
Bagian 07 ๐น
Namun Pak Kurtinus masih merasa penasaran dengan sang anak, karena tidak ada sakit ataupun tidak ada keluhan sama sekali di diri Puja tersebut namun di saat dia melihat sosok laki-laki itu dia langsung tidak sadarkan diri.
Puji bersama dengan Pandu keluar dari ruangan kamar Puja.
Pak Kurtinus kemudian berdiri dari duduknya, dia duduk di sebelah sang anak.
" Puja, Ayah mau bertanya denganmu."
" Apa yang ingin Ayah tanyakan.?"
" Ada hubungan apa kamu dengan lelaki tadi, kenapa kamu setelah melihatnya kamu langsung pingsan di depannya."
Puja hanya menghela nafasnya dengan panjang, dia terdiam dan menundukkan kepalanya.
" Ayah merasa ada sesuatu yang lain dengan kamu setelah melihat lelaki itu."
Puja kemudian menceritakan kejadian di malam pergantian tahun tersebut setelah beberapa tahun yang lalu.
Pak Kurtinus hanya menghela nafas panjangnya setelah mendengar cerita sang anak.
" Kenapa saat itu kamu tidak cerita sebenarnya pada Ayah, seharusnya kamu bercerita, Ayah mengira kamu mengalami musibah ini bersama dengan kekasih hati kamu, karena kebetulan saat itu kekasihmu juga meninggalkanmu dan tidak ada kabar beritanya, bahkan Ayah pernah datang ke rumahnya, Tapi sayangnya rumahnya sudah kosong."
" Rivaldo tidak ada hubungannya dengan ini semua Yah, Aku dan Rivaldo sudah putus lama, aku juga dan Rivaldo tidak pernah bertemu sejak Rivaldo memutuskan hubungan kami yang sudah kami bina beberapa tahun putus di tengah jalan karena Rivaldo kepincut dengan anak orang kaya."
" Syukurlah saat itu Ayah tidak bertemu dengan Rivaldo, jika seandainya Ayah bertemu dengan Rivaldo, mungkin Ayah sudah menuduh dia tentang kejadian yang telah kamu alami beberapa tahun yang silam."
" Tapi saat dia melihat kamu dia biasa-biasa aja seperti tidak terjadi sesuatu apapun padamu."
" Sepertinya dia juga tidak sadarkan diri kala itu Yah, karena saat itu hanya aku yang melihat wajahnya dan aku langsung pergi dari kamar itu."
__ADS_1
Terdengar Pak Kurtinus menghela nafas panjangnya.
" Aku merasa bersalah dengan kalian, karena kejadian itu membuat kalian berdua menanggung malu yang berkepanjangan, bahkan kalian pun rela meninggalkan rumah ini demi melindungi aku, dan kalian berdua pun pasang badan untuk mendengar cemoohan orang tentangku, maafkan aku Yah, Maafkan Aku." ucapnya sembari menundukkan kepalanya dan meneteskan air matanya, pak Kurtinus hanya bisa membelai kepala sang anak dan memberikan kekuatan pada anak bungsunya tersebut.
" Sudahlah Nak, itu semua sudah berlalu, yang penting kamu bisa memberikan kebahagiaan untuk Pandu, jangan sampai Pandu merasa kehilangan kasih sayang dirimu yang sudah merangkap menjadi seorang ibu sekaligus seorang ayah."
Puja hanya menganggukkan kepalanya ia pun menghapus air matanya.
" Istirahatlah kamu, Ayah akan memasakan makanan kesukaan kamu dan kakakmu."
" Aku bantu ya Yah."
" Apakah kamu tidak merasa capek."
" Kalau merasa capek itu ada Yah, tapi setelah melihat kalian terutama Pandu capek itu hilang seketika, maafkan aku karena tidak memberitahu Ayah tentang laki-laki tersebut kala itu."
" Sudahlah Nak, tidak usah lagi kamu ingat dan kamu juga tidak usah lagi meminta pertanggungjawaban lelaki itu, karena lelaki itu terlihat seperti orang kaya, Ayah tidak ingin kamu dipermalukan untuk kedua kalinya, kalau memang dia merasa sudah menitipkan seorang anak laki-laki padamu, dia pasti akan mengingat kejadian itu, Tapi kalau seandainya dia tidak ingin mencarimu atau pun mengingat kejadian itu, biarkan saja hanya Tuhan yang bisa membalas semuanya." ucap pak Kurtinus sembari mengusap kembali kepala sang anak, Puja pun menganggukkan ucapan sang Ayah, mereka berdua pun kemudian berdiri dari duduknya dan melangkah menuju ke arah luar, Ayah dan anak tersebut menuju ke arah dapur untuk melakukan kegiatan masak mereka, karena sang Ayah memiliki kepandaian memasak, Tapi sayangnya Ayahnya tidak diterima di restoran atau Rumah makan manapun karena keadaan sang Ayah sudah terlihat berumur.
Tepat jam 09.00 malam Puja kemudian masuk ke dalam kamarnya di mana sang anak sudah tertidur pulas, Dia pun kemudian membelai kepala anak tersayangnya tersebut sembari berucap dan tidak terasa air matanya pun mengalir.
" Kehadiranmu membuat kekuatan dalam hidup mamah Nak..."
Dia teringat beberapa tahun yang lalu saat diawal pertama mengetahui kalau dirinya sedang hamil Pandu.
Flashback On..๐น
Puja kemudian mengecek sendiri dirinya dengan menggunakan alat tes kehamilan, dia terkejut karena alat tes kehamilan itu menyatakan kalau dirinya sudah positif hamil dia pun menangis sejadinya di dalam kamar mandi rumahnya tersebut, Puji yang hendak berangkat bekerja mendengar Puja menangis di dalam kamar mandi tersebut ia pun kemudian mengetuk pintu kamar mandi itu sembari bersuara.
" Puja Kamu kenapa? buka pintunya bicara sama kakak."
Puja terkejut saat dia berada di dalam tersebut mendengar suara dari sang kakak.
__ADS_1
" Aku tidak apa-apa Kak, kalau kakak ingin berangkat silakan berangkat aja tolong pintu depan ditutup ya."
" Baiklah kalau kamu tidak apa-apa, Kakak berangkat dulu." ucapnya.
" Iya Kak.." ucap Puja dari dalam, namun Puja tidak menyadari kalau Puji masih berada di depan pintu kamar mandi tersebut, dia hanya berpura-pura saja ingin berangkat bekerja karena dia ingin mengetahui apa yang terjadi dengan adik tersayangnya tersebut.
Kemudian Puja membuka pintu kamar mandi, dia pun terkejut melihat sang kakak masih berada didepan pintu dan tanpa sengaja alat tes kehamilan itu pun jatuh ke lantai.
Puji terkejut dia pun kemudian mengambil alat tes kehamilan tersebut dia melihat kalau alat tes hamilan itu menyatakan positif.
" Puja, katakan dengan kakak apa yang terjadi padamu, kenapa kamu menggunakan alat tes kehamilan ini."
Puja pun kemudian memeluk kakaknya tersebut, Dia menceritakan semua yang terjadi di saat malam pergantian tahun itu, Puji hanya menghela nafasnya dengan pelan tanpa disadari mereka, pak Kurtinus berada di depan pintu, dia pun mendekati kedua anaknya itu.
" Apa yang terjadi."
Dia melihat Puji memegang alat untuk cek ke hamilan, dia pun mengambil dari tangan Puji dia melihatnya kalau alat itu menandakan seseorang dalam keadaan hamil, dia pun terduduk di kursi yang tidak jauh dari depan kamar mandi tersebut, Puja langsung bersimpuh di kaki sang Ayah, Ayahnya hanya bisa mengusap kepala sang anak.
" Maaf kan Puja Yah..."
" Ayah tidak ingin menyalahkan kamu dan Ayah juga tidak membenarkan kamu, besok kita berangkat ke kampung halaman Ayah, kita kembali ke sana selama kamu mengalami kehamilan ini."
Puja terkejut dengan ucapan Ayahnya itu, dan Puji pun menganggukkan kepalanya dia rela berhenti dari bekerjanya untuk mengurus sang adik yang sedang hamil, beberapa bulan mereka berada di kampung halaman tersebut, akhirnya Puja pun melahirkan seorang anak laki-laki yang gemuk dan sehat.
Flashback off...๐น
Puja terkejut karena Pandu menegurnya.
" Mah ...kenapa Mama menangis? bukankah ini sudah malam, Mama harus segera tidur, besok kan mama bekerja jangan sampai mama sakit."
Puja kemudian mengusap air matanya sembari tersenyum, dia pun kemudian menganggukan kepalanya dan merebahkan tubuhnya di samping sang anak, Pandu langsung memeluk sang mama, Puja hanya bisa bergumam dalam hatinya.
__ADS_1
" Kalau suatu saat nanti kamu akan bertemu dengan Ayah kandungmu, apakah mungkin Ayah kamu itu mengakui kamu sebagai anaknya, itulah yang Mama takutkan sampai saat ini, hanya ada suatu keajaiban dari Ayahmu nantinya, untuk mencari kita berdua, Kalau memang dia mengingat kejadian itu." gumamnya dalam hati sembari terus mengusap kepala anak lelakinya tersebut.