
"Sebentar Tuan,aku akan mencari dulu catatannya."Ia pergi ke tempat penyimpanan data-data penting pembelian senjata.Karena bisa jadi memang pistol itu berasal dari sini.
Setelah beberapa saat mencari akhirnya ia menemukan seseorang yang telah membeli pistolnya.
"Tuan benar.Pistol itu dibeli di tempat ini."Seraya menunjuk sebuah buku catatannya.
"Pada tanggal 2 September 20**... Setelah itu, sampai Maret 20**... "Menghela nafas sebentar,"pistol itu dibawa kesini untuk diperbaiki setiap enam bulan sekali."Tutur pemilik tempat itu seraya menatap wajah Prof Agni.
Tetapi sudah satu tahun setengah pistol itu tak dibawa kesini."Lanjutnya dengan wajah heran.
"Siapa pemilik pistol itu? Siapa pemegang lisensinya?"tanya Ria menyela.
"Pistol ini milik seorang Kolonel Tentara.Dia membelinya untuk kepentingan pribadi."Jelas sang pemilik tempat tersebut.
"Siapa nama Kolonel itu?"tanya Prof Agni to the poin.
"Kolonel Arjun Malik."Jawabnya singkat.
Sania yang sejak tadi berdiam diri di dekat jendela mengalihkan pandangannya ketika mendengar sebuah nama yang telah disebutkan.
"Apa ada alamat atau nomor teleponnya yang bisa dihubungi?"tanya Prof Agni sekali lagi.
"Ada Tuan, ini nomor teleponnya."
__ADS_1
"Terimakasih atas informasinya pak,kami permisi."Ucap Ria dengan sopan.
"Sama-sama Tuan dan Nyonya."
Setelah mendapatkan sebuah nomor telepon mereka bergegas pergi ke kantor Prof Agni yang lebih dekat jaraknya.
Tidak ingin menunda waktu,sesampainya di dalam kantor Prof Agni berniat segera menghubungi nomor telepon Kolonel Arjun Malik.
"Hallo"jawab seseorang diseberang sana.
"Bisa saya berbicara dengan Kolonel Arjun Malik?"tanya Sania.
"Tunggu sebentar,Nona."Ia menaruh gagang telepon yang masih menyambung itu dan pergi memanggil sang Tuan.
Hanya itu benda satu-satunya yang menemaninya saat ini di kala ia rindu dengan sang putri.
"Tuan ada telfon."Panggil sang pembantu.
Kemudian Kolonel Arjun menoleh dan beranjak dari sana untuk mengangkat telepon.Ia membawa serta biola itu di tangan kirinya.
"Hallo, Kolonel Arjun Malik disini."Sambungnya.
"Kau pembunuh!"Ucap Sania dengan lantang tanpa basa-basi.
__ADS_1
"Apa? Siapa kau?!"Kolonel Arjun terkejut ketika ada yang tiba-tiba lancang menuduhnya hanya lewat telepon.
Sania melanjutkan perkataannya dengan nada sarkas,"Aku menemukan pistol yang kau gunakan untuk membunuh orang."
"Apa yang kau katakan?"tanya Kolonel Arjun dengan wajah bingung.
"Pistol Colt 8mm.siri FB 66."Ucap Sania dengan penuh penekanan disetiap katanya.
Deg...
"itu benar pistol punyaku... "gumam Kolonel Arjun.Kemudian biola yang sejak tadi dipegangnya terjatuh karena ia begitu terkejut.
"Ini pistolmu,bukan?"tanyanya dengan sinis.
"Aku tidak ada waktu untuk mendengar omong kosongmu.Kau paham?"ucapnya dengan nada tinggi.Saat Kolonel Arjun hendak menutup sambungan telepon,Sania menahannya.
"Tunggu, jangan tutup dulu teleponnya!"dengan terpaksa Kolonel Arjun mendekatkan lagi gagang telepon itu ke telinganya.
Akibat perbuatan yang kau lakukan,aku dan suamiku hidup dengan sengsara dan kami sering bertengkar."Ucap Sania dengan penuh penekanan.
"Hari-hariku yang damai kini berantakan karena perbuatan kejimu!"teriak Sania dengan wajah yang merah padam, seolah ia sedang berhadapan dengan Kolonel Arjun.
"Untuk mendapatkan jawaban yang pasti,aku harus bertemu dengan kau!"Sania berkata dengan tegas tanpa ada sopan santunnya.Padahal yang di ajaknya berbicara adalah orang yang sudah berumur.
__ADS_1
"Bagaimana kalau aku tidak ingin berjumpa dengan kau?" tantang Kolonel Arjun.