
BAB 34 🌹
" Apa Pak? mengenal saya lebih jauh lagi, maksud bapak saya jadi tidak mengerti."
Kenzo menutup mulutnya sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, karena dia mendengar ucapan dari Ramon pun tersenyum. Namun dia tidak ada suara sama sekali membiarkan Ramon berbicara dengan Icha, Walaupun dia berada di dalam ruangan tersebut namun dia tetap diam, dia tidak ingin mencampuri perkenalan Kenzo dan Icha, meskipun dia masih bersama dengan mereka berdua, karena dia tidak ingin meninggalkan mereka berdua di dalam ruangannya tersebut agar tidak ada omongan dari orang-orang yang ada di luar ruangan itu tentang Ramon dan Icha.
Ramon pun kemudian mengusap tengkuknya sembari menundukkan kepalanya dan bergumam di dalam hatinya.
" Ya Tuhan, kenapa aku berbicara seperti itu, itu tandanya aku tidak sabar sekali ingin menjadikan dia orang yang spesial di hatiku." ucapnya di dalam hatinya sembari menyunggingkan senyum di sudut bibirnya seraya menatap ke arah lain dengan menangkupkan kedua tangannya yang bertopang di kedua pahanya itu, Icha menatap ke arah Ramon yang hanya tersenyum saja tanpa menjawab pertanyaannya yang sudah diungkapkannya itu.
Lagi lagi mereka bertiga hanya terdiam.
" Baiklah, lebih baik kalian berdua berbicara aja di sini, aku akan melanjutkan pekerjaanku di meja kerjaku, anggaplah aku di ruangan ini tidak ada, jadi kalian sepuasnya bisa berbicara dari hati ke hati, maksud aku kamu bisa menyelesaikan perkenalan kalian dengan sukses." ucap Kenzo sembari berdiri, Kenzo pun melangkah meninggalkan mereka berdua menuju ke arah meja kerjanya sesekali Kenzo melirik ke arah mereka yang hanya tetap terdiam dan Kenzo pun menepuk dahinya sendiri sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya itu.
" Ya Tuhan, kenapa Ramon tidak berbicara lagi sih, kasihan Icha terlalu lama di ruanganku ini." gumamnya sembari tersenyum, Kenzo pun kemudian batuk dua kali dia memang sengaja membuat batuk tersebut agar mereka berdua bisa berbicara kembali.
__ADS_1
Mereka berdua pun menatap ke arah Kenzo, Kenzo hanya melirik sesaat sembari tersenyum kemudian Kenzo pun menghidupkan laptopnya sembari bersuara.
" Kalau ingin bicara, bicara saja jangan hiraukan aku yang ada di sini, anggaplah aku nyamuk yang berterbangan ke sana kemari, hehehe." kekehnya sembari menatap ke arah layar laptop yang sudah menyala tersebut.
Ramon dan Icha pun tersenyum.
" Kamu pulang jam berapa nanti.?" tanya Ramon memulai pembicaraannya pada Icha.
" Jam 04.00 sore."
"Sendiri ..."
" Tidak ada teman yang ikut denganmu?"
" Tdak ada."
__ADS_1
" Kalau begitu aku ikut kamu ya."
" Ikut saya?"
" Iya kenapa?"
" Tapi saya menggunakan motor."
" Ya nggak apa-apa, kita bisa nikmati jalanan dengan romantis."
" Apa Pak?"
" Nggak usah kamu panggil aku Bapak, aku kan masih muda, Aku tidak ingin tua lebih cepat hehehe..." ucapnya sembari terkekeh, Icha pun ikut terkekeh, kekakuan di antara mereka itu pun sudah hilang, Kenzo pun hanya bisa melirik mereka berdua sembari bergumam di dalam hatinya.
" Akhirnya Ramon pun bisa berkenalan dengan wanita yang memang disukainya, terus aku kapan bisa mengajak Puja lebih dekat lagi." Gumamnya sembari menyandarkan kembali tubuhnya di sandaran kursi kerjanya itu dan menengadahkan kepalanya menatap langit-langit ruangannya itu.
__ADS_1
" Aku tidak ingin mendekati Puja terlebih dahulu sebelum aku mengetahui apa yang terjadi dengannya, hari ini aku akan berbicara dengan Icha dan aku harus mengorek keterangan semuanya, kenapa Puja jadi bisa bersikap seperti itu padaku saat di restoran itu, seperti ada yang disembunyikannya." ucapnya sembari menghela nafasnya dengan panjang dan dia pun tidak menyadari kalau Ramon sudah berada duduk di hadapannya, saat dia membenarkan posisi duduknya dia terkejut karena Ramon tersenyum dengan lebar di hadapannya itu.