Dendam Setan Pelakor

Dendam Setan Pelakor
Bab 41


__ADS_3

Sania memutuskan berbalik membelakangi mobil Prof Agni saat asap itu telah menutupinya samar-samar.


Sania melanjutkan langkahnya dengan perasaan was-was.


"Aa....."Sania terkejut bukan main dan memegang rambut belakangnya.


Tiba-tiba saja ada angin kencang yang menerpa rambutnya dari belakang.


"Apa yang kau inginkan?"teriak Sania dengan nada panik seraya berbalik kebelakang.


Profesor dan Ria yang sejak tadi memperhatikan tidak kalah terkejutnya dengan Sania.Jika mendengar teriakannya pasti saat ini Sania sedang tidak baik-baik saja.


Ria dan Prof Agni panik dan hendak keluar menolongnya.


"Aaaa..."teriak Ria karena kaget seraya menahan tangis.


Tak ada bedanya dengan Prof.Dia juga kaget lalu menoleh,tiba-tiba saja pintu mobilnya terkunci dengan sendirinya.


Jantung mereka berdebar sangat kencang.


Ria sangat panik karena itu artinya dia dan juga Prof Agni tidak bisa keluar.Entah apa yang terjadi dengan Sania saat ini.


"Aaaaaa...."suara roh itu menjerit pilu mengejar Sania.

__ADS_1


Saat ini Sania mencoba berlari sekuat tenaga.


Prof tak kehabisan akal dan ingin mencoba keluar lewat kaca bagian pintu mobilnya.


Ia sungguh khawatir dengan Sania.Sementara Ria juga sudah menangis dan ketakutan di dalam mobil.


Saat Prof Agni mencoba keluar tiba-tiba saja ada sebuah batang kayu besar menerjang ke arah kaca pintu mobilnya yang terbuka.


"Aaaa...aaaaaaa..."teriak mereka bersamaan.


Jantung Ria dan Prof Agni hampir copot saat batang besar itu menembus pintu mobilnya.Saat ini perasaanya semakin tak tenang karena kejadian ini sungguh di luar nalar manusia.


Untungnya mereka segera merapatkan tubuh ke kursi yang sedang didudukinya.Jika tidak,habislah mereka dihantam batang kayu besar itu.


Karena tiba-tiba lampu depan yang digunakan untuk penerangan tiba-tiba saja pecah dan mati satu persatu, disusul dengan kaca bagian depannya juga ikut pecah dengan sendirinya.


Di sisi lain Sania masih berlari, meskipun saat ini kakinya sudah hampir patah.


Suara jeritan itu masih mengejarnya dan suaranya semakin dekat.


"Aaaaaaa...."Sania berteriak histeris karena tubuhnya melayang di udara.


Sania akhirnya jatuh telungkup di tanah, setelah sempat melayang beberapa detik.

__ADS_1


"Hah...hah..hah..."Deru nafasnya masih memburu dan tubuhnya bergetar hebat.


Sania melihat kedepan dengan tubuh yang masih telungkup.Ia sudah kehabisan tenaga dan syok karena terjatuh.


Lalu ia melihat sebuah pistol yang letaknya tidak jauh darinya.Kemudian ia berusaha merangkak mengambil pistol itu dengan tangan yang masih gemetaran.


Sania menghela nafas lega ketika pistol itu sudah ada di genggaman tangannya.


Prof Agni dan Ria buru-buru datang menyusul setelah melihat kejadian Sania melayang.Takut terjadi sesuatu dengan Sania.


Karena saat ini pintu mobilnya juga sudah dapat dibuka kembali,karena roh itu mungkin sudah pergi setelah menyampaikan sebuah petunjuk kepada Sania.


Akhirnya tidak sia-sia mereka datang ketempat ini.Pistol itu adalah salah satu petunjuk untuk mengungkap misteri yang sudah terjadi disini.


"Sania,apa kau tidak apa-apa?"tanya Ria dengan wajah paniknya.Sania menoleh dan ia berdiri dipapah oleh Ria dan Prof Agni.


Mereka pulang dengan mobil yang keadaannya sungguh mengenaskan, tetapi untungnya masih aman saat digunakan.


Pagi harinya mereka kembali pergi bersama ke tempat penjualan senjata dan amunisi.


Mereka ingin memastikan apakah senjata ini dibeli disini atau ditempat lain.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan?"tanya pemilik tempat itu.

__ADS_1


"Aku hanya ingin bertanya,apa senjata ini dibeli disini?"tanya Prof Agni seraya menunjukkan pistol yang Sania temukan.


__ADS_2