Dendam Setan Pelakor

Dendam Setan Pelakor
Bab 43


__ADS_3

"Bagaimana kalau aku tidak ingin berjumpa dengan kau?"tantang Kolonel Arjun.


"Aku akan serahkan... pistol ini kepada polisi dan polisi akan menyelidiki siapa yang...kau bunuh dan apa sebabnya."Ancam Sania dengan geram menahan amarahnya dibalik telepon.


"Baiklah...besok pukul 11pagi datanglah ke sini."Akhirnya Kolonel Arjun mengalah dan memberikan alamatnya,ia tidak mau urusannya jadi panjang dengan polisi hanya karena salah paham.


Ya, salah paham,karena dia memang tidak mungkin membunuh gadis yang ia ketahui adalah putri semata wayangnya.Hanya sebuah pistol saja sudah bisa dipastikan pistol itu milik Malini yang dicuri darinya.


Saat tiba di kamar putrinya Kolonel Arjun mengusap foto gadis kesayangannya dan mendekapnya erat.Ia menangis meraung memanggil Malini.Tak percaya jika sang putri telah meninggalkannya.


"Malini..."teriak Kolonel Arjun diiringi tangis pilu.Dadanya sesak kala mengingat sang putri.


"Putriku tersayang,kenapa kau meninggalkan ayah sendiri nak?"berbicara sambil berderai air mata mengusap foto putrinya.


Karena sang ibunda juga sudah berpulang,kini Kolonel Arjun hidup sendiri sekarang.


Setelah sekian lama mencari tak ada kabar ia segera menghentikan pencariannya detik ini juga.

__ADS_1


Karena ternyata sang putri kini sudah berpulang dan yang lebih mengejutkan lagi ia tidak tau dimana jasad putrinya.


"Siapa yang tega membunuhmu? Sungguh malang nasibmu,Nak."Batin Kolonel Arjun miris.


Keesokkan paginya...Prof Agni, Ria dan Sania datang kerumah Kolonel Arjun secara bersamaan.Mereka datang dengan wajah yang terlihat diselimuti amarah seperti mau perang.


Saat sampai mereka langsung duduk di kursi tamu tanpa dipersilakan,tidak ada sapa menyapa terlebih dahulu.Sungguh sopan tamu ini pikir Kolonel Arjun.


"Dimana kalian menemukan pistol itu dan bagaimana bisa ?"tanya Kolonel Arjun mengintimidasi.


"Mengapa kau bunuh gadis itu?"tanya Prof Agni yang langsung ke intinya tanpa menjawab pertanyaan Kolonel Arjun terlebih dahulu.


Sania dan Ria juga berdiri dan menatap tajam ke arah Kolonel Arjun.Saat belum bertemu memang kebencian itu sudah tertanam di hati mereka bertiga.


"Kenapa aku mau membunuhnya?"sentak Kolonel dan balas menatap tajam kearah mereka.


"Karena cuma orang semacam kau yang sanggup berbuat ini."Sania berkata sarkas seraya menunjuk wajah Kolonel.Ya, hanya karena profesinya ia disalahkan.

__ADS_1


"Kau menjadikan gadis tak berdosa sebagai pemuas nafsumu...." wajah Sania merah padam, Prof Agni dan Ria memegang pundak Sania agar tidak mendekati Kolonel untuk memakinya.


"Setelah kau puas,kau tembak dia dengan pistol... "cibir Sania dengan nada sinis.


"Supaya kau dapat menyembunyikan wajah binatang kau dibalik topeng,iya kan!!"lanjutnya dengan penuh amarah yang sudah tak terbendung lagi.


Prof Agni dan juga Ria kewalahan menahan tubuh Sania dia memberontak dan belum puas memaki Kolonel.


"Diam!"Bentak Kolonel Arjun yang emosinya sudah di ubun-ubun seraya mengangkat telunjuknya keatas.


Kolonel Arjun jengah karena dari tadi mereka berbicara yang menurutnya sangat menyakitkan hati, dan yang lebih parahnya menuduh seenaknya saja tanpa mencari tau kebenarannya terlebih dahulu.


"Tidak ada seorang ayah yang sanggup berbuat demikian... terhadap anak gadisnya seperti yang kau katakan!"Ucapnya dengan nada rendah seraya menunjuk wajah Sania dengan penuh dendam.


Ha....?Apa katanya tadi? seorang ayah dan anak?Mereka bertiga menganga dan sungguh terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Kolonel.


Seketika Sania menunduk dengan raut wajah yang terlihat bersalah karena telah menuduh dan memaki seenaknya sendiri.

__ADS_1


Ia sudah meluapkan segala emosinya kepada orang yang salah dan sialnya orang itu lebih tua darinya.Sungguh amat sangat malu sekali rasanya.


"Dia anakku...putri semata wayangku."Ujar Kolonel tertunduk dan dengan wajah sedihnya.


__ADS_2