
Bagian 26 🌹
Kenzo hanya menganggukkan kepalanya tapi matanya masih tetap menatap ke arah Puja, Raffi pun memahami tatapan sang Bos tersebut tapi dia hanya bisa tersenyum saja karena dia tidak ingin mencampuri urusan Bosnya itu yang terlihat memang sangat menyukai dengan puja.
" Oh ya Puja sepertinya kamu memiliki pertanyaan untukku, silakan kamu bertanya apa yang ingin kamu tanyakan padaku, aku mengizinkan kamu." ucap Kenzo sembari tersenyum menatap ke arah Puja seraya membenarkan posisi duduknya.
Puja menghela nafasnya dengan panjang dia pun tersenyum pada Kenzo.
" Baiklah Pak, Ada yang ingin saya pertanyakan pada bapak, mohon maaf sebelumnya pak, kalau kita memanggil ke-8 orang tersebut, Bagaimana dengan perusahaan kita yang belum memberikan hak mereka, karena delapan orang tersebut tidak mendapatkan pesangon di saat mereka diberhentikan oleh Pak Rudi, seperti apa yang dijelaskan oleh Pak Rafi." terang Puja.
Kenzo menghela nafasnya dengan panjang.
" Hanya itu yang kamu tanyakan padaku.?"
Puja manganggukkan kepalanya.
" Kamu jangan takut, perusahaan tidak akan pernah bangkrut dan tidak akan pernah gulung tikar, aku akan memberikan hak mereka yang memang seharusnya jadi milik mereka."
__ADS_1
" Benarkah itu Pak? jujur Pak semua karyawan memang membutuhkan penghasilan, bukan mereka saja,saya juga pak, karena saya sudah menopangkan hidup saya di perusahaan ini, Maafkan saya pak saya berbicara seperti ini mungkin Bapak pasti akan merasa lucu dengan ucapan saya ini, jujur, saya mengatakannya di sini karena saya bukan lulusan seperti orang yang ada di luar ruangan ini banyak yang bekerja di sini lulusan sarjana, sedangkan saya hanya lulusan sekolah menengah atas, diterima di perusahaan ini saja saya sangat bahagia sekali, tapi kalau seandainya perusahaan ini gulung tikar mungkin saya akan memulai hidup saya dan anak saya dari nol kembali." ucapnya dianggukan oleh Raffi Karena dia sudah mengetahui seluk-beluk kehidupan Puja selama dia masuk ke perusahaan Texs group itu.
" Benar apa yang dikatakan Puja Pak, saat dia melamar pekerjaan di sini dia datang dengan ke ulatan, kemahiran dan kepintarannya, itulah yang membuat pihak kita menerimanya, Karena dia berbeda dari wanita yang lainnya yang memang benar-benar ingin bekerja."
" Sekali lagi pak, Maafkan saya kalau saya lancang berbicara seperti ini, mungkin saya dianggap Bapak mengemis pekerjaan sama Bapak, tapi tidak ada yang mungkin di mata Bapak dan tidak ada yang ingin menjadi pengangguran tiba-tiba di saat perusahaan ini bangkrut, semoga saja perusahaan ini di tangan Bapak akan maju pesat dan melebihi dari pimpinan yang sebelum." ucapnya sembari menundukkan kepalanya dan memainkan jari jemarinya.
Kenzo menatap lekat ke arah Puja dia merasa kagum dengan sosok wanita yang ada di hadapannya tersebut.
" Kamu memang wanita yang berbeda dari wanita yang ada di kantor ini, ataupun di luar sana, yang benar-benar ulet dalam bekerja dan mementingkan keluarga, walaupun berbagai macam masalah kamu hadapi, seharusnya kamu itu dinafkahi bukan mencari nafkah, kamu itu disayangi bukan hanya menyayangi, kamu itu harus dimanja bukan hanya memanjakan saja." gumamnya di dalam hati.
" Baiklah Puja, kamu tidak perlu khawatir apa yang kamu ucapkan itu pasti akan terlaksana, perusahaan ini akan maju pesat seperti apa keinginan kalian yang ada di dalam ruangan ini, ataupun yang ada di kantor ini." ucap Kenzo sembari dia tersenyum dianggukan oleh mereka berdua, terlihat di wajah mereka merasa senang karena Kenzo berbicara seperti itu, memberikan harapan baru pada mereka yang bekerja di bawah naungan Kenzo sekarang ini.
Dia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
" Baiklah, silahkan kalian keluar dari ruanganku dan jangan lupa kalian harus menghubungi 8 orang yang sudah diberhentikan oleh Pak Rudi."
" Siap pak, kami akan menghubunginya dengan segera." ucap Raffi sembari berdiri diikuti oleh Puja, mereka berdua pun kemudian berpamitan dengan Kenzo dan Kenzo hanya menganggukkan kepalanya, sembari menatap langkah mereka keluar dari ruangan tersebut sampai hilang di pintu ruangannya itu.
__ADS_1
Kenzo merentangkan kedua tangannya di sandaran sofa sembari merebahkan kepalanya dan menatap ke langit-langit ruangan kerjanya tersebut sembari menyunggingkan senyum di wajahnya.
" Aku tidak menyangka seorang wanita seperti Puja itu memiliki sisi keibuan sekali dan memiliki pikiran yang sangat mapan, kenapa aku sangat bahagia sekali mendengar dia berbicara padaku seperti itu, padahal dia berbicara tentang keluhannya selama ini bekerja di kantor ini sepertinya aku harus segera menaikkan omset perusahaan ini agar mereka bisa merasakan kenyamanan bekerja bersama denganku." ucapnya sembari mengusap wajahnya dengan pelan dan menyilangkan kakinya sembari mensedekapkan tangannya di dada menatap ke arah pintu ruangannya tersebut sembari berbicara seorang diri.
" Seharusnya wanita seperti Puja harus dibahagiakan, bukan untuk menderita seperti itu, siapa Ayah dari anaknya itu? Begitu teganya laki-laki itu menyia-nyiakan Puja dan Anaknya, apa yang terjadi dengan Puja sampai dia memiliki seorang anak tanpa dinafkahi oleh laki-laki yang telah menjadi Ayah anaknya tersebut, aku harus mencari tahu, inti dari semua ini adalah Icha karena dia adalah sahabatnya Puja, sedikit banyaknya dia pasti mengetahui jalan hidup Puja, aku harus berbicara empat mata dengan Icha tanpa sepengetahuan Puja, ataupun yang lainnya yang ada di kantor ini, kalau seandainya aku memanggil Icha ke ruanganku ini, itu sama aja Puja akan mengetahui kalau aku mencari tahu tentang dirinya, jadi aku harus berbicara di luar kantor ini bersama dengan Icha, aku harus mencari keterangannya dengan Icha, karena Icha pasti tahu semuanya." ucapnya sembari berdiri dari duduknya dan melangkah menuju ke meja kerjanya, dia pun menghentakkan kembali tubuhnya di kursi kerja tersebut sembari membuka layar laptopnya dan melihat email yang masuk, saat dia asik menatap layar laptopnya tersebut dan memainkan jari lemarinya di keyboard laptopnya itu, ponselnya pun berbunyi dia menoleh sesaat ke arah ponselnya, Awalnya dia tidak ingin mengangkat ponsel tersebut. Tapi terlihat di layar ponsel tersebut si pemanggilnya dia pun langsung bergegas menjawab panggilan tersebut.
" Halo.." ucap Kenzo.
" Halo Pak Kenzo." ucap suara di seberang sana, Siapa lagi kalau bukan Anwar orang kepercayaan di perusahaan pribadinya tersebut.
" Ya, ada apa Anwar.?"
" Semuanya sudah dijelaskan sama Ihsan Pak dan bukti semua ada pada saya Pak ternyata Ihsan..."
" Kamu tidak usah berbicara melalui ponsel, nanti kita bertemu saja karena kalau kita berbicara melalui ponsel kita tidak tahu orang di sekitar kita bisa mendengar masalah di kantor kita bisa menyebar." ucap Kenzo.
" Baiklah Pak, saya tunggu Bapak di kantor.
__ADS_1
" Kita tidak usah bertemu di kantor nanti aku yang akan menentukan tempatnya untuk kita bertemu dan berbicara, biar tidak ada yang mengetahui tentang masalah di kantor kita." ucap Kenzo sembari mematikan ponselnya dan meletakkannya kembali di samping kirinya dia pun kemudian menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya tersebut sembari menatap lurus ke pintu kerjanya itu dia menghela nafasnya dengan panjang sembari berucap pelan.
" Aku akan mengetahui Siapa sebenarnya yang menyuruh Ihsan untuk berbuat seperti itu pada perusahaanku." ucapnya.