
Deg...
"Apa...?" bisik Ria dengan pelan.Ia sangat terkejut mendengar ucapan Prof Agni.
Ia menatap Sania seraya menggeleng dan berharap agar tidak meneruskan langkahnya.Ria takut terjadi sesuatu dengan sahabatnya itu.
Sedangkan Sania menatap Ria tanpa ekspresi.Ia terdiam cukup lama untuk memikirkan bagaimana baiknya.Dan pada akhirnya ia sudah memutuskan langkah apa yang harus ia ambil saat ini.
Ia ingin menyudahi permainan roh itu yang setiap saat mengusiknya.Kini Sania sudah bertekad untuk melawan rasa takutnya dan akan menghadapi rintangan apapun yang ia temui nanti semampunya.
Urusan nyawa ia serahkan kepada Tuhan karena Tuhanlah yang menentukan hidup dan mati seseorang.
Ia juga akan berdoa kepada Tuhan agar selalu melindunginya dimanapun ia berada.
"Sania menatap Prof Agni dengan serius walau kini matanya berkaca-kaca menahan tangis,"Aku sudah membuat keputusan, aku akan mengungkap misteri itu sendiri ,Profesor."Ucapnya tanpa keraguan.
Sania berpaling menatap wajah Ria dengan sendu,"Entah sampai kapan rahasia itu akan berpaut denganku Ria.."
Sania melanjutkan,"Jika aku tidak pernah mengungkapnya ,aku tidak akan pernah tau misteri apa yang sudah terjadi di hutan itu."Sania mengatakan keluh kesahnya agar Ria bersedia mendukung keputusannya saat ini.
Ria menghela nafas,"Yasudah,jika itu keputusan yang kau ambil...tapi tetaplah menjaga diri dengan baik Sania!"Akhirnya dengan berat hati Ria mengiyakan perkataan Sania.
__ADS_1
Jujur ia takut kehilangan sahabat yang sudah ia anggap seperti saudaranya sendiri itu.
Sania memeluk Ria karena merasa terharu mempunyai sahabat yang sangat mengerti serta menyayangi dirinya melebihi suaminya sendiri.
"Terimakasih Ria,aku pasti akan baik-baik saja."Ujarnya memberi ketenangan seraya mengusap air matanya yang menetes.
Mereka tersenyum bersama meskipun air matanya ikut berderai.
Professor juga ikut tersenyum dan menepuk pundaknya.Ia memberi semangat kepada Sania agar ia tak mudah menyerah dan mengalahkan rasa takutnya agar tujuannya tercapai.
Profesor Agni menaruh harapan besar kepada Sania.Ia berharap Sania berhasil memanggil roh itu untuk merasukinya.Kemudian ia tahu apa maksud dari roh tersebut.
Setelah merasa semua urusannya selesai Sania dan Ria memutuskan untuk pulang karena hari sudah mulai gelap.
"Mari Prof.."pamit Ria seraya membungkukkan sedikit badannya.
"Ya,kalian berhati-hatilah terutama kau Sania!"Ucapnya seraya menatap wajah Sania dengan kawhatir.
"Tenang saja Prof,aku pasti baik-baik saja."Timpal Sania dengan memperlihatkan wajah tenangnya.Padahal jauh di lubuk hatinya saat ini perasaanya sedang kacau dan tak tenang.
Sania hanya tidak ingin membuat orang disekitarnya terlalu mencemaskan keadaannya.
__ADS_1
Sania mengantarkan Ria pulang dulu kerumahnya karena tadi dia yang menjemputnya.
"Sania apa kau yakin tidak ingin berubah pikiran?"Tanya Ria sekali lagi seraya menoleh ke arah Sania."Kau bisa tidur denganku disini sampai Aditya kembali."Tawarnya.
"Tidak Ria.Keputusanku sudah bulat untuk segera mengakhiri misteri ini, agar aku dapat hidup tenang dengan Aditya."Kata Sania dengan tegas.
"Aku sudah capek Ria,karena setiap malam roh itu selalu datang dan mengusik tidurku."Keluh Sania seraya menatap wajah Ria dengan sendu.
"Maafkan aku Sania, sebagai sahabat aku kurang bisa memahami perasaanmu dan penderitaanmu..."
Ria melanjutkan,"Baiklah,mulai hari ini aku janji akan mendukung setiap keputusanmu.Jadi jangan bersedih,Oke?"Ria tersenyum memberi semangat meskipun kini hatinya ketar-ketir.
Ria turun lalu melambaikan tangannya,"Jangan lupa hubungi aku kalau ada apa-apa Sania!"
"Oke,Ria..aku pergi dulu!"Sania melesatkan mobilnya sambil melirik sekilas buku mantra yang dibawanya.
Sania bergumam,"Aku mau tau mengapa dia mempermainkan aku dan apa alasannya dia memanggilku dari kota B?"
Setelah sampai ia turun dari mobil.
"Selagi aku belum mendapatkan jawaban aku tidak akan tenang.Aku ingin bertemu dan bertatap muka dengannya."Ucapnya pada diri sendiri.Tekad Sania sudah bulat untuk memecahkan misteri ini.
__ADS_1
"Meskipun nyawaku menjadi taruhannya."Ia berjalan masuk kedalam rumah seraya memeluk buku itu dengan erat.