Dendam Setan Pelakor

Dendam Setan Pelakor
Bab 29


__ADS_3

Setelah beberapa saat Sania pergi tadi.Adit pergi ke ruang kerja sebentar untuk mengecek pekerjaannya.


Sekitar satu jam lalu memutuskan menyusul istrinya yang sudah tertidur pulas dengan membelakanginya.


Adit hanya pasrah dan memakluminya.Karena mungkin ini juga yang dulu dirasakan Sania saat ia mengabaikannya dan tidak ada disisinya saat sang istri membutuhkan dekapannya.


Ini mungkin belum seberapa jika dibandingkan dengan penderitaan Sania sampai beberapa bulan.


Adit membalikkan tubuh Sania dan mengecup keningnya dengan penuh kerinduan,"Sayang,maafkan aku ...! "


"Sampai sekarang perasaan bersalah itu masih ada! Hatiku sakit saat melihatmu berbicara aneh dan tak masuk akal."Adit memeluk Sania dan menyusul sang istri ke alam mimpi.


Saat tengah malam tiba Sania seperti terbangun karena terkejut ketika mendengar suara gaduh didepan rumahnya.Suara seperti orang berteriak.


Sania sebenarnya takut tetapi ia juga penasaran siapa malam-malam begini yang berbuat gaduh dan berteriak.


Sania melangkahkan kakinya dengan sedikit gemetar dan setelah mendekati pintu lalu membukanya perlahan.


Ternyata memang benar ada seorang pria yang sedang berbicara dan berteriak entah pada siapa?


Sania bergegas ke taman untuk melihatnya.Betapa terkejutnya karena ternyata...

__ADS_1


"Pak Andi...?"lirih Sania dengan perasaan was-was dan wajah bingung.


Pak Andi masih belum melihat Sania dan ternyata ia berbicara sendiri tanpa ada orang lain.


"Perempuan ini tak henti-hentinya menatap!"Ucap Andi menatap seseorang di depannya yang Sania tidak dapat melihatnya.


"Pak Andi?"panggil Sania dan seketika Andi menoleh.


"Nyonya...."


"Nyonya dengar bukan? Hanya kita berdua saja yang bisa mendengar suaranya."ucap Andi seraya menangis pilu.


"Tidak ada yang bisa mendengarnya selain kita Nyonya.Istriku dan Tuan Aditya tidak bisa mendengarnya.Mereka tak percaya pada kita ,"lanjutnya dengan terisak frustasi.


Sania berkaca-kaca menatapnya dia bingung bagaimana harus menanggapinya.


"Nyonya suara-suara ini membuat otakku seperti akan meledak."


"Aku sudah tak tahan lagi Nyonya...!"tuturnya yang masih di iringi dengan tangis yang pilu seraya tangannya memegangi kepalanya yang seperti mau meledak.


Sania hanya memandangnya dengan tatapan sedih.

__ADS_1


"Selamatkan aku Nyonya... atau aku akan benar-benar menjadi gila saat ini...!"ujarnya sembari mengatupkan kedua tangannya untuk memohon.


Sania bingung harus menjawab apa, bagaimana caranya dia menyelamatkannya sedangkan dirinya saja juga merasa suara itu mengganggunya.


Andi berbalik karena Sania hanya diam dan hanya menatapnya dengan iba.


Ia kembali berteriak dan menangis sendiri.


"Aku bisa gila.... gila...gila! Huhuhu..."dengan tangisnya yang semakin menggema.


Saking frustasinya Andi mengambil batu,lalu kemudian memukulkan batu itu di kepalanya sendiri sampai beberapa kali dan mengeluarkan banyak darah.


"Pak Andi... Pak Andi.."pekik Sania.


"Aaa.....hah..hah...hah..."Nafas sania terengah-engah dan peluhnya keluar bercucuran.Karena ternyata yang dialaminya itu semua hanya mimpi.


Sania meraih air minum di atas nakas dan meneguknya hingga tandas.Ia berusaha mengatur nafasnya agar kembali normal.


Sania menoleh sekilas, ternyata suaminya tak terusik sedikitpun.


Sania kembali memikirkan tentang apa yang baru saja ia mimpikan.Rasanya itu seperti nyata saat dia bertemu dengan pak Andi dan bukan mimpi.

__ADS_1


Mungkin ada hal lain yang harus ia ketahui atau ungkap dan sepertinya Pak Andi juga sudah memberi pertanda kalau dia memang menghilang karena tak tahan dengan suara yang mengganggunya itu.


Sania tidur kembali dan akan memutuskan menceritakan mimpi yang dialaminya ini kepada Ria besok.Semoga saja Ria mau mempercayainya.


__ADS_2