
Sebelum Adit mencari keberadaan wanita itu.Adit melihat Andi sedang duduk dibawah tangga, ia memegang kepalanya.
"Andi, " Pekik Adit sambil berlari menghampirinya.Matanya terbelalak tak percaya melihat pembantunya terluka.
"Argh... " Andi meringis menahan sakit.Kemudian tangannya menunjuk ke lantai atas, "Dia ada disana,Tuan."
Aditya menepuk pundak Andi sebentar lalu bergegas ke lantai atas untuk menemui Malini.
Sementara Malini berada dikamar Aditya, kamar yang sudah dipastikan adalah kamar sepasang suami-istri saat Sania dulu ada disini.Membayangkan itu membuat emosi Malini kembali meluap-luap.Ia berdiri menatap tajam foto Sania yang terpampang besar di kamar Adit.
Aditya mendidih saat melihat Malini berada di dalam kamarnya.Ia berjalan cepat menghampirinya.
"Beraninya kau datang ke sini lagi! Keluar!" Mata Adit berkilat marah saat dengan lancang Malini memasuki kamarnya.
Malini menoleh dan menatap tajam Aditya.
"Aku bilang, keluar!" Bentaknya sambil mengarahkan telunjuknya ke arah pintu.
Sedangkan Malini tak bergeming sedikitpun.
"Beraninya sekali kau melukai pembantuku!"
"Jika dia tak menghalangiku, tak mungkin aku melukainya.Luka itu belum seberapa,lebih dari itu aku masih bisa melakukannya."Malini berkata dengan sinisnya.
" Kau memang wanita gila, "Umpat Adit dengan penuh emosi.
__ADS_1
" Kau yang membuatku gila, Adit.Sampai aku tidak bisa hidup tanpamu. "
"Jangan membual. " Ucap Adit dengan nada malas.Ia sungguh merasa muak dan menyesal telah mengenal Malini yang kini sudah terobsesi dengannya.
"Aditya, aku akan memberikanmu kepuasan yang tidak pernah kau dapatkan darinya.Jadi beritahu dia kalau kamu hanya mencintaiku dan kita ingin hidup bersama," Malini menatap wajah Adit dengan penuh harap.
Malini bisa berkata seperti itu, karena setelah mereka bermain Adit selalu merasakan puas.Ia juga pintar bermain di atas ranjang dan memanjakan Aditya, hingga Aditya merasa candu dengannya.Tetapi ternyata rasa cinta terhadap istrinya mengalahkan segalanya.
"Lancang sekali kau.Bukankah aku sudah pernah bilang, bahwa aku sangat mencintai istriku."Adit kembali emosi.
Diam-diam Malini mengambil pistolnya yang ia sembunyikan di balik badannya.
" Pergi kau dari sini! Kalau tidak aku akan-"
"Kalau tidak apa?" Malini menyela perkataan Aditya dan menatapnya tajam."Waktuku sudah tidak banyak, polisi sudah mengetahui keberadaaanku."
Malini menempelkan ujung pistol dikepalanya sendiri, "Ayahku akan segera kesini kalau dia tahu keberadaanku."Malini menggeleng dengan mata yang berkaca-kaca, " Aku tidak ingin pergi, aku tidak mau kembali ke rumah sakit jiwa lagi."
Adit terkejut saat tahu bahwa selama ini dia bercinta dengan orang yang mengalami gangguan jiwa.Sungguh sial sekali dirinya tidak mengetahui semua itu.Hingga Ia baru sadar mengapa akhir-akhir ini ia sering melihat Malini kehilangan kendali dan mengamuk.
"Katakan Adit dan beritahu dia bahwa kau ingin bersamaku," Pinta Malini seraya terisak dengan pistol yang masih menempel dikepalanya.
"Malini, letakkan pistol itu, " Adit berkata sambil menunjuk pistol yang dipegang Malini.
"Cepat kau telfon dia Aditya, beritahu bahwa kita tidak bisa hidup tanpa satu sama lain. "
__ADS_1
"Letakkan pistol itu,Malini!"Bentak Adit.
Aditya tidak tau apa pistol itu kosong atau ada amunisinya.Ia tidak ingin tertipu dua kali hanya karena mendengar gertakan Malini.Tetapi bagaimana seandainya pistol itu benar-benar ada amunisinya? Karena sepertinya ancamannya kali tidak main-main.
Adit meletakkan pelan-pelan tas dan jasnya yang sejak tadi masih digenggamnya.Ia menaruhnya di atas ranjang.
"Malini," Adit lalu berjalan mendekati Malini dengan langkah hati-hati.
"Cepat kau telfon dia Aditya,atau- " Malini kembali menggertak.
"Jangan bertindak gila! Aku tak mungkin berbuat seperti itu.Letakkan pistol itu," Aditya menunjuk wajah Malini lalu mendekatinya perlahan hingga berjarak satu meter.
"Kau yang bertindak gila, Aditya. Kau tahu kan, kita tidak bisa hidup tanpa satu sama lain. Di kehidupan ini dan kehidupan mendatang kau hanya milikku.Jadi beritahu padanya....jika kau telah memilih aku.Sehingga dia akan percaya bahwa akulah wanita yang engkau cintai.Lalu dia memutuskan pergi dari hidup kita.Jadi ayo beritahu dia,"Pinta Malini yang masih setia menodongkan pistol dikepalanya sendiri.
Aditya diam tak bergeming menatap Malini.
"Telfon dia, Aditya.Ayo ,cepat!" Bentak Malini sambil menatap tajam wajah Aditya.
"Malini.Aku sangat mencintai istriku. Jadi aku tidak akan memberitahu sedikitpun tentangmu.Karena hubungan kita sudah berakhir.Dan aku beritahu, Sania juga sangat mencintaiku.Jadi percuma saja kau memberitahunya, karena pasti dia akan lebih mempercayaiku sebagai suaminya."Ucap Aditya dengan penuh penekanan.
"Apa dia juga tidak akan percaya walaupun dengan adanya mayat aku di dalam rumah ini?"ucap Malini seraya menarik pelatuknya sambil tersenyum.
" Malini, "Teriak Aditya dengan jantung berdebar ketakutan saat mendengar Malini menarik pelatuknya." Letakkan pistol itu sekarang!"ucap Adit dengan suara lantang.
Malini tersenyum, "Dia wajib tau keberadaanku Aditya.Kau mau hidup bersamaku.....atau aku mati-"
__ADS_1
Doorrr.....
*****