
Bagian 06 🌹
Kenzo kemudian mendekati puja sembari bersuara.
" Kamu tidak apa-apa?"
Saat Puja mengangkat wajahnya dan Kenzo menatapnya, Kenzo terkejut dengan Puja.
" Heh! rupanya kamu ya tanduk rusa...!"
Puja hanya terdiam.
" Kamu tidak mengenali aku, kalau kamu tidak mengenali aku lihat motorku yang sudah kamu anggap sebagai tukang ojek."
Puja kemudian menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
" Ya Tuhan ganteng banget dia, setelah melepaskan helmnya, aku hanya melihat sebagian dari matanya saja tadi, ternyata dia ganteng banget, ampun deh." Ucapnya sembari menatap celingak-celinguk ke kiri dan kanan serba salah.
" Eh tanduk rusa! ngapain kamu dengan laki-laki tua tadi, memang ada urusan apa kamu dengan mereka, sehingga kamu dikejar seperti itu."
" Hehehe... terima kasih ya karena sudah menolongku." ucapnya kemudian berlalu dari hadapan Kenzo tanpa menjelaskan apa-apa, dan dia juga tidak menjawab pertanyaan Kenzo.
" Hei tanduk rusa, tunggu!" namun Puja tidak menghiraukan panggilan Kenzo.
Dia pun kemudian mencari anaknya yang sedang berlari, saat pandu berlari dia melihat sang kakek berdiri di depan jalan rumahnya itu.
" Kakek...! panggilnya dari arah seberang jalan sembari berlari dengan kuat menuju ke arah sang kakek, Pak kurtinus melihat sang cucu yang sedang berlari menyeberangi jalan menuju kearahnya itu, dan dari arah kiri sebuah mobil pun dengan cepat mengerem laju kendaraan mobilnya tersebut karena melihat ada seorang anak melintas didepan mobilnya itu, pandu terkejut ia terjatuh, namun mobil itu tidak mengenainya, dia pun menangis sejadinya, lelaki yang ada di dalam mobil itu pun langsung turun dari mobil dan mendekati Pandu yang jatuh di depan mobilnya itu.
" Kamu tidak apa-apa Nak?"
Pandu menghentikan tangisnya dan menatap ke arah laki-laki tersebut.
__ADS_1
" Iya paman, saya tidak apa-apa, Maafkan saya karena menyebrang tidak menengok kiri dan kanan." ucapnya sembari menangkupkan kedua tangannya di dada.
Pak Kurtinus langsung mendekati cucunya dan memeriksa tangan dan kaki cucunya itu.
" Kamu tidak apa-apa kan pandu, di mana yang sakit?" tanyanya.
" Pandu tidak apa-apa kakek, ini semua salah Pandu, karena Pandu menyeberangnya tidak melihat kiri dan kanan, untung Paman ini tidak melajukan kendaraannya dengan cepat dan Paman ini sudah menghentikan laju kendaraannya, tepat di samping Pandu, Pandu jatuh karena terkejut saja Kek." ucapnya menjelaskan pada sang kakek
" Tuan muda, Maafkan cucu saya."
" Iya Pak, saya yang seharusnya minta maaf, karena cucu Bapak terkejut dan terjatuh."
" Pandu...!" panggil Puja dari arah depan jalan rumahnya tersebut, dia pun kemudian melihat kiri dan kanan tidak ada kendaraan saat itu, dia pun langsung menyebrang jalan menuju ke arah jalan di mana pandu dan Ayahnya berada, dia pun langsung memeluk sang anak.
" Kamu tidak apa-apa Nak." ucapnya dianggukan oleh Pandu.
" Dia tidak apa-apa dia, hanya terjatuh saja di depan mobil Tuan ini." Ucap Pak kurtinus sembari menatap ke arah sang anak.
Pandu menatap ke arah laki-laki itu dia terlihat nampak senang menatap lelaki itu, membuat puja semakin berdebar di jantungnya keringat dingin membasahi tubuhnya.
Puja kemudian merasa pusing dia teringat malam pergantian tahun tersebut dan kemudian dia tidak sadarkan diri.
Beberapa saat kemudian Puja membuka matanya dia sudah berada di pembaringan kamar rumahnya itu, dia menoleh ke kiri dan ke kanan, dia menatap Ayahnya, pandu dan kakaknya yang sedang berada di dalam kamarnya tersebut.
" Yah ada apa denganku.?"
" Kamu tadi pingsan."
" Siapa yang membawa aku ke sini Yah?"
" Laki-laki yang tadi, tapi Ayah lupa menanyakan namanya, Setelah dia membawamu ke sini dia pun langsung berpamitan."
__ADS_1
Puja pun kemudian memegang kepalanya dia lalu bangun dari tidurnya dan bersandar di kepala ranjangnya tersebut.
" Kamu kenapa Dek?" tanya puji sang kakak.
" Aku tidak apa-apa Kak." Ucapnya sembari menengok kiri dan kanan mencari sesuatu, ternyata tasnya ada di atas meja kecil tidak jauh dari tempat tidurnya itu.
Puja kemudian mengambil tasnya tersebut dan mengambil amplop coklat yang berisi uang hasil dia menggantikan salah satu VO yang tidak hadir disalah satu stasiun Televisi Swasta.
" Ayah, ambillah ini, semoga saja uang ini cukup untuk membeli obat Kakak, jangan sampai Kakak terhenti meminum obat, Aku akan berusaha mencari pekerjaan sampingan untuk menambah pengeluaran kita dan sekarang aku ingin Ayah membeli obat untuk kakak terlebih dahulu." ucapnya sembari memberikan amplop tersebut ke tangan sang Ayah, Puji menundukkan kepalanya dan tidak terasa air matanya pun menetes di kedua bola matanya.
" Tidak semestinya kamu bekerja seperti ini, seharusnya ini adalah tanggung jawab Ayah, kalian berdua adalah tanggung jawab Ayah Nak."
" Ayah sudah bertanggung jawab dengan kami, ayah sedari dulu membesarkan Kami, sekarang waktunya Ayah duduk manis di rumah, biarkan semua beban sekarang ini aku yang menanggungnya, percayalah padaku, aku akan menyelesaikan pekerjaan yang lain di luar pekerjaanku yang sebenarnya di kantor Prame Group itu."
Pak Kurtinus menghela nafasnya dengan panjang dia merasa kasihan dengan anak bungsunya itu, dia menanggung semua beban yang ada di rumah ini yang seharusnya adalah tanggungannya.
Puja kemudian berdiri dan melangkah mendekati Puji, Dia kemudian merangkul Puji dan menghapus air mata yang mengalir di pipi Puji tersebut.
" Kak Puji jangan menangis, Kak puji harus fokus dengan kesehatan Kak puji."
" Kakak tidak menyangka kamu terus berjuang untuk keluarga kita, seharusnya kita sama-sama berjuang, tapi keinginan kita itu tidak terwujud, kamu sendirian berjuang, Sedangkan kakak hanya duduk manis di rumah."
" Sejak dulu Kakak dan Ayah berjuang untuk aku, Namun karena musibah yang menimpa Kakak mengakibatkan kakak harus berhenti dari pekerjaan Kakak, Tapi Kakak jangan sedih aku yang akan menggantikan semuanya itu."
" Kakak ingin cepat sembuh agar Kakak bisa bekerja dan membantu kamu melunasi utang-utang kamu selama ini."
" Kak puji tidak usah memikirkan itu, semuanya pasti ada jalannya, percayakanlah pada adikmu ini." Ucapnya sembari tersenyum.
" Bagaimana kalau rumah ini kita jual saja untuk melunasi utang kamu dan kita mengontrak di rumah yang kecil saja." Ucap Pak Kurtinus.
" Tidak usah Yah, jangan dijual rumah ini, rumah Ini adalah kenangan yang sangat banyak sekali bersama almarhum ibu, sudah cukup kita mengontrak banting tulang disaat aku mengandung Pandu, kalian berjuang dengan penuh perhatian padaku, Sekarang saatnya aku yang memberikan perhatian penuh pada kalian berdua, karena kalian berdua adalah keluargaku satu-satunya." Ucapnya sembari memeluk sang kakak, sedangkan pak Kurtinus terdiam dia menatap kedua putrinya tersebut yang ada di depannya itu, Dia hanya bisa bergumam di dalam hatinya.
__ADS_1
" Ya Tuhan, di saat hari tuaku aku melihat keakraban kedua anakku tersebut, di mana kami mengalami kesusahan seperti ini, mereka tetap bersama dan tidak ada yang saling menyakiti, terima kasih Ya Tuhan karena engkau sudah memberikan dua orang putri yang sangat baik dan sangat perhatian padaku, di masa tuaku saat ini." gumamnya dalam hati sembari tersenyum.