tanya Prof Agni seraya menunjuk tepat di atas lampu itu.


"Dulunya itu sebuah ruangan bersantai dan ada sebuah piano juga disana,tetapi entah sekarang aku tidak tahu Prof,"Sania menjelaskan.


"Mari kita ke atas Prof."

__ADS_1


Sesampainya disana Sania membuka pintu dengan sedikit susah payah.Banyak debu di sana sini.


"Sudah berapa lama kau tak pernah buka pintu ini?"tanya Prof dengan heran,karena tempat itu kotor dan berdebu.


"Sudah lama,hampir 2 tahun Prof!"jawab Sania dengan pasti.


Kemudian Prof Agni berjalan beberapa langkah dan berhenti sejenak lalu menatap sekelilingnya.


"Tapi sepertinya seseorang sering berkunjung kesini!"jelas Prof Agni dengan mengernyit heran mendengar jawaban Sania barusan.


Sania tidak begitu menghiraukan penjelasan Prof Agni.Karena memang setahunya sudah sangat lama pintu itu tak pernah di buka.


Mungkin dulu rekan kerja suaminya pernah ke ruangan itu dan bermain piano untuk menghibur dirinya disaat kesepian karena dulu saat di kota B Adit sering kesini sendirian karena bisnisnya disini ada sedikit masalah.


Memang benar rumah Sania ada roh penunggunya.Entah itu roh jahat atau baik.Ia sempat melirik sebuah piano yang ditutupi oleh kain putih.


Kemudian Prof Agni menyuruh Sania menyediakan lemon, beberapa lilin dan kain putih serta korek api.


Setelah semua tersedia lalu Prof mulai membungkus lemon yang berwarna kuning itu dengan kain putih yang tadi sudah disiapkan.


kemudian menyalakan lilin itu dan ia letakkan melingkar disekitar lemon yang sudah dibungkus kain putih.


Sania dan Ria menatap serius dengan apa yang sedang Prof Agni kerjakan dan mendengarkan semua ucapannya.

__ADS_1


"Jika lemon itu tak berubah warna menjadi merah sampai matahari terbenam,kamu boleh menganggapnya semua akan baik-baik saja!"ujar Prof Agni seraya berdiri dan menatap lemon yang sudah dibungkus itu.


Kemudian Prof Agni menoleh kearah Sania dengan serius,"Tetapi jika lemon itu berubah menjadi merah,kamu akan mengalami musibah besar!"


Sania menatap Prof dengan wajah khawatirnya.Ria juga merangkul pundak Sania memberi ketenangan.


"Berdoalah agar lemon itu tidak berubah warna!"tutur Prof Agni dengan wajah yang tak kalah cemas.


Sania hanya diam dan menatapnya dengan tatapan cemas dan gelisah.


"Baiklah,kalau begitu aku pulang dulu! Semoga semua baik-baik saja!"kata Prof Agni menepuk pundak Sania dengan pelan.


"Sania aku pulang dulu,sekalian mengantar Prof. Tenang saja jangan pikirkan apapun..Oke?"pamit Ria yang sebenarnya juga cemas memikirkan sahabatnya.


Tetapi belum tentu semua itu terjadi bukan?"


"Berhati-hatilah Ria,"balas Sania dengan wajah yang terlihat tak tenang memikirkan lemon itu.


Sania memutuskan untuk menunggu di dalam kamarnya.Aditya juga belum kembali karena masih ada meeting room dengan beberapa koleganya.


Saat matahari sudah hampir terbenam Sania bergegas ke lantai atas.Dia sungguh penasaran dengan lemon itu dan ingin segera melihatnya.


Saat Sania menatap bungkusan lemon itu,dia perlahan mengambilnya dengan hati yang berdebar kencang,antara cemas dan takut jadi satu.Dia takut jika masalah besar akan terjadi dengannya.

__ADS_1


Sania membuka hati-hati bungkusan itu dan ternyata......


__ADS_2