
Sudah tiga hari Rara di rawat di rumah sakit, siang ini dia sudah boleh pulang. Selama di rumah sakit, teman-temannya datang membesuk. Jasmine, Lyan dan Emma juga ikut menginap. Bryan juga membesuknya walau hanya sebentar.
Rara merindukan kasur empuk di apartemennya. Dia sudah tidak betah meskipun ruangan tempat dia dirawat sangat bagus, seperti apartemen saja. Dia tidak bisa membayangkan berapa banyak uang yang harus dia keluarkan kalau dia harus membayar biaya perawatan ini sendiri. Bisa-bisa gajinya bekerja selama ini langsung habis begitu saja, meskipun gaji yang dia dapatkan memang cukup besar jika dirupiahkan.
Jam sebelas, Bryan datang untuk menjemput Rara. Rara semakin tidak enak hati. Kalau yang menjemputnya itu adalah teman-temannya yang lain, mungkin dia akan biasa-biasa saja. Tapi Bryan adalah tangan kanan bosnya, kedudukannya jauh di atas Rara hanya hanya karyawan magang di sana, yang sangat beruntung. Kalau karyawan lain tahu dia dijemput oleh Bryan, pasti mereka akan iri hati. Tapi bukan salahnya Rara juga kalau dia seberuntung ini, kan? Bukan dia juga yang meminta Bryan untuk menjemputnya.
“Tidak perlu repot-repot menjemputku, kamu pasti sibuk!”
“Tidak sibuk. Mr. Alvin sedang ke Italia.”
“Kamu tidak ikut?”
“Tidak. Aku harus bertemu beberapa klien di sini. Kamu sudah siap?”
“Sudah. Ayo kita pulang.”
Bryan membawakan barang-barang Rara. Tidak membutuhkan waktu lama, sepuluh menit kemudian Rara tiba di apartemennya.
“Ya sudah kamu istirahat saja. Sampai besok!”
“Tidak mau minum dulu?”
“Tidak usah, aku langsung pulang saja. Istirahatlah, jangan sampai sakit lagi.”
“Terima kasih, sampai besok!”
Rara menghubungi teman kuliahnya untuk menanyakan tugas-tugas. Teman-teman kampusnya juga membesuknya selama dia di rumah sakit. Sifatnya yang ramah dan berwajah cantik membuat dia disukai banyak orang. Meskipun ada juga yang iri padanya, namun dia tidak peduli. Selama di negara ini, Rara selalu berusaha membawa diri. Dia tidak mau sibuk memikirkan hal yang tidak penting. Yang dia pikirkan adalah masa depannya, bagaimana dia bisa membanggakan mamanya dan sahabat-sahabatnya yang selama ini selalu berada di sisinya.
☆☆☆
Rara menyambut pagi ini dengan semangat. Tiga hari berada di rumah sakit membuatnya sangat bosan.
Dia menyapa siapa pun orang-orang yang berada di loby kantor.
“Naya, ayo ikut saya!”
Rara sibuk mengetik dan tidak memperhatikan sekitarnya.
“Naya ... Naya!” ucap Alvin berkali-kali.
“Saya, Sir?”
“Iya kamu. Memangnya ada orang lain lagi? Nama kamu Naya, kan? Ayo ikut saya!”
Aku kan biasa dipanggil Rara, bukan Naya. Seenaknya saja. Dia juga memanggil Bryan dengan Bry. Suka-sukamu lah, Pak Bos! Rara mengikuti Alvin dari belakang, bosnya itu terlihat tergesa-gesa, jadi dia berusaha berjalan dengan cepat juga.
☆☆☆
“Vin, ayo temani aku ke mall!” ucap Nisya.
Wanita itu berwajah cantik dan berpakaian seksi. Rambutnya sebahu, dan menggunakan barang branded.
“Aku masih ada rapat.”
“Ya sudah, aku tungguin kamu rapat. Setelah itu kita baru ke mall.”
“Aku sibuk, Nis!”
“Sekali-sekali dong Vin.”
“Selama di sini, setiap hari kamu ke mall. Kamu enggak bosan, apa?”
“Tapi kamu tidak pernah temani aku pergi.”
“Sana kamu pergi sendiri!”
Alvin melangkahkan kakinya dengan cepat.
“Ayo, Vin!”
Nisya menarik lengan Alvin. Alvin lalu menghempaskannya dan membuat Nisya jatuh dengan tidak indahnya.
__ADS_1
Mengangkang!
Bertepatan dengan itu Rara lewat.
Rara antara mau ketawa tapi juga kasihan.
Itu cewek pakai celana pendek enggak, ya? Kalau tidak, pasti CD-nya kelihatan.
“Naya, segera ke ruangan saya!”
“Baik, Sir!”
“Alvin ... Alvin! Siapa dia?”
“Bukan urusanmu. Cepat pergi, jangan menyusahkanku!”
Kejam juga nih cowok. Eh, tapi tidak juga sih. Kan dia yang membawaku ke rumah sakit, bahkan sempat menungguiku sampai pagi.
Rara mengikuti Alvin ke ruangannya, merasa canggung juga dengan keadaan ini. Sebagai sesama perempuan, Rara bisa ikut merasakan rasa malu yang dirasakan oleh perempuan tadi.
“Lyan, apa Bryan sudah selesai rapat?”
“Belum, Sir!”
“Naya, apa perjanjian kerja sama sudah di revisi?”
“Sudah Sir, saya sudah meletakkannya di meja Anda, tinggal ditanda tangani oleh Anda!”
“Bagus. Kamu hubungi Mr. Raymond. Katakan padanya saya menyetujui kerja sama itu. Atur jadwal dengannya dan buat kontrak kerja sama itu!”
“Baik, Sir!”
“Oya satu lagi. Nanti kamu ikut rapat bersama saya dengan Mr. Ronald. Siapkan berkas-berkasnya. Kalau Bryan sudah selesai rapat, suruh dia ke hotel untuk bertemu dengan Leo!”
“Baik, Sir!”
Pantas saja dia membutuhkan dua asisten. Rasanya lelah sekali. Anggap saja aku sedang latihan untuk menjadi bos besar!
Sementara itu di lain tempat, Nisya mendengus kesal karena sikap Alvin. Bagaimana lagi caranya dia bisa mendekati Alvin. Dia sudah mendekati orang tua Alvin, namun tetap saja sia-sia.
Cantik
Seksi
Kaya
Masalahnya, dia tidak sadar diri kalau dia itu
Centil
Pemaksa
Sombong
Ngeselin
Manja
Matre
Bahkan kejelekannya masih lebih banyak lagi.
Nisya sudah mengenal Alvin selama lima tahun. Selama itu juga, Alvin selalu bersikap cuek.
Membuat Alvin cemburu?
Sudah.
Tapi bukannya cemburu, Alvin malah senang karena si pengganggu dekat dengan orang lain.
Membuat Alvin membutuhkan Nisya?
__ADS_1
Sudah.
Tapi bukannya Avin yang membutuhkan Nisya, justru Nisya yang selalu merecoki waktu Alvin.
Membuat Alvin merindukan Nisya?
Sudah.
Selama tiga bulan Nisya tidak bertemu ataupun menghubungi Alvin. Dan Alvin merasa udara di sekitarnya lebih sejuk dan berharap itu akan terus berlanjut.
Lalu apa lagi yang harus dilakukan?
Tidak ada.
Tunggu saja keajaiban akan datang!
Akhirnya Nisya memutuskan ke mall seorang diri sambil bergumam kesal.
☆☆☆
Hari Minggu. Hari di mana orang-orang memanjakan diri dengan bangun siang dan bermalas-malasan, begitu juga dengan Rara.
Rara membuat nasi goreng untuk makan siangnya, setelah tadi pagi makan roti dan salad. Nasi gorengnya dibuat sangat pedas. Sepertinya dia lupa kalau baru saja keluar dari rumah sakit, atau memang tidak ada kapoknya?
Nanti sore dia ingin berjalan-jalan ke taman sekitar apartemen. Tidak lama kemudian ponselnya berbunyi. Rara tersenyum saat melihat nama orang yang menghubunginya.
“Hai, Van!”
“Sombong bangat, Ra!”
“Maaf Van, akhir-akhir ini aku sibuk gara-gara tiga hari dirawat di rumah sakit.”
“Kamu sakit, kenapa tidak bilang?”
“Aku enggak mau bikin kalian khawatir. Tapi sekarang sudah sehat, kok. Jangan bilang-bilang mama, ya.”
“Jangan sampai sakit lagi, Ra. Di sana kan, kamu sendiri. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku dong, Ra!”
“Iya ... iya. Mama gimana, Van?”
“Alhamdulillah sehat. Mama khawatir kamu tidak menghubungi selama beberapa hari ini, yang lain juga begitu!”
“Iya, aku mau menghubungi kalian tapi waktunya enggak pas terus. Karena sakit, pekerjaan dan tugasku menumpuk.”
“Ya sudah. Pokoknya kamu jangan sampai kelelahan. Sudah dulu ya.”
“Oke. Salam buat mama dan yang lain!”
Lala lalu meletakkan ponselnya, dan mulai merapikan apartemennya. Gadis itu bernyanyi sambil mencuci piring. Setelah itu mengerjakan pekerjaannya yang lain. Untung saja sejak kecil dia sudah terbiasa membantu ibunya, jadi tidak terlalu berat saat dia harus hidup mandiri seperti ini. Yang dia khawatirkan justru mamanya, meski dia juga tahu ada sahabat-sahabatnya yang akan membantu mamanya jika terjadi sesuatu.
☆☆☆
Sore harinya Rara ke taman. Banyak orang yang menghabiskan waktu sorenya di taman ini. Rara melangkahkan kakinya sambil melihat sekitar. Angin sepoi-sepoi membaut suasana semakin terasa nyaman. Banyak yang datang ke taman ini, entah itu keluarga kecil, orang yang berkencan atau mungkin pasangan pengantin baru. Rara jadi tertawa sendiri saat membayangkan kalau dia ke taman ini bersama kekasihnya nanti. Hanya bayangan, karena pacar saja dia belum punya.
“Vin ... tunggu aku!”
“Jangan lelet kalau mau jalan sama aku!”
Alvin berjalan semakin cepat dan meninggalkan Nisya yang kesulitan menyeimbangi langkah Alvin karena high heelsnya. Membuatnya tertinggal jauh.
BRUGH ...
“Maaf!” kata Rara.
Dia mengangkat wajahnya dan melihat orang itu. Bosnya melihat Rara tanpa mengatakan apa pun.
“Alviiiinnnn ... kamu tega ninggalin aku!”
Rara dan Nisya saling memandang. Rara tersenyum pada Nisya. Tapi bagi Nisya, Rara sedang mengejeknya dan berdecak kesal.
“Saya permisi dulu.”
__ADS_1
Dengan sadar diri Rara meninggalkan dua manusia aneh itu.
Judes banget mukanya, ucap Rara dalam hati.