
BAB 31 🌹
Sesampainya diparkiran kantor Texs Group mereka turun berdua dari mobil.
" Terima kasih ya kamu sudah mengatakan kalau aku sudah memiliki kekasih di hadapan Diana."
" Hehehe, itu soal biasa kita kan saling tutup menutupi demi kebaikan daripada nantinya kamu terus dikejar dia makanya Kenzo kamu cepat cari kekasih biar tidak dimanfaatkan oleh Diana, bukan Diana saja tapi orang-orang yang ada di luar sana yang menginginkan kamu sebagai kekasihnya, ya siapa tahu lagi nanti ada seorang wanita gila yang ingin mengharapkan kamu sebagai suaminya, sampai ke manapun kamu akan dikejarnya kamu mau dikejar-kejar orang yang tidak dikenal?" ucap Ramon sembari terkekeh.
" Kamu itu teman bagaimana sih, kok mendoakan aku seperti itu, sebenarnya aku ingin mencari seorang kekasih tapi belum ada yang pasti dan cocok untukku, ada sih seorang gadis, tapi aku tidak tahu apakah dia menyukai aku atau tidaknya."
" Apa? seorang gadis ?" ucap Ramon, kemudian dia pun tergesa-gesa mendekati Kenzo dan merangkul tangan Kenzo, Kenzo terkejut dia pun lalu melepaskan tangannya dari rangkulan Ramon.
" Idih! apaan sih pakai, pegang-pegang segala, Ini di kantor Ram...Ujung-ujungnya nanti dikira para karyawan di sini jeruk makan jeruk lagi." ucap Kenzo sembari tertawa Ramon pun ikut tertawa.
__ADS_1
Mereka berdua berjalan menuju ke arah ruangan Kenzo, Ramon pun kemudian melanjutkan bicaranya karena sifat ingin tahunya yang sangat tinggi tentang seorang wanita yang dikatakan oleh Kenzo padanya tadi.
" Siapa wanita yang kamu maksud itu, ceritakan dong padaku, aku juga ingin tahu."
"Kamu mau tahu banget atau cuma pengen tau aja nih?"
" Pengen tahu banget, pengen banget, dan ingin melihat Siapa sih wanita itu."
Ramon menatap ke arah Kenzo, Dia kemudian menatap ke arah pandangan Kenzo menuju ke arah seorang wanita yang sibuk bekerja menghadap layar laptopnya itu.
Ramon kemudian berbisik di telinga Kenzo.
" Jangan bilang wanita yang menggunakan pakaian berwarna kuning itu adalah wanita yang kamu incar."
__ADS_1
Kenzo mengusap wajahnya sembari tersenyum, kemudian dia melanjutkan langkahnya menuju ke arah ruangannya, dia tidak menjawab pertanyaan dari Ramon, kemudian dia pun masuk ke dalam ruangannya diikuti oleh Ramon.
Ramon duduk di sofa diikuti oleh Kenzo.
" Kamu tidak menjawab pertanyaanku, jangan-jangan perempuan yang menggunakan pakaian baju warna kuning itu yang sudah menggetarkan hatimu selama ini, sehingga kamu melupakan aku dan tidak memberitahu padaku kalau kamu sudah menyukai seorang wanita bawahan kamu sendiri, hemmm... Nggak masalah sih baik itu perempuan bekerja di mana saja ataupun bekerja menjadi bawahan kamu yang terpenting dia memang benar-benar mencintai kamu dan tidak mengharapkan kekayaan kamu saja, tapi aku belum melihat jelas wanita itu seperti apa, aku kan bisa menilainya apakah wanita itu baik untukmu atau tidak." ucap Ramon panjang lebar, Kenzo lagi-lagi hanya tersenyum saja, karena dia tidak mengatakan apa-apa pada Ramon dia memang ingin membuat ramuan penasaran Siapa wanita yang sudah menggoyahkan hatinya itu.
" Ayolah Ken, katakan padaku siapa wanita itu namanya, setidaknya aku mengenal namanya aja tidak apa-apa, perlahan-lahan aku akan melihat dia dan menilai dia."
" Kamu itu hanya bisa menilai seorang wanita untuk teman kamu, tapi kamu sendiri tidak mencari seorang wanita, seharusnya kamu menilai untuk diri kamu sendiri, biar kita sama-sama memiliki seorang kekasih dan kita tidak sendiri lagi jalan-jalan ke mana-mana." ucap Kenzo sembari tersenyum.
" Kalau aku sih belum menemukan yang tepat untukku, tapi jika seandainya ada seorang bidadari yang memang menerimaku apa adanya dan dapat menggetarkan hatiku sampai ke manapun dia akan tetap aku kejar hehehe." ucapnya tertawa.
Kenzo pun terkekeh mendengar ucapan Ramon, mereka berdua kemudian dikejutkan dengan ketukan pintu di ruangan Kenzo, mereka berdua menatap ke arah pintu.
__ADS_1